
"Kak Sinta, apa kakak tidak mengenaliku?" tanya Dewi.
"Tidak."
"Coba perhatikan aku baik-baik."
Sinta mengamati Dewi. Ia terkejut. Ternyata gadis itu adalah Dando.
"Kamu Dando?"
"Iya. Bagaimana acktingku?"
"Kenapa kamu berpakaian wanita?"
"Aku diminta untuk memerankan seorang gadis. Sebenarnya aku sudah menolak. Tapi, mereka memaksa," jelas Dando.
"Kenapa mereka tidak meminta seorang gadis untuk memerankan peran itu?"
"Pemeran wanita berhalangan hadir dan tidak ada yang bisa menggantikanya selain aku."
"Kamu menjadi pemeran wanita untuk acara apa?"
"Sebelum acara lomba mukis dimulai, akan diadakan pertunjukan drama."
"Ooo.."
"Acaranya sebentar lagi akan dimulai. Aku harus ke belakang panggung. Ayo kita ke sana," ajak Dando.
"Ayo."
Sinta dan Dando menuju panggung. Tidak lama kemudian, drama dimulai.
Seorang pria berpakaian kerajaan tampil ke panggung. Pria itu adalah seorang pangeran.
"Margos, aku ingin kau mencari gadis pemilik sepatu ini," perintah pangeran sambil memberikan sebuah sepatu kaca.
"Baik, Yang Mulia. Hamba akan mencari gadis pemilik sepatu ini," kata Margos sambil membungkukkan badan. Margos adalah seorang menteri pertahanan kerajaan.
Layar panggung bergerak menutup. Beberapa saat kemudian, layar panggung bergerak membuka. Panggung menampilkan pemandangan sebuah rumah.
Margos dan beberapa orang pasukan berhenti di depan rumah itu. Komandan pasukan mengetuk pintu. Tidak beberapa lama kemudian, seorang wanita separuh baya membuka pintu disertai dengan dua orang anak perempuannya.
"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" tanya wanita itu.
"Kami ingin putri Anda memakai sepatu ini," kata komandan.
Wanita itu tampak kebingungan.
"Maaf, Tuan. Kalau boleh saya tahu, untuk apa Tuan meminta putri saya memakai sepatu itu?"
"Beberapa waktu yang lalu, ada seorang gadis yang datang di pesta kerajaan. Tepat di tengah malam, gadis itu tiba-tiba berlari meninggalkan pesta. Sebuah sepatunya terlepas. Pangeran ingin mencari pemilik sepatu ini. Pangeran ingin menjadikan pemilik sepatu ini sebagai isterinya," kata komandan. "Kami telah memberitahukan hal ini kepada seluruh rakyat. Anda seharusnya sudah tahu."
"Maafkan kami, Tuan. Tidak ada yang memberi tahu kami tentang informasi itu."
__ADS_1
"Baiklah. Sekarang coba nona pakai sepatu ini," kata komandan kepada salah satu putri wanita itu yang bernama Della.
Della sangat senang. Ia berharap sepatu itu akan muat di kakinya yang indah. Della mencoba memakai sepatu itu. Namun, kakinya tidak bisa masuk ke dalam sepatu itu. Sepatu itu terlalu kecil untuk kakinya. Della berusaha memaksa kakinya agar bisa masuk ke dalam sepatu itu.
"Kalau tidak bisa jangan dipaksa," kata komandan. "Sekarang giliran nona," kata komandan kepada Ketti, putri bungsu wanita itu.
"Sepatu itu pasti pas di kakiku. Kakiku lebih kecil dari kaki Kak Della," kata Ketti yakin.
Ketti memakai sepatu itu. Namun, sepatu itu tidak bisa masuk ke dalam kakinya.
"Tidak mungkin. Sepatu ini sepertinya bisa mengecil," kata Ketti.
"Nona bukan pemilik sepatu itu," kata komandan.
Ketti memberikan sepatu itu kepada komandan.
Seorang tentara melihat seorang perempuan sedang melamun di jendela di lantai dua.
Tentara itu mendekati wanita pemilik rumah.
"Nyonya, saya melihat ada seorang gadis di atas. Saya ingin dia mencoba memakai sepatu ini," kata tentara itu.
"Dia hanya pembantu. Dia tidak layak untuk mencoba sepatu ini," kata wanita itu.
"Setiap gadis harus mencoba sepatu ini," kata tentara itu.
"Tuan, kaki putri saya yang cantik-cantik saja tidak muat memakai sepatu itu. Apalagi pembantu saya. Kakinya pasti tidak akan muat. Tuan tidak ingin membuang-buang waktu, bukan?"
"Baiklah," kata tentara itu.
