Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Pindah


__ADS_3

"Sinta, bangun. Sudah siang," kata Arni, mama Sinta, sambil menarik selimut Sinta.


"Sebentar, Ma, masih mengantuk."


"Kamu sekolah, tidak? Itu teman kamu sudah menunggumu."


"Teman? Siapa?"


"Dando."


Mata Sinta langsung melebar.


"Siapa, Ma?" Sinta mengulangi pertanyaannya untuk memastikan ucapan mamanya.


"Dando."


"Dando?" Sinta terkejut.


"Iya. Dia sudah menunggumu dari tadi."


Sinta melempar selimutnya ke sembarang arah. Ia segera pergi ke ruang tamu. Ia melihat Dando sedang duduk di ruang tamu.


"Hai, Kak Sinta," sapa Dando begitu melihat Sinta.


"Dando, sedang apa kamu di sini?" tanya Sinta.


"Dando sedang menunggu Kakak. Dando mau berangkat sekolah bareng dengan Kak Sinta."


"Dari mana kamu tahu alamat rumahku?" tanya Sinta.


"Dando tahu alamat rumah Kakak karena Dando sekarang tinggal di samping rumah Kakak," jawab Dando.


"Jadi, kamu sekarang pindah ke rumah sebelah?"


"Iya, Kak. Kakak kok kucel? Kakak belum mandi, ya?"


"Oh, iya. Kakak belum mandi." Muka Sinta memerah. Ia berlari ke kamar mandi.


'Memalukan sekali,' batin Sinta. 'Aku pasti terlihat jelek tadi.'


Setelah mandi dan sarapan, Sinta segera berangkat ke sekolah.


"Dando, ayo berangkat," ajak Sinta.


"Iya, Kak."


Ternyata Dando membawa motor sendiri. Tadinya Sinta berpikir Dando akan membonceng dia karena Dando tidak bisa naik motor.


"Dan, sejak kapan kamu bisa naik motor?" tanya Sinta.


"Sejak dua hari yang lalu. Kakak membonceng Dando saja, ya?"


"Memangnya kamu sudah bisa membonceng orang?" tanya Sinta khawatir.


"Kak Sinta tenang saja. Kemarin Dando sudah bisa membonceng Dita."


Deg. Jantung Sinta berdebar.


"Membonceng Dita? Ada hubungan apa kamu dengan Dita?"


"Dia sepupuku."


"Oh, syukurlah." Sinta menghembuskan nafas lega.


"Mengapa, Kak?"


"Maksud kakak syukurlah kalau kamu sudah bisa membonceng seseorang," kilah Sinta. Pipinya menjadi merah karena malu.


Dando menyalakan mesin motor maticknya. Sinta duduk di belakang.


Di perjalanan, Sinta baru menyadari bahwa motor Dando sama persis dengan motornya.


"Dan, motor kamu sama dengan motor kakak, ya," kata Dinda.


"Hehe.. Iya, Kak." Wajah Dando merona karena malu.

__ADS_1


"Mengapa kamu membeli motor seperti motor kakak?"


"Karena Dando suka kepada kakak."


"Apa?" Sinta terkejut.


"Maksud Dando, Dando suka motor seperti motor Kakak," ralat Dando.


"Oooh..."


Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di sekolah. Mereka segera menuju ke kelas mereka masing-masing.


"Bruukk...!" Seorang laki-laki menabrak Sinta.


"Auuw...!" Sinta terjatuh.


Laki-laki itu segera membantu Sinta berdiri.


"Maaf aku tidak sengaja," kata laki-laki itu. "Kamu tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa."


Laki-laki itu segera berlalu. Laki-laki itu adalah dewa Heras yang menyamar sebagai Indra. Ia siswa jurusan seni rupa. Ia sangat terkenal di sekolahnya sejak ia memenangkan lomba melukis tingkat provinsi antar pelajar. Selain pandai melukis, Indra juga disukai oleh semua siswi karena ketampanannya tak terkecuali Sinta.


Pada jam istirahat, Sinta pergi ke lahan kosong di belakang sekolah untuk belajar menggambar. Ia duduk di bawah pohon akasia tanpa alas. Ia tidak takut roknya menjadi kotor terkena tanah.



Tiba-tiba Indra datang mendekatinya.


"Udara di sini sejuk, ya," kata Indra berbasa basi.


"Iya."


"Kamu suka duduk di sini, ya?" tanya Indra.


"Iya. Aku duduk di sini untuk belajar menggambar."


"Belajar menggambar?"


"Ooo.. Bagaimana kalau besok pada jam istirahat, kamu ke kelasku? Aku akan mengajarimu menggambar."


"Benarkah?"


"Iya, benar."


"Terimakasih, ya, In."


Tidak jauh dari mereka, Dando melihat mereka dengan tatapan curiga.


