Dewa Heras Dan Herjules

Dewa Heras Dan Herjules
Menembak


__ADS_3

Reny beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke meja Dimas. Dalam hati aku berdo'a agar ia ditolak oleh Dimas.


"Aku boleh gabung?" tanya Reny ketika telah sampai di meja Dimas dan kedua temannya.


"Boleh," Rangga yang menjawab.


Reny duduk di samping Rangga berhadapan dengan Dimas yang sedang menyantap bakso. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Jantungnya berdetak dengan cepat. Tiba-tiba ia merasa takut kalau Dimas menolaknya. Namun, ia harus menembak Dimas karena ia tidak ingin menyerah sebelum mencoba.


"Mas, aku mau ngomong sesuatu," kata Reny.


"Mau ngomong apa?"


"Aku suka sama kamu."


"Uhuukk..." Dimas tersedak. Makanan di dalam mulutnya tersembur keluar. Dimas segera meraih gelas berisi es teh di depanya dan meminumnya.


"Kenapa, Mas?" tanya Reny cemas.


"Nggak apa-apa. Kamu bilang apa tadi?"


"Tadi aku bilang kalau aku suka sama kamu."


"Kamu nggak sedang taruhan, 'kan?" selidik Dimas.


"Maksudmu?"


"Aku curiga jangan-jangan kamu nembak aku karena taruhan karena kamu berani nembak aku di hadapan orang banyak."


"Enggak. Aku nembak kamu karena aku memang suka sama kamu."


Dimas terdiam. Entah apa yang sedang dipikirkannya.


"Udah. Terima aja, Mas. Sayang kalau cewek secantik dia nggak kamu terima," celetuk Roni.


"Iya. Lebih baik dikejar dari pada mengejar. Jarang lho ada cewek cantik nembak duluan," timpal Rangga.

__ADS_1


Dimas masih terdiam seribu bahasa.


"Maafin aku, ya, Dim. Aku sudah menduga kalau kamau akan menolakku. Tapi, sekarang, aku jadi lega karena aku sudah mengungkapkan isi hatiku. Aku duluan, ya," kata Reny, lalu berdiri dari tempat duduknya.


"Tunggu," kata Dimas. "Sebenarnya aku juga sama kamu," lanjutnya.


Mata Reny berbinar dengan senyuman bahagia mengembang di bibirnya. Ia kembali mendaratkan pantatnya di kursi.


"Makasih, ya, Mas," ucapnya senang.


"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu sudah mau nembak aku. Sebenarnya aku sudah lama pengen nembak kamu. Tapi, aku takut kamu tolak."


Melihat cinta Reny diterima Dimas, dadaku terasa sesak dan pilu. Rasanya aku ingin menangis. Namun, aku berusaha untuk menguatkan hati.


"Bel, Aku duluan, ya," kataku kepada Bella.


"Kenapa, Lis?" tanya Bella heran.


"Perutku sakit. Aku mau ke toilet," jawabku sambil memegang perutku.


"Kebetulan kamu datang," ujar Vina.


"Kenapa?" tanyaku.


"Aku mau curhat."


Aku menarik nafas. Sebenarnya yang ingin curhat itu aku. Tapi, kenapa malah dia yang ingin curhat?


"Curhar apa?" tanyaku lagi.


"Rio mutusin aku."


"Mutusin kamu?"


Vina mengangguk.

__ADS_1


"Kamu harus sabar, Vin. Cowok nggak cuma dia. Masih banyak cowok yang lain. Aku yakin, suatu saat nanti, kamu pasti akan mendapatkan pengganti yang lebih baik," kataku panjang lebar.


"Tapi, masalahnya aku hamil."


"Apa?! hamil?!" tanyaku terkejut.


Vina mengangguk.


Aku terdiam mencoba memikirkan jalan keluar untuk Vina.


"Aku harus gimana, Lis?" tanya Vina. "Apa kugugurkan aja kandunganku?"


"Jangan, Vin. Menggugurkan kandungan itu dosa."


"Tapi, aku malu kalau aku melahirkan tanpa suami."


"Vin, gimana kalau kamu menikah sama Reza aja?"


"Apa dia mau sama aku?"


"Mungkin dia mau sama kamu karena selama ini dia ngejar-ngejar kamu."


"Tapi, aku nggak yakin kalau aku akan hidup bahagia sama dia."


"Kenapa?"


"Karena aku nggak cinta sama dia."


"Memangnya cinta bisa membuatmu bahagia? Kamu sekarang sedih karena cinta, 'kan?"


Vina terdiam. Suasana menjadi hening.


"Ok, aku mau sama Reza," kata Vina kemudian.


Aku menarik nafas lega. Aku pindah ke tempat dudukku karena sebentar lagi pelajaran kedua akan dimulai.

__ADS_1


__ADS_2