Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Ruang Kelas Pribadi


__ADS_3

"Ini adalah ruang kelas pribadiku," kata Indra.


"Kamu memiliki ruang kelas pribadi?" tanya Sinta kagum.


"Iya. Pihak sekolah memberikan ruang kelas pribadi kepada murid berprestasi agar bisa lebih fokus dalam berkarya."


"Ooo..."


"Sekarang aku akan mengajarimu menggambar,"


Indra mengambil sebuah lukisan perempuan cantik dan meletakkannya di depan Sinta.


"Sekarang, kamu lukis gambar yang ada di dalam lukisan ini," pinta Indra.


Melihat lukisan sebagus itu, Sinta menjadi gugup. Ia baru pertama kali belajar melukis dan sudah diminta untuk menggambar sebagus itu.


"In, aku tidak yakin aku bisa melukis sebagus itu," kata Sinta.


"Ya sudah, kalau begitu, aku akan mengajarimu cara memegang pensil terlebih dahulu," kata Indra.


Tangan Indra menggenggam tangan Sinta dan menuntun tangan Sinta menggerakkan pensil. Sinta menjadi teringat masa kecilnya dulu. Dulu mamanya pernah mengajarinya menulis dengan cara seperti ini.


"Jangan memegang pensil terlalu erat. Besar kecilnya tekanan pensil akan menghasilkan goresan yang berbeda," kata Indra.


"Sekarang, untuk latihan, kamu bisa menggambar aku," kata Indra.


Indra duduk di depan Sinta.


Sinta mencoba menggambar Indra sebaik yang ia bisa. Sudah ia duga. Menggambar memang sangat sulit. Ia harus menggoreskan pensil secara perlahan untuk meminimalisir kesalahan. Meski begitu, kesalahan masih sering terjadi sehingga ia harus menghapusnya.


Setengah jam telah berlalu. Akhirnya Sinta berhasil menyelesaiakn gambarnya.


"Sudah, In," kata Sinta.


"Coba kulihat," kata Indra seraya berdiri dan menghampiri lukisan Sinta.


"Hahaha...," Indra tidak bisa menahan tawanya.


"Gambarnya jelek, ya," kata Sinta.


Wajah Sinta kemerah-merahan karena malu.


"Tidak apa-apa. Kamu masih pemula. Jadi, wajar kalau belum bisa menggambar wajahku yang tampan ini," seloroh Indra.


"Huh, PD amat."


"Aku akan memberimu tugas yang mudah. Kamu gambar bunga itu saja," kata Indra sambil menunjuk bunga plastik di atas meja di sudut ruangan.


Sinta menggambar bunga itu. Ia yakin, kali ini ia pasti bisa melakukan tugas yang diberikan Indra.


Sinta berhasil menyelesaikan tugasnya setelah empat puluh menit berlalu.


"Sudah cukup bagus," puji Indra puas.


Setelah latihan pertamanya, Sinta terus berlatih menggambar bersama Indra hingga sepuluh hari.


"Sin, aku kagum padamu. Kamu baru sepuluh hari belajar melukis, tapi sudah bisa melukis sebagus ini," kata Indra sambil mengamati lukisan kupu-kupu milik Sinta.


"Iya. Ini berkat bimbinganmu. Tanpa bimbinganmu, mana mungkin aku bisa melukis," kata Sinta.


"Kamu memiliki bakat yang besar dalam seni lukis. Aku yakin, suatu hari nanti kamu akan lebih hebat daripada aku," puji Indra.


"Ah, kamu bisa saja," kata Sinta tersipu.


"Sebentar lagi bel masuk berbunyi. Ayo kita ke kelas," kata Indra.


"Ayo."

__ADS_1


Sinta dan Indra masuk ke kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran demi pelajaran hingga usai.


Sinta melihat Dando sudah menunggunya di parkiran ketika ia akan pulang.


"Kak Sinta kemana saja selama sepuluh hari ini?" tanya Dando dengan wajah cemberut.


"Kakak belajar menggambar," jawab Sinta.


"Kakak jangan berbohong. Dando sudah mencari kak Sinta di belakang sekolah. Tapi, Kak Sinta tidak ada."


"Oh, kakak tidak belajar di belakang sekolah. Kakak belajar di kelasnya Indra."


"Oh, jadi selama ini Kak Sinta belajar kepada Indra? Mengapa Kak Sinta tidak belajar kepadaku saja? Aku 'kan juga bisa mengajari Kakak."


"Kakak nanti juga akan belajar kepada Dando supaya kakak cepat bisa."


"Selama sepuluh hari tidak bertemu Dando, apakah Kakak pernah memikirkan Dando?"


