
Sinta tersipu mendengar ucapan Dando. Ia tahu apa yang dimaksud Dando lebih dari teman. Ia tahu bahwa Dando ingin menjadi pacarnya. Tapi, untuk saat ini, ia belum siap berpacaran. Ia ingin fokus mengejar impiannya dulu.
"Dando, pulang sekolah nanti datang ke rumah kakak, ya. Kakak akan memasak untukmu sebagai ungkapan rasa terimakasih kakak karena kamu sudah membantu kakak," kata Sinta.
"Iya. Nanti Dando akan ke rumah kakak."
Setelah pulang sekolah, Dando ke rumah Sinta.
Sinta mengajak Dando ke ruang makan untuk makan siang.
"Wah, masakan Kak Sinta enak sekali," puji Dando.
"Masa?"
"Iya. Kak Sinta bisa memasak opor ayam seenak ini belajar dari mana?"
"Belajar dari mama."
"Dan, apakah aku bisa menjadi pelukis?"
"Kenapa Kak Sinta membicarakan hal itu lagi?"
"Aku tidak yakin kalau aku bisa menjadi pelukis."
"Kenapa tidak yakin?"
"Aku tidak memiliki bakat melukis. Aku sudah berusaha melukis sebagus mungkin. Namun, aku masih tidak bisa melukis dengan baik."
"Kak Sinta tidak boleh putus asa. Dando akan mengajari Kak Sinta sampai berhasil menjadi pelukis."
"Apakah kamu tidak bosan mengajari kakak?"
"Dando tidak akan pernah bosan."
"Bagaimana jika seumur hidup kakak tidak berhasil?"
"Dando akan mengajari kakak seumur hidup."
"Terimakasih, Dando. Kamu akan selalu menjadai teman terbaikku," kata Sinta.
'Teman?' batin Dando. 'Kenapa lagi-lagi aku hanya dianggap teman? Apakah aku tidak layak menjadi pacarnya?' Dando bertanya-tanya di dalam hati.
'Jika hanya dianggap teman, aku lebih baik berpisah dengannya. Semua pengorbananku akan sia-sia jika pada akhirnya ia menjadi miliik orang lain,' batin Dando lagi. 'Tapi, aku tidak boleh menyerah begitu saja. Selama Sinta masih sendiri, aku masih memiliki kesempatan untuk memilikinya.'
Keesokan harinya, Indra dan Dando sedang menunggu kedatangan Sinta di ruangan Indra.Hari ini mereka akan kembali mengajari Sinta melukis.
"Kita sudah menunggu selama lima belas menit, tapi Sinta belum datang juga. Tidak bisanya dia telat," kata Dando.
"Iya. Apakah dia tidak mau belajar lagi?" tanya Indra.
"Bisa jadi. Aku akan medatanginya jika lima menit lagi ia tidak datang."
Tidak lama kemudian, Sinta datang.
"Maaf, aku terlambat. Aku tadi ke toilet dulu."
"Sinta, siswa kesenian akan bertamasya ke tempat wisata. Kalau kamu mau, kamu boleh ikut," kata Indra.
"Aku mau ikut," kata Sinta senang.
__ADS_1
"Tapi, waktunya lama. Waktunya setengah bulan," timpal Dando.
"Setengah bulan? Lama sekali. Kukira hanya satu hari."
"Memangnya kenapa kalau lama?" tanya Indra.
"Orang tuaku pasti tidak mengijinkan aku bertamasya dengan siswa kesenian."
"Kakak katakan saja kalau Kak Sinta tinggal di rumahku untuk menemaniku karena orang tuaku sedang ke luar negeri," saran Dando.
"Iya. Kakak akan katakan seperti itu nanti. Dando, kamu pintar sekali," kata Sinta.
Dua hari kemudian, ketika jam istirahat akan segera habis, Sinta dan Dando berjalan menuju ke kelas mereka. Tiba-tiba ada seorang siswa manggil Sinta.
"Sinta, kamu dipanggil wali kelas," ujar siswa itu.
"Iya. Aku segera ke sana," kata Sinta.
"Dando, kak Sinta ke ruang wali kelas dulu," pamit Sinta.
"Iya."
Ada apa wali kelas memanggilku? tanya Sinta dalam hati.
Sesampainya di depan ruang wali kelas, Sinta mengetuk pintu, lalu ia masuk.
"Sinta, ibu mendengar kamu akan ikut rekreasi?"
"Betul, Bu."
"Sebaiknya kamu tidak ikut rekreasi karena itu akan mengganggu belajarmu."
