
"Di mana kegiatan pramukanya?" tanya papa.
"Di desa Mekarsari," jawabku.
"Bagus. Papa suka kamu mengikuti kegiatan pramuka," ujar papa.
"Tapi, pada awalnya Lisa sempat menolak, Pa."
"Kenapa?" mama yang bertanya.
"Karena Lisa ingin fokus belajar untuk menghadapi UN."
"Terus kenapa kamu akhirnya memutuskan untuk ikut?" tanya papa.
"Karena kata pak Fikry, Lisa akan mendapatkan pengalaman berharga jika Lisa ikut pramuka."
"Itu betul. Meski melelahkan, kamu harus ikut kegiatan pramuka karena itu akan menjadi nilai tambah untuk dirimu dan juga untuk melatih dirimu untuk bekerja keras. Ketika kamu sudah kuliah, di kampus juga ada organisasi kemahasiswaan. Papa sarankan kamu nanti sebaiknya bergabung dengan organisasi kemahasiswaan ketika kamu sudah kuliah. Tujuannya agar kamu memiliki nilai tambah sehingga kamu bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah," jelas papa panjang lebar.
Aku mengiakan penjelasan papa. Selesai sarapan, aku segera berangkat. Karena terlalu lama mengobrol dengan papa, aku hampir terlambat ke sekolah. Aku berjalan di koridor sekolah setengah berlari seolah sedang berlomba dengan waktu.
"Bruuukk...!" tiba-tiba tubuhku membentur sesuatu. Aku terpental. Sebelum tubuhku jatuh menyentuh lantai, seseorang menangkap tubuhku. Orang itu ternyata Adrian. Mata kami saling bertatapan selama beberapa detik. Aku segera berdiri dengan perasaan canggung.
__ADS_1
"Maaf, aku nggak sengaja," kata laki-laki yang menabrakku dengan wajah penuh penyesalan.
"Iya. Nggak apa-apa," jawabku.
Laki laki itu segera berlalu pergi.
"Makasih, ya," kataku kepada Adrian.
"Ya."
Aku kembali berjalan karena aku tidak ingin terlambat. Namun, ucapan Adrian memaksaku untuk menghentikan langkahku.
"Lis, gimana? Apa kamu sudah siap memberikan jawaban?" tanya Adrian dengan penuh harap.
"Maaf, Yan. Aku nggak bisa menerimamu," jawabku.
Aku melihat wajah Adrian berubah menjadi sedih.
"Ya. Nggak apa-apa. Tapi, kita masih bisa berteman, 'kan?"
"Pasti."
__ADS_1
"Ya udah. Aku duluan, ya," kata Adrian.
"Ya."
Aku menarik nafas lega. Akhirnya beban di hatiku telah hilang. Aku kembali bergegas menuju kelasku. Aku terlambat sepuluh menit. Namun, aku beruntung karena bu Linda belum masuk kelas. Seandainya bu Linda sudah berada di ruang kelas, aku pasti akan disuruh berdiri di depan kelas sebagai hukumannya. Dan itu memang hukuman yang setimpal bagi murid yang terlambat.
Baru beberapa detik aku mendaratkan pantat di kursiku, bu Linda masuk ke kelas. Pelajaranpun dimulai.
"Lis, kamu segera ke ruangan ibu, ya?" kata bu Linda ketika pelajaran Sejarah telah selesai.
Aku terkejut. Mengapa bu Linda menyuruhku ke ruangannya? Apakah aku melakukan kesalahan? Atau keterlambatanku masuk sekolah diketahui oleh bu Linda? Aku bertanya-tanya dalam hati.
"Tumben bu Linda menyuruhmu ke ruangannya?" kata Bella
"Iya. Aku jadi cemas. Apa aku punya kesalahan, ya?"
"Kamu nggak usah takut, Lis. Seandainya kamu punya kesalahan, hukumannya paling cuma disuruh membersihkan toilet dan menyapu halaman" hibur Bella.
"Hukumannya sih ringan. Tapi, malaunya itu, lho. Anak-anak laki-laki pasti akan berkata dalam hati, "Cantik-cantik kok menyapu?"
"Anggap saja itu sebagai latihan untuk menghadapi kenyataan hidup, karena hidup ini nggak selalu sesuai dengan harapan."
__ADS_1
"Ya udah. Aku akan segera ke ruangannya bu Linda," kataku, lalu beranjak dari tempat duduku. Sejurus kemudian, Bella mengikutiku dengan tujuan yang berbeda, kantin sekolah.