
"Apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?" tanya Herjules.
"Kami akan kembali ke planet asal kami," jawab alien itu.
"Semoga perjalananmu menyenangkan," kata Herjules, lalu berjalan keluar pesawat.
Herjules telah keluar dari hutan. Di tepi hutan, ia bertemu dengan Revu.
"Herjules, apakah kau berhasil membunuh Darcon?" tanya Revu.
"Tidak."
"Tidak?" tanya Revu tidak mengerti.
"Kami telah mengirimnya ke planet tak berpenghuni."
"Kami? Jadi, ada orang lain yang bersamamu?"
"Ya."
"Siapa?"
"Mereka mahluk asing dari planet Heria."
"Mahluk asing?"
Herjules menceritakan apa yang baru saja ia alami. Bahkan, ia harus menggambar tata surya di tanah agar Revu bisa memahami penjelasannya.
Hejules dan Revu berjalan menuju desa asal mereka. Setelah satu minggu perjalanan, mereka sampai di sebuah desa. Desa itu tampak sepi. Banyak rumah penduduk yang rusak dan terbakar.
"Apa yang terjadi dengan desa ini?" tanya Herjules.
"Sepertinya desa ini telah dihancurkan," kata Revu.
"Lihat, itu adalah bendera yang sama dengan bendera orang-orang yang telah menghancurkan desaku," kata Herjules.
"Aku tahu. Itu adalah bendera kerajaan Osarus."
"Kau bisa mengantarkanku ke sana?"
"Tentu saja. Apa keperluanmu datang ke sana?"
"Aku akan menyelamatkan anak dan isteriku," jawab Herjules.
Sebulan kemudian, mereka telah sampai di kerajaan Osarus.
"Revu, kau tunggu di sini, aku akan menyelinap ke dalam ruang tahanan," kata Herjules.
"Baiklah."
Bangunan penjara di kelilingi oleh tembok yang tinggi. Herjules terbang ke udara untuk naik ke atas tembok. Dari atas tembok, ia dapat melihat dua orang sedang berjaga di pintu masuk.
Herjules melompat dan mendarat di depan kedua penjaga itu.
Kedua penjaga itu terkejut.
"Siapa kamu?!" tanya penjaga dengan suara membentak.
"Buuugh...! Buuughh...!" Herjules menjawab pertanyaan penjaga itu dengan tendangan di kepala mereka.
Mereka langsung pingsan terkena tendangan Herjules.
Herjules segera masuk ke dalam ruang penjara. Ia berhasil menemukan isteri dan anaknya di balik jeruji besi.
Rewina, isteri Herjules terkejut begitu melihat Herjules.
"Herjules," kata Rewina.
__ADS_1
"Aku akan mengeluarkan kalian dari sini," kata Herjules.
Herjules melepas beberapa jeruji besi. Setelah berhasil melepaskan beberapa jeruji besi, Herjules beserta anak dan isterinya segera keluar.
Mereka telah kembali ke rumah mereka dan menjalani kehidupan mereka dengan bahagia.
Sore ini, Hejules dan Rewina sedang duduk di ruang tamu.
"Herjules, bagaimana kau bisa menemukan kami?" tanya Rewina.
"Ceritanya panjang. Revu yang memberitahuku bahwa yang menyerang desa kita adalah kerajaan Osarus. Aku bertemu dengan Revu karena aku ingin dia membantuku membunuh Darcon," tutur Herjules.
"Kalian berhasil membunuh Darcon?"
"Kami tidak membunuhnya. Dengan bantuan mahluk asing dari planet Heria, kami berhasil mengirim Darcon ke planet tak berpenghuni."
"Mahluk asing?" tanya Rewina sambil mengerinyitkan dahi.
Herjules menceritakan perihal mahluk asing yang membantunya dan planet Heria.
"Mengapa kau ingin mengalahkan Darcon?"
"Setelah aku mengetahui kau dan Devina menghilang, aku meminta kepada dewa Heras untuk menjadikanku dewa agar aku bisa menghentikan kekejaman orang-orang yang telah menghancurkan desa kita."
"Apakah dewa mengabulkan permintaanmu?"
"Ya, dengan satu syarat. Aku harus membunuh Darcon."
"Sekarang kau telah mengalahkan Darcon, kapan kau akan dinobatkan menjadi dewa?"
"Kapanpun aku mau. Jika aku menjadi dewa, kita tidak akan bisa bersama lagi."
