Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Menanam Pohon


__ADS_3

Tidak jauh dari kemah, terdapat banyak bibit pohon. Bibit itu disediakan untuk kegiatan penghijauan. Bibit pohon itu terdiri dari pohon Mahoni, Spatudea, Jambu mete, Ketapang Kencana, Nangka dan Pinang.


Pagi ini, semua anggota pramuka mengambil bibit pohon itu. Setiap anak membawa satu pohon.


"Kamu mau menanam pohon apa?" tanya Bella kepadaku.


"Aku mau menanam pohon Jambu Mete."


"Kenapa kamu mau menanam pohon Jambu Mete?"


"Karena aku suka buah Jambu Mete."


"Apa sih enaknya Jambu Mete? Aku pernah makan Jambu Mete. Rasanya nggak begitu manis dan sepet."


"Kamu benar. Jambu mete memang kurang enak kalau dimakan secara langsung. Tapi, kalau dibuat sayur, rasanya sangat enak," jelasku.


"Hah?! Memangnya Jambu Mete bisa disayur?" Mata Bella membulat.


"Bisa. Caranya buah Jambu Mete disuir-suir, kemudian diremas-remas untuk mengeluarkan kandungan airnya. Seteleh diremas-remas, suiran Jambu Mete dijemur hingga agak kering. Setelah agak kering, Jambu Mete siap disayur tumis."


"Apa cuma bisa disayur tumis?"


"Aku nggak tau. Aku belum mencoba menyayur Jambu Mete dengan cara lain."


"Rasanya gimana?"


"Rasanya kenyal. Enak sekali."


Kami menuju tempat di kaki gunung. Di sini, kami mulai menanam pohon. Aku menggali lubang menggunakan ranting kayu. Setelah berhasil menggali lubang, aku menanam pohon Jambu mete ke lubang itu.


Setelah menanam pohon, kami kembali ke kemah. Aku melihat Radit berjalan ke arahku dan Bella. Kedua tangannya menenteng kantong plastik warna hitam dan putih.


"Lis, kamu suka Jambu mete, 'kan?" tanya Radit begitu berada di dekat kami.


"Ya. Kenapa?"

__ADS_1


"Nih, aku bawakan kamu buah Jambu Mete?" kata Radit seraya memperlihatkan Jambu mete di dalam kantong plastik berwarna putih.


"Wah, banyak sekali."


Radit tersenyum bangga.


"Kamu dapat Jambu Mete dari mana?" tanya Bella.


"Kemarin sore aku ke rumah pamanku. Di pekarangan rumah pamanku ada pohon Jambu Mete," seraya memberikan Jambu itu kepadaku.


"Aku juga membawakan biji Jambu Mete," kata Radit seraya memberikan kantong plastik satunya.


"Biji jambu mete? Untuk apa?" tanya Bella.


"Biji jambu mete itu enak sekali. Apa lagi kalau dibakar, rasanya akan semakin enak. Kujamin, kamu pasti ketagihan setelah makan biji bakar Jambu Mete," jawab Radit.


"Makasih, ya." kataku.


"Ya," kata Radit seraya berlalu.


"Aku nggak nyangka kalau Jambu Mete bisa seenak ini dibuat sayur," kata Bella yang diiyakan oleh yang lain.


Setelah makan siang tidak ada kegiatan. Aku dan Bella mengumpulkan ranting-ranting kering. Setelah kami mendapatkan cukup ranting kering, aku menyalakan api. Api menyala membakar ranting-ranting kering itu. Aku melempar satu persatu biji Jambu Mete ke dalam api.


Terdengar letupan-letupan ketika biji-biji Jambu Mete itu dibakar. Bahkan biji-biji itu menyemburkan api.


"Eh, kenapa bisa meletus?" tanya Bella.


"Karena kulit biji Jambu Mete mengandung minyak. Minyak itulah yang membaut biji Jambu Mete meletup ketika dibakar. Kamu jangan sampai terkena minyak biji Jambu Mete."


"Kenapa?"


"Minyak biji Jambu Mete akan membuat kulit menjadi melepuh jika terkena kulit," jelasku.


Beberapa menit kemudian, kami telah selesai membakar biji Jambu Mete. Biji Jambu Mete itu menjadi berwarna hitam seperti arang dengan asap yang masih mengepul.

__ADS_1


"Lis, kamu rerlalu lama membakarnya. Lihat, biji-bijinya gosong semua," protes Bella.


Aku tertawa geli.


"Biji-biji itu memang harus dibakar sampai gosong agar mudah mengupasnya. Yang gosong hanya kulit luarnya."


Aku mengambil batu. Dengan menggunakan batu, aku memukul biji-biji Jambu Mete hingga pecah. Dengan cara ini, mengupas biji-biji Jambu Mete menjadi lebih mudah.


Aku memberikan satu biji Jambu Mete kepada Bella. Bella memakan biji itu.


"Wah, rasanya enak sekali," kata Bella.


Aku dan Bella duduk di bawah pohon sambil memakan biji Jambu Mete.


Hari telah sore. Kegiatan sore ini adalah membakar singkong untuk camilan. Anak-anak pramuka segera menuju kebun singkong yang berada tidak jauh dari kemah. Panitia telah membeli sebagian tanaman singkong itu sehingga anak-anak pramuka bisa dengan leluasa mencabut batang singkong.


Aku berusaha mencabut batang singkong. Namun, aku tidak berhasil. Tenagaku tidak cukup kuat untuk mencabut batang singkong. Aku baru saja ingin meminta bantuan Bella. Namun, Andika mendekatiku.


"Perlu bantuan?" tanya Andika yang membuatku salah tingkah.


"Boleh," jawabku tersipu.


Jantungku seakan berhenti berdetak begitu melihat laki-laki yang kukagumi berada didekatku. Andika berhasil mencabut pohon singkong. Batang singkong itu memiliki beberapa buah umbi sebesar lengan. Andika memetik umbi-umbi itu. Aku segera memasukkan umbi-umbi itu ke dalam ember.


"Kalau kamu perlu bantuan, panggil saja aku, ya."


"Iya. Terima kasih," jawabku. Wajahku sudah memerah karena malu.


Andika berlalu pergi. Aku memandang punggung Andika hingga terdengar suara yang membuatku terkejut.


"Cie...! Cie...! Lisa dibantuin sama Andika," goda Yanti.


Aku hanya tersenyum menahan malu.


"Mungkin dia naksir sama kamu," kata Bella.

__ADS_1


"Dia cuma mau mbantu aku, nggak lebih," jawabku.


__ADS_2