
"Di pasar." jawab Risma.
"Ooo.. Ya sudah. Makasih, ya," kata Dando.
Dando segera pergi ke pasar untuk membeli singkong.
Dua jam telah berlalu, Dando telah selesai membuat kolak singkong. Ia pergi ke kamar Sinta sambil membawa semangkuk kolak.
"Kak Sinta, makan dulu. Dando bawakan kolak singkong," kata Dando kepada Sinta.
"Kolak singkong? Kamu membelinya?"
"Tidak. Dando masak sendiri."
"Kamu bisa memasak kolak singkong?"
"Ya bisa, dong."
Sinta duduk. Ia mulai memakan kolak singkong.
"Bagaimana, Kak? Enak?"
"Enak sekali. Kamu pinter memasak, ya," puji Sinta.
Sinta melanjutkan memakan kolak singkong. Dando terus memperhatikan Sinta. Dando melihat ada noda kuah kolak di bibir Sinta.
"Kak Sinta. Ada noda di bibir kakak," kata Dando.
Sinta akan membersihkan noda di bibirnya, namun dicegah oleh Dando.
"Tunggu, Kak," kata Dando seraya memegang tangan Sinta yang akan bergerak. "Boleh Dando yang membersihkannya?" tanya Dando.
"Boleh," jawab Sinta.
Dando mendekatkan mulutnya ke bibir Sinta. Ia menjilat noda kuah kolak di bibir Sinta. Setelah menjilat noda kuah kolak, Dando mencium bibir Sinta.
Sinta mendorong Dando.
"Dando, kamu menciumku?"
"Maaf, Kak. Dando kebablasan."
"Dando, itu adalah ciuman pertama kakak."
"Kak Sinta jangan marah, ya. Dando khilaf," kata Dando dengan wajah memelas.
"Iya. Kakak tidak marah."
Sebenarnya Sinta ingin marah. Namun, ketika ia melihat sikap polosnya Dando, ia tidak jadi marah.
"Kak, Dando mau ngomong," kata Dando.
"Kamu mau ngomong apa?"
"Dando mau ngomong kalau Dando suka kepada kakak."
"Kakak sudah tahu kalau Dando suka kepada kakak."
"Maksud Dando bukan suka biasa, Kak."
"Terus?"
"Dando ingin menjadi pacar kakak."
"Menjadi pacar kakak? Kamu serius?"
__ADS_1
"Iya. Dando serius."
"Kakak seneng banget dengernya. Kakak mau jadi pacarmu," kata Sinta sambil memeluk Dando.
Mereka berpelukan beberapa saat.
"Dando, sudah sore. Kakak mau pulang," kata Sinta, lalu melepaskan pelukannya.
"Iya,"
Keesokan harinya Sinta diminta Indra untuk belajar menggambar di suatu tempat. Sinta diminta datang bersama Dando.
Sinta dan Dando telah tiba di rumah Indra.
"Sin, adikmu suruh memakai baju ini untuk menjadi model melukismu," kata Indra sambil memberikan pakaian wanita.
Sinta menerima pakaian itu.
"Dando, kamu pakai baju ini," kata Sinta seraya memberikan baju itu kepada Dando.
"Dando tidak mau," tolak Dando.
"Dando, kamu harus memakai baju ini untuk model melukis," bujuk Sinta.
"Dando tidak mau, Kak. Dando malu."
"Kamu tidak perlu malu. Dulu 'kan Dando pernah memakai baju wanita."
"Ya sudah. Dando mau."
Dando meraih baju di tangan Sinta, lalu pergi ke kamar Indra untuk berganti pakaian.
'He...he... Rasakan kamu. Hari ini kamu kukerjain,' kata Indra dalam hati.
Tidak beberapa lama kemudian, Dando telah kembali dengan pakaian wanita. Dando tampak cantik mengenakan pakaian itu.
"Tapi, masih lebih cantik Kak Sinta."
"Sin, agar lebih mengasyikan, kita melukisnya di bukit saja," kata Indra.
"Iya."
"Ayo berangkat," ajak Indra.
Mereka berangkat ke bukit dengan naik mobil Triton Indra.
Sesampainya di bukit, Sinta segera belajar melukis dibawah bimbingan Indra. Dando berdiri di depan mereka untuk menjadi model melukis. Dua jam kemudian, Sinta telah selesai melukis Dando.
"Lukisanmu bagus sekali," puji Indra.
