
Bang Dewa melihat titik merah bergerak di tubuh Gita. Ia pun segera melindungi dan pada akhirnya......
doooorr...
"Aaarrghh.." Bang Dewa menahan pedih di sekitar perutnya kemudian meletuskan peluru dan menembaki semua orang yang ada di ruangan itu kemudian mengisi lagi peluru di pistolnya.
Dengan sigap Gita pun menghujani para musuh dengan pistolnya hingga mereka berhamburan tunggang langgang melarikan diri.
Secepatnya Bang Dewa menggandeng tangan Gita agar bisa segera keluar dari gedung berprahara itu. Tak di sangka ada seseorang yang berlari membawa sebilah pisau dan berniat menusuk Gita tapi sekali lagi Bang Dewa melindunginya.
jleeebb..
Pisau tersebut menggores pinggang Bang Dewa. Pria tersebut berlari kencang.
"Maaass.. kenapa Mas selalu ikut campur urusan Gitaaa???? Nyawamu bisa melayang Maaass..!!" Teriak Gita sembari menahan tubuh Bang Dewa yang masih syok.
"Haaii.. Black rose, perkenalkan.. saya Lettu Sadewa. Bisakah diam sebentar saja, seluruh pinggangku rasanya perih." Jawab Bang Dewa menanggapi teriakan Gita.
"Ini nggak lucu Mas, jangan bercanda..!!!"
"Siapa yang bercanda, pinggangku perih." Kata Bang Dewa.
Saking jengkelnya, Gita mencubit luka Bang Dewa sekencangnya.
"Ya Allah.. Gitaaaa.. sakiiiit..!!" Pekik Bang Dewa menggelinjang sampai hampir menimpa tubuh Gita.
"Kalau tau sakit kenapa sok jadi pahlawan?????"
"Karena dulu pernah ada perempuan centil yang sok pintar berusaha menahan peluru untuk seorang pria gagah. Padahal pria tersebut adalah seorang pejantan tangguh." Kata Bang Dewa sembari menahan kesakitan di tubuhnya.
"Oyaaa??? Bukannya pria itu sangat bodoh???"
"Pria itu hanya pura-pura bodoh." Jawab Bang Dewa.
Gita melirik ekspresi wajah Bang Dewa yang sangat menyebalkan.
"Sumpah, Gita malas lihat wajah Mas Dewo." Ucap kesal Gita.
Bang Dewa tertawa saja mendengarnya tapi kemudian ekspresi wajahnya kembali serius. "Saya sangat menginginkan anak itu. Jaga dia ya..!!"
"Sesuai janji.. Gita akan membahagiakan Mbak Bian setelah itu.... Gita akan pergi dari hidup Mas Dewo dan Mbak Bian..!!"
Bang Dewa baru akan menjawabnya tapi team kesehatan datang membawa ambulance.
"Tolong bawa Letnan Sadewa. Saya kembali dengan......." Bian menoleh ke arah sekitar. "Saya kembali dengan Letda Jazwan."
Hati Bang Dewa mendadak terasa hancur berkeping mendengarnya. Ingin menggapai tangan Gita tapi tenaganya menurun drastis.
Saat itu juga Bang Jazwan memeluk Gita dengan erat. "Kamu nggak apa-apa dek?? Ada yang luka?????"
"Nggak ada Bang, Gita baik-baik saja."
__ADS_1
"Alhamdulillah." Bang Jazwan semakin mengeratkan pelukannya. "Saya akan melamarmu..!!"
Dada Bang Dewa terasa sesak hingga kesadaran perlahan menghilang.
***
Bian datang ke rumah sakit saat Gita menghubunginya bahwa Bang Dewa sedang berada di rumah sakit.
"Mas sudah nggak apa-apa. Jangan nangis donk.. buktinya Mas juga sudah sadar." Bang Dewa memeluk Bian yang menangis di dadanya.
Gita hanya menatapnya dengan wajah datar dan Bang dewa kembali dengan sikap dinginnya. Ingatannya tentang Gita dan Jazwan begitu mengganggunya.
"Ijin Bang, pinggang masih nyeri nggak?" Tanya Bang Jazwan.
"Sudah nggak, saya minta obat yang paten. Pagi nanti juga sudah boleh pulang." Jawab Bang Dewa.
"Oiya Bang, kalau Abang sudah masuk.. saya mau pengajuan nikah. Saya ingin menikahi Gita." Kata Bang Jazwan.
Seketika bola mata Bian membulat besar mendengarnya tapi ia pun bingung bagaimana menghadapi situasi seperti ini. Bian menatap mata Bang Dewa agar bisa segera menyelesaikan masalah ini.
"Kamu tidak bisa menikahi Gita..!!"
"Kenapa Bang? Saya rasa tidak ada yang salah dari kami berdua..!!" Kata Bang Jazwan.
"Kunci pintunya rapat, pastikan tidak ada orang di luar..!!" Perintah Bang Dewa dan Bang Jazwan segera mengikuti perintah seniornya itu.