"Iya. Kakak selalu memikirkan Dando."


"Masa?" Mata Dando berbinar.


"Heeh," angguk Sinta.


"Dando juga selalu memikirkan Kak Sinta. Kak, Dando kurang enak badan."


"Kamu sakit?"


"Iya."


Sinta menyentuh kening Dando menggunakan punggung telapak tangannya. Kening Dando terasa panas.


"Uhuk..! Uhuk...!"


"Kamu juga batuk?" tanya Sinta panik.



Melihat Dando terserang batuk dan demam, Sinta menjadi sedikit khawatir karena saat ini sedang terjadi wabah virus corona. Sinta khawatir Dando terpapar virus mematikan itu.


"Apa kamu juga sesak nafas?"


"Tidak. Kak Sinta jangan khawatir. Dando hanya demam dan batuk saja."


"Sebaiknya kita segera pulang. Kakak akan menemanimu di rumah."


Mereka segera menuju rumah Dando. Setibanya di rumah Dando, Dando langsung berbaring di kamarnya.


"Kakak ambilkan makan dulu, ya,"


Sinta bergegas pergi ke dapur utuk mengambil makanan. Tidak lama kemudian, Sinta sudah kembali dengan membawa makanan.


"Ini nasinya. Ayo dimakan," pinta Sinta.


"Dando tidak mau makan."


"Ayo, Dando. Kamu harus makan," bujuk Sinta.


Dando duduk. Ia mencoba memakan nasi sedikit. Nasi itu terasa pahit di lidah.


"Hueeek..." Dando akan memuntahkan nasi di dalam mulutnya.


"Dando tidak bisa menelan nasi," kata Dando.


"Ya sudah. Kamu muntahkan saja. Kakak akan membuatkan kamu bubur."


Dando memuntahkan nasi di dalam mulutnya ke dalam piring.

__ADS_1


Sinta kembali ke dapur untuk membuat bubur.


Membuat bubur tidak sulit. Hanya dengan memasak tepung beras, bubur sudah bisa dibuat. Sinta harus pergi ke warung untuk membeli tepung beras karena di dapur Dando tidak tersedia tepung beras. Selain membeli tepung beras, Sinta juga membeli obat penurun demam dan batuk.


Setengah jam kemudian, Sinta telah selesai membuat bubur. Ia segera membawa sepiring bubur ke kamar Dando.


"Dando, ini buburnya."


"Suapi, Kak," pinta Dando.


Sinta menyendok bubur dan memasukkannya ke dalam mulut Dando. Dando memakan bubur beberapa sendok.


"Sudah, Kak."


"Sekarang diminum obatnya."


Sinta mengeluarkan pil obat dari bungkusnya, lalu memberikannya kepada Dando.


"Dando tidak bisa meminum pil, Kak," kata Dando.


"Kamu harus meminum obat biar cepat sembuh."


"Dando biasanya kalau sakit meminum sirup. Dando tidak bisa meminum tablet."


'Tidak bisa meminum tablet?,' batin Sinta. 'Kekanak-kanakan sekali. Tipe cowok seperti ini yang aku suka. Dia benar-benar pangeranku,' lanjutnya dalam hati.


"Sebentar. Kakak belikan sirup dulu."


Sinta segera pergi ke toko obat untuk membeli sirup.


"Mbak, ada sirup untuk demam dan batuk?" tanya Sinta kepada penjaga toko.


"Ada. Untuk batuk kering atau berdahak?"


"Batuk kering."


Tiba-tiba Hp Sinta berdering. Sinta segera mengeluarkan Hpnya dari dalam tasnya. Ternyata Indra yang sedang menelponnya.


"Halo," kata Sinta.


"Sin, besok ada pameran lukisan. Kamu mau ikut aku ke pameran itu?" tanya Indra di seberang.


"Iya, aku mau."


"Besok jam delapan pagi aku jemput kamu, ya."


"Iya."


Indra menutup telponnya. Sinta memasukkan Hpnya ke dalam tas.


"Berapa, Mbak?"


"Dua puluh tujuh ribu."


Sinta merogoh dompet dari dalam tas. Ia mengeluarkan dua lembar uang dan memberikannya kepada penjaga toko.


"Ini kembaliannya. Terimakasih," kata penjaga toko.


"Sama-sama."


Sinta segera kembali ke rumah Dando.


"Ini sirupnya," kata Sinta begitu tiba di kamar Dando.


Dando segera meminum sirup itu.


"Maaf, ya, Kak. Dando jadi merepotkan kakak," kata Dando.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Dando. Kakak melakukan ini agar kamu cepat sembuh."


__ADS_2