
Teng tong...!
Bel istirahat telah berbunyi. Aku segera mengemasi buku-buku di atas meja.
"Lis, ke kantin, yuk," ajak Bella.
"Aku mau ke perpustakaan."
"Ooo Ya udah," ujarnya, lalu beranjak dari tempat duduknya.
Aku berjalan menuju perpustakaan. Sesampainya di perpustakaan, aku segera melihat-lihat buku. Aku mengambil sebuah buku dan mulai membacanya. Akhir-akhir ini aku sering mengunjungi perpustakaan. Beberapa bulan lagi akan ada ujian nasional. Jadi, aku harus mempersiapkan diri jauh-jauh hari agar aku bisa lulus dengan nilai yang bagus. Aku harus mendapatkan nilai yang bagus agar aku bisa diterima di universitas ternama.
"Serius amat. Lagi baca buku apa, nona cantik?" tiba-tiba sebuah suara laki-laki mengagetkanku.
Seorang laki-laki berparas tampan sedang duduk di depanku. Laki-laki itu bernama Andi.
"Lagi baca buku sejarah," jawabku.
"Lis, aku mau ngomong sesuatu."
"Mau ngomong apa?"
"Aku mau ngomong kalau kamu dipanggil pak Rendy."
"Kirain mau ngomong apa."
"Hee... he... Kamu pasti mengira aku mau nembak kamu, 'kan?"
"GR. Siapa juga yang mau sama kamu," sungutku sambil menutup buku.
"Banyak yang mau sama aku."
__ADS_1
"Kalau banyak, kenapa kamu nggak punya pacar?"
"Karena aku belum siap pacaran."
"Alasan," ujarku, lalu beranjak dari tempat dudukku.
Setelah mengembalikan buku di rak buku, aku segera ke ruangannya pak Rendy.
Aku sudah tiba di depan ruangannnya pak Rendy. Aku mengetuk pintu.
"Masuk." Terdengar suara berat dari dalam ruangan. Aku membuka pintu dan berjalan masuk.
"Silahkan duduk," kata pak Rendy sambil menunjuk kursi di depan mejanya.
Aku duduk di kursi.
"Begini, bulan depan sekolah kita akan mengadakan kegiatan pramuka. Dan bapak minta kamu bersedia menjadi perwakilan dari kelasmu."
Pak Rendy mengangguk-angguk.
"Menurut bapak, sebaiknya kamu jangan melewatkan kesempatan ini karena dalam pramuka banyak kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan menantang," bujuk pak Rendy.
Aku terdiam mempertimbangkan saran pak Rendy. Kalau dipikir-pikir, ucapan pak Rendy ada benarnya juga. Apa lagi kesempatan seperti ini belum tentu bisa kujumpai lagi di masa yang akan datang.
"Baik, Pak. Saya ikut," ujarku akhirnya.
Aku masuk ke kelas. Di kelas, Bella sudah duduk dibangkunya.
"Lis, tadi kamu ke mana?" tanya Bella menyambut kedatanganku.
"Aku ke ruangannya pak Rendy."
__ADS_1
"Pantas aja kamu nggak ada di perpustakaan."
"Kamu tadi ke perpustakaan?"
"Iya."
"Ngapain?"
"Ya baca buku lah. Masak mencuci pakaian," sungut Bella.
"Maksudku tumben kamu ke perpustakaan. Kamu 'kan nggak pernah ke perpustakaan."
"Iya. Aku mau mengikuti langkahmu untuk belajar dengan giat. Aku nggak mau ketinggalan sama kamu."
"Nah, begitu, dong. Kalau mau mengejar cita-cita, kita harus belajar dengan giat."
"Ngomongin soal cita-cita, apa cita-citamu?" tanya Bella.
"Aku ingin menjadi guru bahasa Inggris."
"Hebat! Kamu pasti berhasil meraih cita-citamu karena kamu pandai bahasa Inggris."
"Kalau kamu, apa cita-citamu?" aku balik bertanya.
"Aku ingin menjadi perawat."
"Kamu nggak ingin mengikuti jejak orang tuamu?" tanyaku. Aku bertanya seperti itu karena orang tua Bella berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah SMP.
"Enggak. Aku lebih suka menjadi perawat karena sesuai dengan bakat dan minatku," jelas Bella.
"Ya bagus lah kalau begitu. Semoga kamu berhasil meraih cita-citamu," ucapku yang lansung diamini Bella.
__ADS_1