"Ada apa Bang?" Tanya Bang Jazwan.
"Gita adalah istri saya..!!"
"Saya serius Wan..!!"
Barulah tawa Bang Jazwan berhenti. Ia menatap serius memastikan semua kebenaran yang ada.
"Saya menikahi Bian.. juga Gita."
Bang Jazwan mengarahkan pandangannya pada Gita yang sudah berurai air mata.
"Apa yang terjadi dengan kalian??"
"Setelah anak ini lahir, saya ingin berpisah dengan Mas Dewo." Kata Gita.
"Gitaaa.. jangan sembarang bicara..!!!" Tegur Bian.
"Jujur saja saya tidak ingin menjadi penengah di antara Mas Dewo dan Mbak Bian. Hati saya selalu di penuhi rasa bersalah setiap harinya." Gita terisak mengungkapkan isi hatinya.
"Itu nggak benar Gita.. kamu berkah untuk kami, karena kamu.. kami jadi bisa punya anak. Mbak juga sayang kamu, bukan lantas setelah anak itu lahir lantas kamu harus pergi." Akhirnya Bian ikut menangis dan kini ada dua pria dengan hati yang begitu sakit tak bisa menghentikan tangis kedua wanita itu.
Bang Jazwan melihat tidak ada pembelaan sedikit pun untuk Gita. Seniornya itu hanya diam, tidak menarik Gita ataupun melepasnya.
"Saya sudah terlanjur tau masalah ini, dengan kata lain kalian sudah menggiring saya masuk ranah pribadi kalian. Sekarang saya tanya.. apa Mbak Bian ikhlas dengan pernikahan ini? Apa Gita mencintai Bang Dewa, begitu pula sebaliknya..!!" Tanya Bang Jazwan.
__ADS_1
"Saya ikhlas dengan pernikahan ini. Selain kami berasal dari kesultanan, saya juga ikhlas Mas Dewo dan Gita menikah karena saya ingin hijrah, tidak terlalu banyak memikirkan urusan dunia. Keinginan terbesar saya hanya ingin anak dari Mas Dewo." Jawab Bian.
"Bagaimana denganmu dek?" Bang Jazwan menanyai Gita.
Isak tangis Gita belum usai. Tatap mata itu sekilas menjawab semua. "Gitaa.. tidak mencintai Mas Dewo."
"Ijin.. lalu Abang?"
Bang Dewa menahan sesak di dada. Matanya memerah, untuk sejenak matanya terpejam.
Mungkin hanya sesama pria yang mampu memahami semua. Bang Jazwan tersenyum penuh arti.
"Sebenarnya hati saya sangat sakit Bang. Tapi mau bagaimana lagi. Memang belum takdirnya saya dan Gita bersama."
"Hhhhffftttt.. larane Wan..!!!" Bang Dewa mencoba tersenyum di balik prahara yang terjadi dalam rumah tangganya.
"Ijin Bang, bisa kita bicara berdua?"
"Silakan..!!"
Bian dan Gita akhirnya keluar dari kamar rawat Bang Dewa.
~
Bang Jazwan mengangguk mendengarnya. Ia sekarang sudah paham bagaimana sampai pernikahan ini terjadi juga awal pertemuan Bian dan Gita dulu. Tak lupa Bang Dewa menceritakan bagaimana sampai Bian tidak bisa mengandung lagi.
Setelah pembicaraan di antara Bang Dewa dan Bang Jazwan usai, Bian dan Gita pun diijinkan masuk.
"Tolong kalian jangan saling mengambil keputusan sepihak tanpa berunding. Satu kesalahan saja di antara kalian.. semua akan fatal..!!" Kata Bang Jazwan mengingatkan.
Sebagai perwira lulusan pondok pesantren sudah jelas sedikit banyak ia memahami keadaan dan ia pun tau seniornya itu juga bukan pria sembarangan yang ala kadarnya menikahi wanita lain tanpa ilmu dan perhitungan.
-_-_-_-_-_-
Pagi tiba, seperti hari-hari biasanya, Gita selalu mual dan lemas jika suara ayam berkokok sudah terdengar.
Bang Dewa sigap beranjak dari ranjang karena Bian masih tidur pulas di sofa sedangkan hingga pagi Gita tidak ingin jauh dari ranjangnya.
Tak banyak bicara, Bang Dewa menyangga tubuh Gita.
"Gita nggak kuat Mas, perut Gita rasanya di tekaan" Kali ini Gita tidak mengajak tarik urat dengannya, hati Bang Dewa menjadi tidak tega.
"Bersandar di bahunya Mas.. Mas pegangi adek..!!"
Tangan Gita belum sampai menggapai tangan Bang Dewa tapi gadis itu sudah ambruk sempurna.
"Duuhh.. piye iki? Gita saja lemas begini. Bagaimana anakku??" Gumam Bang Dewa kemudian mengangkat tubuh Gita yang hampir setiap hari pasti pingsan seperti ini. Ia sampai melupakan luka di pinggangnya saking mencemaskan keadaan Gita.
.
.
__ADS_1
.
.