"Sejujurnya aku tidak ingin berpisah denganmu lagi," kata Rewina sedih.
"Begitu juga dengan aku. Itulah sebabnya aku membatalkan keinginanku untuk menjadi dewa."
"Benar."
Rewina memeluk suaminya. Ia merasa sangat senang karena suaminya tidak jadi menjadi dewa.
"Rewina, sepertinya kita tidak aman tinggal di sini," kata Herjules.
"Mengapa?"
"Raja Osarus pasti akan memburu kita."
"Ya. Kita telah menjadi buronan."
"Kita harus pindah ke tempat yang aman."
"Di mana?" tanya Rewina.
"Di sebuah desa terpencil. Tapi, sebenarnya aku lebih suka pindah ke masa depan."
"Aku juga sebenarnya penasaran dengan kehidupan di masa depan."
"Kalau begitu, kita pindah ke masa depan saja," kata Herjules.
"Kapan kita pindah ke masa depan?"
"Apa kau siap jika kita berangkat sekarang?"
"Ya, aku siap."
"Kita harus membawa koin emas yang banyak untuk bekal di sana."
"Aku akan menyiapkan koin itu."
__ADS_1
Delvina yang hanya mendengarkan percakapan orang tuanya juga merasa senang akan pergi ke masa depan.
Herjules mengambil trisulanya di kamar. Ia membawa trisula itu ke halaman.
"Delvina, ayo kita ke halaman. Ayahmu akan membuka portal dimensi," kata Rewina kepada Delvina.
"Iya," kata Delvina menurut.
Herjules mengacungkan trisulanya ke depan. Trisula itu memancarkan sinar. Sinar itu membentuk lubang berwarna hitam.
"Ayo kita masuk," kata Herjules.
Mereka masuk ke dalam lubang potal. Mereka meluncur ke dalam lubang.
"Aaaaa....!" Rewina dan Delvina berteriak ketakutan.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di suatu tempat. Di tempa ini, mereka melihat banyak benda aneh bergerak di jalan yang terlihat mulus dan keras.
"Benda-benda apa itu, Bu?" tanya Delvina kepada Rewina.
"Ibu juga tidak tahu."
"Benda-benda itu sepertinya adalah kendaraan manusia masa depan, karena benda-benda itu bergerak di atas roda," kata Herjules menganalisa.
Mereka melihat salah satu dari benda-benda bergerak itu berkaca bening sehingga terlihat pengemudinya.
"Lihat benda yang itu," kata Rewina sambil menunjuk ke benda yang terlihat pengemudinya. Herjules dan Delvina memandang ke arah yang ditunjuk Rewina.
"Ada orang di dalamnya," kata Rewina.
"Dugaanku benar. Benda-benda itu adalah kendaraan," kata Herjules.
Orang-orang yang melewati tempat itu merasa aneh dengan penampilan mereka.
"Satu keluarga kok bisa gila semua, ya?" tanya seorang pemuda kepada temannya.
Temannya terkekeh.
"Mungkin dulu mereka ingin menjadi pemain film, tapi tidak terwujud. Akhirnya mereka menjadi seperti itu," jawabnya.
Herjules melihat seorang pemuda sedang berjalan di dekatnya.
Herjules mengampiri pemuda itu.
"Permisi. Anda bisa membantu saya?" tanya Herjules.
"Membantu apa?"
"Begini, saya ingin menjual emas. Tapi saya tidak tahu harus menjulnya ke mana," kata Herjules.
"Mas bisa menjualnya ke toko emas," saran pemuda itu.
"Bisakah Anda mengantarkan saya ke sana? Karena saya tidak tahu tempatnya."
"Maaf, saya sedang sibuk."
Herjules memperlihatkan emas di dalam karung. Ia mengambil segenggam emas.
"Aku akan memberimu segenggam emas jika kamu mau membantuku menjualkan emas ini," bujuk Herjules.
"Apakah emas ini asli?" tanya pemuda itu.
"Tentu saja. Kau bisa mengujinya."
Pemuda itu tampak sedang berpikir. Sebenarnya ia sedang membutuhkan uang untuk biaya menikah. 'Tidak ada salahnya aku mencoba membantu orang aneh ini,' pikirnya.
"Oke. Aku akan membantumu," kata pemuda itu menerima tawaran Herjules, meski masih ada beberapa pertanyaan yang mengganjal di pikirannya.
__ADS_1
Pemuda itu mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya.