Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
10. Kembali pulang.


__ADS_3

Mbak Raya mengusap dada Bang Seba yang sangat prihatin melihat keadaan Bang Dewa. Pria itu duduk menatap jendela, rambutnya gondrong, jambang dan kumisnya sudah tak lagi terawat, badannya kurus. Baru saja adik iparnya itu pulang usai dua hari mencari Bian yang pergi entah kemana.


Papa Sanca pun sudah membantu mengerahkan seluruh anggota untuk mencari putrinya namun semua usaha masih tetap nihil. Tak ada satu pun keluarga yang tau alasan pertengkaran keduanya.


"Makan dulu ya le..!!" Bujuk Papa Sanca.


"Tolong tinggalkan saya Pa, saya ingin sendiri..!!"


"Dewo, Papa tidak tau apa yang melatarbelakangi pertengkaran kalian. Tapi dengan melihatmu begini, papa yakin kamu mencintai putri Papa dan Putri Papa yang tidak dewasa itu sedang salah paham."


"Bian sudah sangat dewasa dalam usianya Pa. Keadaan kami lah yang membuat kami tidak saling mengerti." Jawab Bang Dewo tak melepaskan pandangan dari halaman luar rumah.


ddrrtttt.. ddrrtttt.. ddrrtttt..


"Ada kabar apa?" Tanya Bang Dewo langsung pada pokok bahasan pada anggotanya.


"Ibu berada di rumah sakit tentara. Tadi pingsan karena kelelahan. Warga distrik mengantarnya dari puncak gunung.


"Saya kesana sekarang..!!" Bang Dewa mematikan sambungan telepon.


:


Benar saja. Wanita yang sedang terbaring lemah di ruang IGD rumah sakit tentara adalah Bian, istri dari Lettu Sadewa.


"Dek.. bangun dek.. sadar..!!" Bang Dewa menepuk pipi Bian lalu menepuknya. Perasaan campur aduk memporak porandakan hatinya. Seakan ada dorongan, Bang Dewa memeluk Bian dengan erat. "Cepat sadar dek..!!" Ucapnya lirih.


Perlahan mata Bian terbuka, ia melihat Bang Dewa memeluknya tapi semua terasa datar saja. "Bukan Bian yang seharusnya Mas peluk."


"Sudah cukup dek.. Mas nggak tahan lagi terus ribut sama kamu. Kita selesaikan semua, bicara baik-baik. Pertengkaran bukanlah tujuan pernikahan kita." Jawab Bang Dewa.


"Bian tidak punya kuasa jika bicara tentang anak. Hargailah dia yang mengandung anakmu Mas..!!"


Seisi ruangan kaget mendengar ucapan Bian tak terkecuali Bang Hisyam dan Bang Tono namun mereka tidak lantas begitu saja ikut campur dalam urusan rumah tangga Bang Dewa dan Sabian.


"Jika semua masalah ini hanya kamu pendam dalam teka-teki. Semua masalah ini tidak akan pernah selesai. Mas ingin kita terus bertahan, menjagamu sebagai amanah dari orang tua dan kedua Abangmu." Kata Bang Dewa.


Bian membolak-balik pikiran dan perasaannya. Bang Dewa terus membelai kening Bian dan menunggu hingga hati Bian siap.


"Katakan apa status hubungan Mas Dewo dan Melani saat ini?" Tanya Bian.


Tak ingin kehilangan Bian untuk kedua kalinya, Bang Dewa tak peduli lagi dengan banyaknya masalah yang akan timbul nantinya. "Mantan pacar. Tidak lebih..!!" Jawab Bang Dewo.


Bagai tersambar petir sakitnya hati Bang Martono. "Ya Allah Ya Rabb.. sungguhkah itu Wo?"


"Siap Bang, ini kenyataannya. Melani memiliki hubungan dengan Abang di belakang saya dan hamil anak Abang." Ucap Bang Dewa sejelas-jelasnya.

__ADS_1


"Tunggu Wo, saya tidak pernah melakukannya. Dia gadis yang di tinggal lari kekasihnya. Dia sebatang kara. Saya tidak tega Wo." Jawab Bang Martono. "Atau mungkin anak itu adalah anakmu Wo???"


"Jika anak itu sudah terlahir dan memang test membuktikan bahwa anak itu adalah anak saya.. saya akan menyerahkan diri pada yang berwajib dan keluar dari kemiliteran. Memang benar saya ada hubungan dengan Melani, tapi insya Allah tindakan saya masih dalam batas wajar Bang."


