
"Tidak ada, tapi kenyataannya Mas Dewo memprioritaskan Gita. Mas Dewo memang selalu sama Bian tapi pulang kerja pun terkadang sampai malam." Protes Bian.
"Suamimu ini abdi negara dek, seharusnya kamu paham kesibukan Mas, waktu kita bersama memang tidak banyak." Kata Bang Dewa.
"Bilang saja kalau Mas diam-diam pasti menemui Gita. Iya khan Mas?"
"Sudah dek. Mas capek dan tidak mau berdebat sama kamu. Mas mau ke rumah Gita dulu..!! Si kecil rewel." Bang Dewa meninggalkan Bian. Belakangan ini Bang Dewa pun merasa ada yang berbeda dari Bian.
...
Gita berjalan sangat pelan sambil membawakan segelas teh hangat untuk Bang Dewa yang sedang mengerjakan tugas kantor melalui laptopnya.
"Di minum dulu Mas..!!" Gita menyerahkan segelas teh hangat. Tangannya saja masih gemetar, wajahnya juga pucat.
"Mas bisa ambil sendiri dek. Kamu banyaklah istirahat, jangan buat Mas khawatir..!!!" Kata Bang Dewa sambil menerima gelas dari Gita. Wajahnya ikut memercing melihat cara jalan Gita yang sedikit mengambang mengangkat tumitnya. "Sshhh.. masih sakit sekali ya?"
"Sedikit Mas." Jawab Gita namun tidak sesuai dengan apa yang di lihat Bang Dewa.
Benar saja, baru selesai Bang Dewa bicara.. Gita sedikit terhuyung dan Bang Dewa menahannya. "Sudaah.. sudaahh... Kamu benar-benar belum kuat dek. Tidurlah, atau mau Mas temani?"
Gita mengangguk, rasa hati ingin ditemani tapi mulut enggan berbunyi.
"Dewoo, temani istrimu..!! Biar anak-anak sama ibu. Istrimu itu bandel sekali.. seharusnya Gita banyak tidur, tadi sempat mencuci juga padahal ibu juga bisa mencuci." Protes ibu yang jengkel karena mencemaskan menantunya.
"Nanti Dewo urus Bu." Jawab Bang Dewa. Tak menunggu jawaban Gita, Bang Dewa langsung membawa Gita ke dalam kamar.
...
Gita sudah tidur dan Bang Dewa mengurus segala cucian kotor milik Gita dengan tangannya sendiri tanpa rasa kesal ataupun jijik.
__ADS_1
Hati Bang Dewa terasa pedih mengingat kelahiran si kembar yang penuh perjuangan dari Mamanya. Mata kepalanya menyaksikan Gita berjuang hidup dan mati untuk buah hatinya.
Dari balik jendela, seorang gadis sedang menggendong baby Angger.
"Bu, ibu pernah atau tidak di sayangi Pak Dewo sampai seperti itu? Darah usai persalinan Bu Gita juga Pak Dewo yang tangani. Bagaimana ya Bu Gita ini??" Ucap Siwi, gadis yang membantu Bian menjaga Angger.
"Sepertinya itu sangat wajar Wi, suami membantu istri usai persalinan. Kewajiban Mas Dewo juga khan bertanggung jawab atas hasil kerjanya." Jawab Bian dengan tulus.
"Tapi Bu, bapak akan berkurang rasa cintanya sama ibu. Saya pikir Bu Gita ini licik sekali, pura-pura sakit dan tidak melayani Pak Dewo sama sekali." Kata Siwi.
"Masa sih? Tadi saya intip, Gita masih sakit."
"Eehh ibu nggak percaya, ibu harus selamatkan Pak Dewo.. dimana-mana istri kedua itu tidak tau diri. Bu Gita sudah membuat Pak Dewo seperti babu." Imbuh Siwi lagi.
Hati Bian yang sudah baik-baik usai sholat malah jadi kembali terusik apalagi ia kemudian melirik dari jendela, Bang Dewa sedang membersihkan kain milik Gita yang kotor.
...
"Sayangnya Mama Bian. Cepat besar ya sayang..!!" Ucapnya kemudian kembali mengecup kening si kecilnya, tapi kemudian pandangan itu mengarah pada Gita dengan tatapan kesal. "Apa masih sesakit itu???" Tegur Bian.
"Ng_gak mbak.." Jawab Gita.
"Kalau begitu jangan terlalu membebani Mas Dewo. Pekerjaan Mas Dewo juga banyak, tidak hanya mengurusmu saja..!!"
"Ii_ya Mbak, Gita minta maaf ya..!!" Gita tak berani melawan apa kata 'kakaknya'.
...
Mengingat ucap Bian, Gita pun mengerjakan segala sesuatunya sendiri tanpa sepengetahuan Ibu, ayah mertua juga Bang Dewa. Gita membersihkan rumah dan yang terakhir menggeser galon sendiri saat ibu dan ayah sedang asyik bermain dengan ketiga cucu bersama Bian.
__ADS_1
Bang Dewa yang melihat keakraban itu menjadi lega namun ia was-was karena tidak melihat Gita berada di sana.
"Assalamu'alaikum." Sapa Bang Dewa kemudian bersalaman dengan kedua orang tuanya kemudian mengecup pipi, kening dan bibir Bian. "Capek momong nggak dek?"
"Nggak Mas, Bian senang." Jawab Bian.
"Dimana Gita?" Tanya Bang Dewa.
"Tidur Mas."
"Mas lihat Gita dulu ya..!!" Perasaan Bang Dewa mulai tidak enak.
Duughh.. braaakk.. praaang..
"Gitaa..!!" Bang Dewa berlari dan melebarkan langkahnya.
Ayah dan ibu yang panik pun ikut menyusul.
"Gitaaaa.. astagfirullah dek.." Bang Dewa kelabakan melihat Gita kejang dan bertebaran banyak darah di sana sini. "Kenapa kamu kerjakan semua ini dek?? Galon ini berat. Bahkan ayah ibu saja Mas larang..!!!" Bang Dewa histeris sambil membawa Gita ke ruang tengah.
"Ibu bantu le." Kata ibu.
Bian berdiri tanpa kata. Syok melihat keadaan Gita dengan kondisi begitu mengenaskan.
.
.
.
__ADS_1
.