"Aku adalah pangeran Hubi. Aku ingin menemui gadis itu," kata tentara itu yang ternyata adalah sang pangeran. Ia sengaja menyamar sebagai tentara untuk mengamati secara langsung para gadis yang mencoba sepatunya.
"Oh, silahkan, Tuan," kata wanita pemilik rumah. Sekarang ia tidak bisa menghalangi Cinderella untuk mencoba sepatu itu karena pangeran langsung yang memerintahkannya.
Cinderella terkejut melihat kedatangan pangeran Hubi. Ia sangat senang melihat pangeran Hubi. Namun, ia berpura-berpura tidak mengenal pangeran Hubi. Ia sadar bahwa ia hanyalah seorang gadis miskin yang diperlakukan seperti seorang pembantu oleh ibu tirinya. Ia merasa tidak pantas berteman dengan pangeran Hubi.
"Permisi, Nona. Saya adalah pangeran Hubi. Saya ingin nona mencoba sepatu ini," kata pangeran Hubi sambil memberikan sepatu itu kepada Cinderella.
Dengan jantung berdebar, Cinderella mencoba sepatu itu. Sepatu itu pas di kaki Cinderella.
Pangeran Hubi tersenyum bahagia. Akhirnya ia berhasil menemukan gadis pujaannya.
"Sepatu itu pas di kakimu. Itu artinya kau adalah gadis yang datang ke pestaku," kata pangeran.
"Iya, Pangeran," jawab Cinderella.
"Ikutlah denganku ke istana," pinta pangeran.
"Baik, Pangeran."
Cinderella ikut pangeran Hubi ke istana. Sesampainya di istana, pangeran Hubi menyatakan perasaannya bahwa ia mencintai Cinderella. Cinderella berkata bahwa ia juga mencintai pangeran Hubi.
Sandiwara selesai. Penonton merasa puas dengan penampilan para pemainnya.
__ADS_1
Setelah sandiwara selesai, Dando berjalan ke ruang ganti untuk berganti pakaian. Tiba-tiba ia bertemu dengan Sinta.
"Dan, ayo ikut aku," kata Sinta.
"Ke mana?"
"Ke tempat pengambilan suara."
"Tunggu dulu. Aku mau berganti pakaian dulu."
"Tidak usah. Kita ke sana sekarang. Aku masih ingin melihatmu berpakaian seperti ini," kata Sinta. Ia sengaja mengajak Dando pergi ke tempat pengambilan suara dengan berpakaian wanita. Ia ingin membalas Dando karena Dando telah meninggalkannya tadi pagi.
"Aku malu, Kak Sinta," tolak Dando.
"Tidak usah malu. Ayo cepat. Acaranya keburu selesai."
"Baiklah. Demi Kak Sinta, apapun akan Dando lakukan."
"Lebay."
"Dando serius, Kak Sinta."
"Ayo, buruan." Sinta menarik tangan Dando.
Mereka telah tiba di tempat pengambilan suara. Di tempat itu, mereka bertemu dengan Indra.
"Sin, kamu mendapatkan tiga ribu suara. Peluangmu untuk menang sangat besar," kata Indra.
"Masa? Apakah aku bisa menang?"
"Aku yakin bisa. Hasil lukisanmu sangat bagus. Banyak orang yang menyukai lukisanmu. Ayo kita melihat lukisanmu," kata Indra, lalu berjalan menuju tempat di mana lukisan Sinta dipajang.
Setibanya di sebuah ruangan, Sinta melihat banyak orang berkerumun di depan sebuah lukisan seorang putri kerajaan mirip tokoh dalam game mobil legend. Itu adalah lukisannya. Sinta melukis putri mirip salah satu tokoh dalam game itu karena ia hobi bermain game itu.
"Wah, lukisannya bagus, ya," terdengar salah satu pengunjung memberikan pujian.
"Iya. Lihat di sudut bagaian bawah tertera nama pelukisnya," timpal pengunjung yang lain.
"Pelukisnya cantik tidak, ya?"
"Tidak tahu. Memangnya kenapa kalau cantik?"
"Kalau cantik, aku mau menjadi pacarnya," cengir laki-laki itu
"Belum tentu dia mau denganmu."
"Dia pasti mau. Aku tidak pernah ditolak oleh wanita."
"Kamu ini nengapa selalu gonta-ganti cewek? Kamu 'kan masih berpacaran dengan Asma?"
"Iya. Aku 'kan playboy sejati."
"Mentang-mentang ganteng."
__ADS_1
"Sin, kamu melihat sendiri, 'kan? Banyak orang yang menyukai lukisanmu," kata Indra.
"Iya. Aku tidak menyangka lukisanku banyak yang suka."