Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Pengarahan


__ADS_3

Sore ini aku tidak memiliki kegiatan. Untuk menghilangkan kebosanan, aku duduk di taman belakang rumah. Di taman ini, ada tiga buah kursi. Namun, aku lebih suka duduk di atas rumput. Di saat seperti ini, bayangan Revan kembali muncul di pikiranku. Padahal aku sudah berusaha melupakannya. Namun, aku selalu terbayang dirinya. Hidup ini memang aneh. Aku menyukai seseorang, tapi ia tidak menyukaiku. Ada orang yang menyukaiku, tapi aku tidak menyukainya. Kalau selalu seperti ini, kapan aku akan mendapatkan jodoh? Jangan-jangan aku terkena kutukan? Tapi, siapa yang mengutukku?


Tak terasa, mata hari sudah hampir terbenam. Aku segera masuk ke dalam rumah.


Sore ini, aku dan para anggota pramuka sedang berkumpul di halaman sekolah. Andi berdiri di depan barisan memberikan pengarahan.


"Baik. Besok kita akan berangkat berkemah. Lokasi perkemahan kita adalah di desa Mekar Sari. Di sana kita dituntut untuk hidup mandiri. Setiap regu harus membawa peralatan memasak seperti panci kecil, kuali kecil, piring plastik dan gelas plastik. Kita tidak perlu membawa kompor karena kita akan memasak menggunakan kayu bakar. Selanjutnya kalian juga harus membawa beras, mi instan dan sarden," jelas Andi panjang lebar.


"Kegiatan ini akan melatih kemandirian kalian karena kalian tidak selamanya bergantung kepada orang tua kalian. Ketika kalian sudah berumah tangga, kalian harus melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang tua kalian. Ketika kalian sudah bekerja, kalian dituntut untuk bisa memasak. Dan bagi perempuan, keterampilan memasak kalian akan berguna ketika kalian sudah bersuami. Sebab jika kalian tidak bisa memasak, hal itu akan mengganggu keharmonisan rumah tangga kalian," jelas Andi panjang lebar seolah- olah dia sudah berpengalaman dalam berumah tangga.


"Kita akan berkemah di dekat hutan. Di tempat seperti itu, tidak akan ada binatang buas. Jadi, kalian tidak perlu khawatir. Namun, kalian harus tetap waspada karena tidak menutup kemungkinan akan ada ular berbisa yang berkeliaran di tempat seperti itu."


Selanjutnya kami berlatih menggunakan sandi morse. Andi menggunakan peluit untuk menggunakan sandi morse. Kami mengartikan setiap bunyi peluit itu.


"Lis, Radit melihat kamu terus," bisik Bella.


"Biar aja," jawabku.

__ADS_1


Aku tahu, sejak tadi Radit selalu mencuri-curi pandang kepadaku. Namun, aku bersikap acuh seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Keesokan harinya, aku kembali latihan pramuka. Aku sedang berjalan di koridor ketika tiba-tiba terdengar suara Bella memanggil. Aku menghentikan langkahku dan memutar badanku ke belakang. Tampak Bella sedang berjalan dengan langkah cepat ke arahku.


"Ada apa?" tanyaku.


"Hari ini kita latihannya di halaman belakang sekolah," kata Bella.


"Kenapa?"


"Karena halaman depan akan digunakan untuk latihan pramuka anak-anak kelas satu."


"Lis, tunggu aku di sini, ya. Aku mau ke kantin dulu."


"Ya," jawabku, lalu duduk di bangku.


Baru beberapa detik aku mendaratkan pantatku, Radit datang dan duduk di sampingku.

__ADS_1


"Latihan Pramuka ternyata sangat melelahkan, ya?" kata Radit membuka percakapan.


Aku hanya mengiyakan ucapan Radit.


"Kamu nggak merasa lelah?" tanya Radit.


"Sebenarnya sih aku juga merasa capek. Tapi, aku harus tetap semangat karena ini kulakukan demi kebaikanku di masa yang akan datang."


"Sebenarnya aku ingin keluar dari kegiatan ini. Tapi, ada satu hal yang membuatku tetap bertahan."


"Apa?"


"Aku ingin selalu dekat dengan seseorang."


"Siapa?"


"Kelak kamu akan tau siapa dia," jawab Radit berteka-teki.

__ADS_1


"Lis, ayo!" kata Bella.


Aku segera beranjak dari tempat dudukku. Aku dan Bella berjalan ke halaman belakang.


__ADS_2