Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Pengagum Rahasia


__ADS_3

Teng tong...!


Bel istirahat telah berbunyi. Lisa segera beranjak dari tempat duduknya. Ia pergi ke kantin untuk mengisi perut. Semangkuk bakso sudah cukup membuat perutnya kenyang. Setelah makan bakso, Lisa berjalan menuju ke perpustakaan. Ia akan meminjam buku roman kesukaannya. Ketika ia sedang berjalan di koridor, ia melihat Reny sedang berjalan ke arah yang berlawanan.


"Mau ke mana, Ren?" tanya Lisa.


"Mau ke lapangan basket. Mau ikut?" tawar Reny.


"Boleh."


Mereka berjalan beriringan menuju lapangan basket. Di lapangan basket, mereka melihat seorang laki-laki sedang bermain basket. Seperti biasa, darah Lisa berdesir begitu melihat laki-laki tampan itu. Sudah tiga tahun Lisa secara diam-diam menyukai laki-laki itu. Namun, ia selalu menyembunyikan perasaannya. Berbeda dengan Reny, ia secara terang-terangan menunjukkan kepada teman-temannya bahwa ia menyukai laki-laki itu. Seperti yang ia sedang lakukan saat ini. Ia tampak sedang berusaha menarik perhatian laki-laki itu. Laki-laki itu bernama Dimas. Ia adalah kapten basket di sekolahnya.


"Ayo Dimas, semangat!" teriak Reny mencoba menarik perhatian Dimas.


Sementara itu, Lisa hanya duduk di podium mengamati setiap gerakan yang dibuat oleh Dimas.


"Sampai kapan kamu hanya menjadi pengagum rahasianya?" tiba-tiba terdengar suara seorang gadis yang membuat Lisa terperanjat. Gadis itu bernama Ayu, teman sekelas Lisa. Hanya Ayu satu-satunya teman Lisa yang mengetahui bahwa Lisa menyukai Dimas.

__ADS_1


"Eh, kamu bikin jantungku mau copot aja!" kata Lisa.


"Makanya kalau suka itu segera ditembak aja sebelum keduluan orang lain. Kalau sudah keduluan orang lain, kamu nggak bakal punya kesempatan untuk memiliki dia," cerocos Ayu.


"Aku mau mundur aja."


"Mundur? Haaa... haaa... kamu ini lucu, maju aja belum sudah mau mundur."


"Dari pada maju malah hancur, lebih baik mundur taratur," kilah Lisa.


"Kenapa kamu tiba-tiba mau mundur? kamu rela Dimas menjadi milik orang lain?"


"Yang kamu katakan itu benar. Tapi, kamu harus memastikan kalau Dimas memang nggak suka sama kamu."


Lisa tahu maksud perkataan Ayu. Ia ingin menyarankan agar Lisa menembak Dimas untuk mengetahui jawaban Dimas secara pasti, bukan hanya berdasarkan perkiraan dan keyakinan semata.


"Sebenarnya aku ingin mengungkapkan isi hatiku kepada Dimas. Tapi, sepertinya dia menyukai gadis lain," kata Lisa kemudian.

__ADS_1


"Maksudmu Reny?"


"Ya."


"Ya, itu karena kamu nggak segera nembak dia. Ingat, Lis. Di dunia yang penuh dengan persaingan ini, siapa cepat, dia dapat. Tapi, kamu masih belum terlambat. Kamu masih bisa merebut hati Dimas karena Reny belum menjadi pacar Dimas."


"Aku nggak enak sama Reny. Reny pasti akan membenciku kalau aku nembak Dimas dan Dimas menerima cintaku."


"Itulah kelemahanmu. Kamu selalu memikirkan perasaan orang lain tanpa memikirkan perasaanmu sendiri."


"Ya. Tapi, aku nggak seperti Reny. Sebagai perempuan, aku malu kalau aku yang nembak."


"Memang pada umumnya cowok yang nembak cewek. Tapi, nggak ada salahnya juga kalau cewek duluan yang nembak. Karena ada juga cowok yang justru malah senang kalau ada cewek yang nembak duluan."


"Nggak apa-apa, Yu. Di dunia ini, kumbang nggak cuma seekor. Masih banyak kumbang-kumbang yang lain."


"Beneran kamu nggak bakal nyesel?"

__ADS_1


"Iya."


"Ya udah. Kalau gitu, ayo kita ke kelas. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi," ajak Ayu.


__ADS_2