Sinta tersenyum.
"Hai, cewek. Boleh kenalan?" Tiba-tiba seorang laki-laki berparas tampan bertanya kepada Dando.
"Aku bukan cewek."
"Bukan cewek? Aku tidak percaya," kata laki-laki itu.
"Kalau tidak percaya ya sudah," kata Dando acuh.
Laki-laki itu pergi dengan perasaan malu.
"Sin, aku mau memberi sesuatu," kata Indra. Ia merogoh dompet dari saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah karcis dari dalam dompetnya, lalu memberikannya kepada Sinta.
Sinta menerima karcis itu. Di karcis itu tertulis 'Pre-sale edisi terbaru komik Dori dan Ania.'
__ADS_1
"Makasih, In," kata Sinta.
"Iya. Pengarangnya juga akan hadir di acara itu," kata Indra menambahkan.
Menit telah berganti menit. Jam telah berganti jam. Hari telah berganti hari. Tak terasa, satu minggu telah berlalu. Sekarang, Sinta telah berada di acara pre-sale komik Dori dan Ania. Ia duduk di bangku paling depan. Sinta menghadiri acara ini karena ia ingin melihat pengarang komik kesayanganya.
Tidak lama kemudian, Indra datang. Ia duduk di samping Sinta.
"Ternyata kamu duduk di sini. Aku tadi mencarimu," kata Indra. "Sin, sebenarnya aku mau ngomong sesuatu."
"Kamu mau ngomong apa?" tanya Sinta. Ucapan Indra barusan membuat jantung Sinta berdebar-debar. Ia khawatir Indra akan menyatakan perasaan cintanya.
"Aku mau ngomong kalau....,"
"In, acaranya akan segera dimulai," sela Sinta.
Indra mengalihkan perhatiannya ke panggung.
"Katanya pengarangnya masih muda, lho," kata seorang gadis kepada temannya.
"Iya. Katanya pengaranganya ganteng," jawab temanya.
Sinta dapat mendengar percakapan mereka karena kedua gadis itu duduk di belakangnya. Ucapan kedua gadis itu membuat Sinta semakin penasaran seganteng apa pengarang komik yang bernama Urbando itu.
Pembawa acara telah berada di atas panggung. Suasana ruangan yang semula riuh menjadi hening.
"Hari ini, Urbando akan hadir untuk menyapa para penggemar. Kepada saudara Urbando, silahkan naik ke panggung," kata MC.
Urbando yang berada di belakang panggung, segera naik ke panggung. Ia tampak ganteng dengan stelan jas berwarna hitam dan dasi kupu-kupu.
Sinta terkejut begitu melihat Urbando.
"Dando," gumamnya. 'Jadi, selama ini, Dando adalah Urbando?' tanyanya dalam hati.
"Wah, ganteng sekali!" kata para gadis terkesima.
"Ubando, kamu ganteng banget!" teriak para gadis.
"Urbando! I love you!"
Urbando duduk di sofa. Seorang wartawan sedang mewawancarainya.
Indra merasa senang begitu melihat Sinta mengetahui siapa Dando sebenarnya.
'Sinta pasti akan menjauhi Dando begitu tahu siapa Dando sebenarnya,' kata Indra dalam hati.
Setelah acara selesai, Sinta segera keluar gedung.
"Sin, ayo kuantar pulang," kata Indra.
"Tidak usah. Aku naik taksi saja," tolak Sinta.
"Sin, pulang bareng aku saja," tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki yang terdengar tidak asing. Sinta menoleh ke arah suara itu. Laki-laki itu adalah Dando.
"Boleh," jawab Sinta senang.
Sinta dan Dando berjalan menuju parkiran.
Indra sangat kecewa melihat kebersamaan Sinta dan Dando. Ia tidak menyangka Sinta masih mau bersama dengan Dando, meski ia sudah mengetahui siapa Dando sebenarnya. Cinta memang buta.
"Sin, aku minta maaf kepadmu karena selama ini aku sudah bersandiwara," kata Dando di perjalanan naik mobil.
"Iya. Kenapa kamu bersandiwara?"
"Karena aku tahu kalau kamu suka dengan cowok yang imut seperti tokoh dalam komikku."
__ADS_1
"Kamu masih mau 'kan berpacaran denganku?"
"Iya. Aku sudah terlanjur cinta kepadamu. Apapun yang terjadi kepadamu, aku akan selalu mencintaimu."