'Mengapa cowok buaya itu mendekati Sinta?' tanyanya dalam hati.


Dando berjalan menghampiri mereka.


"Siapa dia, Kak?" tanya Dando kepada Sinta dengan tatapan tidak suka.


Sebenarnya Dando sudah mengenal Indra. Namun, di hadapan Sinta, Dando berpura-pura tidak mengenal Indra, karena ia tidak ingin sandiwaranya terbongkar.


"Dia Indra, siswa jurusan seni," jawab Sinta.


"Kak, kita ke kantin, yuk," ajak Dando.


"Yuk. In, mau ikut ke kantin?" tanya Sinta.


"Tidak. Aku mau melihat sarang burung."


"Oo."


Sinta dan Dando pergi ke kantin. Sedangkan Indra memanjat pohon akasia untuk melihat sarang burung kutilang. Beberapa hari yang lalu, Indra melihat ada dua buah telur di dalam sarang itu. Sudah dua minggu Indra tidak melihat sarang itu. Mungkin sekarang sudah menetas. Benar saja. Kedua telur itu sudah menetas.


Kedua anak burung itu terlihat lucu. Sepertinya kedua anak burung itu baru menetas karena belum ada sehelai bulupun yang tumbuh di tubuh anak-anak burung itu.


Keesokan harinya di jam istirahat, Sinta datang ke kelas Indra. Setibanya di kelas Indra, Sinta melihat Indra sedang bermain Hp.


"Permisi," kata Sinta.

__ADS_1


"Masuk, Sin," kata Indra.


Indra menutup Hpnya dan memasukkannya ke dalam saku celananya.


"Sin, kamu tunggu di sini dulu, ya. Aku mau ke toilet dulu," kata Indra.


"Iya."


Sinta sangat mengagumi kelas Indra. 'Alangkah bahagianya jika aku menjadi salah satu dari siswa di kelas ini,' batin Sinta.


'Seandainya orang tuaku mengijinkanku bersekolah di sini, aku pasti sangat bangga.'


Sinta melihat sebuah lukisan bunga. Di pojok kiri lukisan itu, tertera nama pelukisnya, Indra Jatmiko.


'Ini lukisan Indra? Pemakaian warnanya sangat bagus,' batin Sinta.


"Sinta, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Wina.


Sinta terkejut.


"Aku sedang melihat-lihat lukisan Indra," jawab Sinta.


"Kamu tidak sedang mendekati Indra, 'kan?"


"Maksudmu?"


"Indra itu pacarku. Jadi, kuminta kamu jauhi dia."


"Aku ke sini bukan untuk merebut pacarmu. Aku ke sini untuk belajar melukis."


"Kalau tujuanmu ke sini untuk belajar melukis, mengapa tidak belajar melukis kepada yang lain saja?"


"Karena hanya Indra yang mau mengajariku."


"Kalau begitu, mengapa kamu tidak masuk ke kelas seni saja?"


Sinta terdiam. Ia tidak mungkin menjelsakan alasannya mengapa ia tidak bisa masuk ke kelas seni. Jika ia mengatakan alasannya bahwa ia tidak bisa masuk ke kelas seni karena tidak diijinkan oleh orang tuanya, Wina pasti akan melaporkan dirinya kepada orang tuannya bahwa ia sedang belajar menggambar kepada seorang siswa.


"Kamu tidak bisa menjawab pertanyaanku. Itu artinya kamu memang mau merebut pacarku," kata Wina.


"Kamu sudah bukan pacarku!"


Wina terkejut. Ia melihat Indra tiba-tiba berada di belakangnya.


"Jadi, karena cewek ini, kamu melupakanku?" tuduh Wina.


"Kamu jangan berbicara sembarangan. Aku kenal dia baru dua hari."


"In, beri aku kesempatan sekali lagi," kata Wina seraya memegang lengan Indra.


Indra melepas pegangan tangan Wina.


"Aku sudah tidak cinta kepadamu."


"In, kumohon. Beri aku kesempatan sekali lagi. Aku berjanji, aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi."


"Kesalahanmu sangat fatal. Aku tidak bisa memaafkan kesalahanmu."


"In, kumohoan," bujuk Wina. Ia kembali memegang lengan Indra.


Indra kembali melepaskan pegangan tangan Wina.


"Sin, ayo kita pergi dari sini," kata Indra seraya menarik tangan Sinta.


Indra membawa Sinta masuk ke sebuah ruangan.


"Di sini kita aman," kata Indra.


"Jadi, kamu dulu pernah berpacaran dengan Wina?"


"Iya."


"Mengapa kalian putus?"


"Dia yang memutus cintaku. Dia menyukai cowok lain. Ternyata cowok yang dia suka adalah cowok hidung belang. Setelah dia tahu bahwa pacarnya memiliki pacar lebih dari satu, dia mau kembali kepadaku."

__ADS_1


__ADS_2