"Innalilahi.. Ya Tuhanku, kenapa jadi begini????" Seketika Bang Tono terduduk lemas. Aku sangat menyayanginya, aku juga sangat sayang dengan calon anak itu. Tapi kenapa dia tega berbuat seperti ini????"


Bang Dewa tak ingin tau masalah itu, biarlah nanti Bang Tono yang akan menyelesaikan masalahnya sendiri bersama Melani.


"Lalu saat ini, apa hubunganmu dan Bang Hisyam."


"Bian dan Bang Hisyam......"


"Sabar.. sabar Wo, biar saya jelaskan..!! Jujur sampai saat saya datang ke rumahmu, saya belum tau kalau Bian adalah istrimu. Menurut kabar yang saya dengar dari istri Bang Tono.. Bian adalah adik Bang Seba dan adikmu karena aku yang aku tau Rawa hanya sepupu." Jawab Bang Hisyam.


"Lalu versimu dek??"


"Tidak ada, sejak kita menikah.. Bian mengurangi aktifitas chat dan call dengan Bang Hisyam." Kata Bian.


"Jadi kalian pacaran????" Tanya Papa Sanca.


"Iya.."


"Siap Dan.. benar." Jawab Bang Hisyam.


"Ya Tuhan..!!" Papa Sanca menepuk dahinya.


Bian masih diam dengan wajah datarnya. Bang Dewa benar-benar gelisah sampai bernafas pun terasa begitu berat.


"Biaan.............. Hhkkkk..!!"


Bang Dewa yang menunggu jawaban Bian dengan perasaan harap-harap cemas menjadi panik karena Bian mendadak mual.


"Kenapa tiba-tiba jadi mual, makan apa selama di gunung???" Tanya Bang Dewa.


Bian mencoba bangkit dari posisi tidurnya tapi siapa sangka Bian malah kembali pingsan.


"Biaaan..!!!!"


...


Bang Dewa menginterogasi beberapa orang warga yang tadi menolong Bian.


"Ibu Bian sulit untuk makan, setelah membantu memeriksa kami para warga.. Ibu Bian langsung pulang ke rumah singgah milik kepala desa." Laporan seorang warga setempat.


Tak lama seorang dokter datang dan memberikan hasil pemeriksaan kesehatan Bian.

__ADS_1


"Bagaimana istri saya dok?" Tanya Bang Dewa yang perhatiannya langsung teralihkan.


"Asam lambung tinggi, kurang tidur, terlalu stress." Jawab Dokter. "Saya sudah memberikan resep dan nanti harus segera di tebus. Ibu Bian sudah boleh pulang..!!"


"Baik dok, terima kasih. Apa ada masalah penting lainnya?"


"Saya rasa belum ada Pak. Tapi kalau memang keadaan ibu Bian belum membaik, silahkan dibawa lagi kesini untuk diperiksa lebih lanjut..!!" Saran dokter.


-_-_-_-_-


Bian sedih sekali melihat rumahnya, hampir satu bulan ia tinggalkan namun kini nampak berantakan dan tidak terurus.


"Kenapa rumah ini tidak terawat?"


"Jangankan rumah dek, Mas aja amburadul setelah kamu pergi." Jawab Bang Dewa.


"Bohong..!!!" Tapi Bian tidak bisa menyanggah karena penampilan Bang Dewa memang sangat membuat pilu siapapun yang melihat.


"Dek.........."


"Ada mesin cukur rambut nggak?" Tanya Bian memotong ucapan Bang Dewa.


"Ada, nanti Mas pinjamkan di barak bujangan." Kata Bang Dewa.


"Sekarang..!! Bian geli lihat rambut, jambang sama kumis Mas Dewo." Pinta Bian.


Bak kerbau di cocok hidungnya Bang Dewa berjalan menuju barak bujangan. Tanpa suara, tanpa ribut dan tanpa perlawanan.


:


Bang Dewa ingin menolak saat Bian mencukurnya, tapi harus di akui model rambut yang di bentuk saat ini juga tidak buruk.. malah semakin membuatnya gagah dan maskulin.


"Jambulnya jangan di potong ya dek..!!" Kata Bang Dewa memohon dengan wajah memelas.


"Memangnya kenapa??? Takut ilmunya hilang?" Ledek Bian meskipun sebenarnya tidak ada niat sedikitpun untuk membuat jambul itu hilang dan juga tidak ada yang tau bahwa jambul tersebut sudah mencuri perhatiannya.


"Bukan, gantengnya Mas Dewo khan dari jambul." Jawab Bang Dewa.


"Siapa yang bilang Mas Dewo ganteng??"


Seketika Bang Dewa menggaruk rambutnya yang tidak gatal, dirinya salah tingkah melihat tatapan mata tajam Bian.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2