Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
35. Tidak berani berkutik.


__ADS_3

"Maass.. ada apa dengan Gita??"


Gita menunduk tidak berani menatap langsung ke arah Bian.


"Maass..!!"


"Gita hamil. Sepuluh minggu." Jawab Bang Dewa.


"Hamil???? Gita hamil lagi????" Kening Bian sempat berkerut karena Gita baru saja melahirkan Angger tapi sekarang sudah hamil lagi.


Bang Dewa mengacak rambut Bian. "Nggak usah mikir macam-macam, itu benar-benar anak Mas Dewo."


"Bu_bukan begitu maksud Bian Mas." Bian berjalan mengikuti langkah Bang Dewa yang menuju belakang rumah.


"Iyaa.. Mas tau. Mas yang teledor dan khilaf. Mas salah.. memang tidak seharusnya terjadi, kurang sabarnya Mas Dewo yang membuat semuanya terjadi. Bukan salah Gita juga." Bang Dewa mengecup kening Bian. Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.


"Bian tetap senang Mas, malah senang sekali. Bian hanya kaget, kenapa bisa secepat ini Allah memberi kita rejeki. Untuk kali ini Bian minta betul agar Gita tidak stress, tolong beri Gita perhatian. Ibu hamil sangat butuh perhatian."


"Khan sudah ada kamu juga dek." Sengaja Bang Dewa menjawab demikian agar Bian pun tidak merasa ada yang berbeda di antara mereka.


Bian terdiam sejenak, apakah benar suaminya ini akan tega membiarkan Gita yang sedang hamil tanpa perhatian yang berarti. Selama hamil pasti hormon wanita ingin selalu di manja dan di perhatikan apalagi saat menginginkan sesuatu pasti kebanyakan orang pertama yang di cari adalah suaminya.


"Kalau Mas nggak mau urus Gita, biar Bian saja. Mas ini jahat sekali sama istri."


Bian berjalan menghampiri Gita lalu menggandeng tangannya untuk masuk ke dalam kamar.


Bang Dewa dan Gita saling melirik. Bang Dewa mengangguk memberi isyarat semua pasti akan baik-baik saja beserta ribuan kata tak terucap. 'Maaf, mungkin ini cara yang terbaik untuk kita.'


...

__ADS_1


Bang Dewa menggendong baby Angger, telinganya mendengar Gita mual dan muntah. Suaranya terdengar sangat tersiksa. Lama kelamaan hatinya tak tega juga. Bang Dewa pun menidurkan baby Angger kemudian menghampiri Gita di kamar mandi.


"Mas saja yang bantu..!!"


Bian membiarkan Bang Dewa membantu Gita sebab dirinya juga sedang mengerjakan pekerjaan rumah yang lainnya.


"Hhhkk.."


Bang Dewa memijat tengkuk Gita dengan sabar. Sudah tidak ada lagi yang bisa di muntahkan dan hanya tersisa cairan.


"Deek.. Bian..!! Tolong buatkan teh hangat ya, jangan terlalu manis."


Gita melambaikan tangan tanda menolak, di usia kandungan yang mulai besar seharusnya sudah tidak ada mual lagi tapi memang keadaan kehamilan Geeta memang berbeda.


"Ibuuu.. Gita pengen ketemu ibu..!!" Pinta Gita.


"Nggak, Gita mau sama ibu."


-_-_-_-


Malam sekali ibu datang ke asrama, setelah bertemu dengan Bian dan menyapa menantu pertamanya, ibu segera menemui istri muda putranya.


"Gitaa.. ini ibu ndhuk."


Gita memeluk ibu mertuanya dengan erat. Ibu mengusap air matanya sendiri melihat perjuangan seorang Gita yang ia tau selama ini begitu tersia-siakan karena putranya.


"Bu.. bolehkah besok ayah cabut ubi lagi untuk Gita. Gita pengen makan ubi bakar yang ayah buat."


"Boleh sayang, nanti Ibu bilang biar besok ayah cabut ubinya ya.. bilang saja di kebun yang mana. Tapi benar nih hanya ayah saja yang ambil?? Mas Dewo nggak di minta apa-apa??" Tanya ibu yang sebenarnya tau bahwa menantunya sedang ingin di manja namun keadaan yang membuat Gita tidak bisa melakukannya. Sungguh menantunya itu begitu menghargai dan menghormati Bian sebagai istri pertama hingga ia mengorbankan segalanya.

__ADS_1


"Gita pengen........"


~


"Masa nggak ada ngidam yang lain. Pepaya ya di senggol saja pakai galah, kenapa harus di panjat??"


plaaakk..


Ayah menepak lengan Bang Dewa.


"Jangankan manjat pohon pepaya, dulu ibumu minta ayah ngorek kacang tanah di kebun orang juga ayah berangkat." Kata ayah.


Bian tertawa terbahak mendengarnya apalagi wajah ayah dan ibu sudah sangat menghakimi Bang Dewa.


"Apa Mas Dewo pikir punya istri hamil itu mudah. Belum tau aja nanti kalau istri tiba-tiba ngambek gara-gara hal sepele." Imbuh Bian.


"Bukan begitu, masa iya Mas yang gagah begini manjat pohon pepaya?? Kalau di lihat anggota bagaimana?? Tinggi pohon pepaya nya saja hanya dua meter." Protes Bang Dewa.


"Ya sudah, nggak jadi saja." Gita menghapus air matanya tapi isakan tangisnya masih terdengar.


"Duuhh.. yowes.. besok Mas Dewo manjat. Ora usah nangis to dek.. tratapen lho atiku." Jawab Bang Dewa seketika mati kutu.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2