"Apakah orang tuamu sudah mengetahui hal ini?"
"Belum."
"Sudah ibu duga. Kamu pasti tidak akan memberitahu orang tuamu, karena orang tuamu pasti tidak akan mengijinkan kamu pergi bertamasya. Kalau begitu, ibu yang akan meberitahu orang tuamu."
"Tolong jangan beritahu orang tua saya. Saya benar-benar ingin ikut bertamasya."
"Kamu adalah siswi IPA. Untuk apa ikut tamasya siswa seni?"
"Sebenarnya saya lebih suka menjadi pelukis."
"Sebagai seorang anak yang baik, seharusnya kamu mengikuti keinginan orang tuamu, bukan mengikuti egomu. Kalau kamu tetap bersikeras ikut tamasya, ibu akan mengatakan kepada orang tuamu. Sekarang, kembalilah ke kelas."
"Bu, saya mohon. Jangan beritahu orang tuaku," kata Sinta dengan suara memelas.
"Maaf, ibu tidak bisa memenuhi permintaanmu."
Tiba-tiba Dando masuk ke dalam ruang wali kelas.
"Permisi, Bu. Sinta, ayo ikut Dando," kata Dando seraya menarik tangan Sinta.
"Tunggu! Siapa kamu? Kenapa kamu mencampuri urusan kami?"
"Dando sahabatnya," jawab Dando.
"Sahabat? Sahabat tapi mesra, ya? Kamu pasti pacarnya," tebak Bu Fani.
__ADS_1
"Ayo, Kak." Dando kembali menarik tangan Sinta.
"Hey, tunggu! Ibu belum selesai berbicara!" teriak Bu Fani, wali kelas Sinta.
Dando tidak mempedulikan teriakan Bu Fani. Ia terus menarik tangan Sinta.
"Ibu akan melaporkan hubungan kalian kepada orang tua Sinta," ancam Bu Fani.
"Dando, berhenti!" teriak Sinta.
Dando menghentikan langkahnya.
"Kita harus kembali ke ruangan Bu Fani. Kita harus menjelaskan kepada Bu Fani kalau kita tidak pacaran."
"Tidak perlu. Itu tidak penting," tolak Dando.
"Kalau sampai orang tuaku mengira kita pacaran, kita tidak akan bisa bertemu lagi," kata Sinta sambil menangis.
Dando memeluk Sinta.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Serahkan padaku. Aku akan mencari cara agar kita bisa keluar dari masalah ini. Ayo kita ke kantin. Kamu pasti lapar, 'kan?"
"Iya. Aku lapar."
Mereka pergi ke kantin untuk mengisi perut yang lapar.
"Kak Sinta mau pesan apa?" tanya Dando.
"Kakak mau pesan bakso."
Dando segera memesan bakso dua mangkuk.
"Kak Sinta jangan khawatir. Nanti Dando akan temani kakak pulang."
"Iya."
Sepulang sekolah, Dando menemani Sinta pulang ke rumahnya. Mereka pulang naik taksi online.
Dalam perjalanan, Sinta termenung mengenang kejadian yang baru ia alami pada saat jam istirahat tadi. Sinta merasa bahwa sikap Dando kepada dirinya melibihi sikap seorang sahabat. Selama ini Dando selalu membantunya. Bahkan ia juga memeluknya ketika ia sedang sedih.
'Apakah Dando suka padaku?' tanya Sinta dalam hati. 'Jika ia suka padaku, apa yang harus kulakukan?
Sinta khawatir Dando akan menembaknya. Jika itu terjadi, Sinta tidak tahu apakah harus menerimanya atau menolaknya. Jika ia menerima cinta Dando, ia khawatir itu akan menggangu belajarnya. Ia tidak ingin gagal meraih cita-cita hanya karena seorang laki-laki.
Tapi, jika ia menolak, ia takut itu akan melukai perasaan Dando. Ia tidak ingin melukai orang yang selama ini telah membantunya.
"Kak Sinta sedang memikirkan apa?" tanya Dando ketika dilihatnya Sinta hanaya terdiam.
"Kakak tidak memikirkan apa-apa," bohong Sinta.
Sesampainya di rumah Sinta, Sinta dan Dando bertemu dengan orang tua Sinta.
"Selamat siang, Om," sapa Dando.
"Siang," jawab papa Dando.
"Sinta, papa telah mendapatkan laporan kalau kamu sedang berpacaran dengan sesorang. Apakah itu benar?" tanya papa Dando.
"Itu tidak benar, Pa."
__ADS_1