
Gita melakukan tugas sebagai ibu rumah tangga seperti biasanya. Pagi sekali Gita sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk keluarga sedangkan Bian sibuk mengurus si kecil Angger yang kembali tidur nyenyak.
Bang Dewa ikut terbangun mendengar suara bising istrinya. Sudah satu minggu ini dirinya tidur di kamar Bian. Setelah kembali dari penugasan, Bang Dewa belum sekalipun tidur di kamar Gita. Perlahan ia menutup pintu kamarnya.
"Kenapa si tutup Mas?" Tanya Bian.
"Kangen kamu." Jawab Bang Dewa. Sudah sekitar dua bulan Bang Dewa belum menyentuh Bian karena istrinya itu selalu menolak. "Boleh nggak?"
Bian tau dirinya sudah cukup lama mengabaikan Bang Dewa. Hormon yang sudah berkurang drastis membuatnya kehilangan gairah bahkan untuk melayani hasrat Bang Dewa.
"Boleh Mas, tapiii......" Jawab itu mengambang karena ia sendiri sudah tau kelemahannya.
"Nggak apa-apa, nafkah batin itu wajib.. kamu berhak mendapatkannya apapun keadaannya. Nikmati segala hal di dunia ini dengan ikhlas." Tak membuang waktu lama Bang Dewa mengangkat Bian naik ke atas ranjang. "In action sayang..!!"
:
Gita samar mendengar suara 'cinta' dari dalam kamar Bian dan Bang Dewa. Ia menarik nafas panjang karena paham posisinya hanya sebagai istri kedua, tidak untuk berharap lebih. Sebagai pihak ketiga jelas mentalnya selalu tertekan dan rasa bersalah tidak pernah hilang dari lubuk hatinya yang terdalam.
cckkllkk..
Bang Dewa mengecup sekilas kening Gita yang sedang sibuk di dapur tanpa menyadari jika suaranya tadi sempat terdengar istri mudanya itu. Tanpa kata, tanpa sapaan sayang.
"Mau sarapan Mas?" Tanya Gita.
"Nanti.. mau mandi dulu." Jawab Bang Dewa singkat. Tangannya mengusap perut Gita tapi ia segera mengalihkan tangannya saat Bian datang dan secepatnya berlalu.
"Masak apa dek?" Sapa Bian.
"Nasi goreng aja dulu Mbak, yang cepat untuk sarapan Mas Dewo sama Mbak Bian. Oya, nanti Gita mau masak ikan goreng, sayur asem sama sambal. Gimana mbak?" Tanya Gita.
"Iya, itu aja nggak apa-apa. Kamu jangan terlalu capek. Nanti Mbak yang bereskan rumah." Jawab Bian.
__ADS_1
"Gita pamit keluar ya Mbak."
"Duuhh dek, jangan sering keluar rumah.. Mas Dewo bisa marah, Mas Dewo takut kamu nggak akan pulang lagi." Kata Bian yang sepertinya sekarang lebih paham maksud hati Gita.
Bian membelai rambut Gita. "Percayalah, Mas Dewo sayang sekali sama kamu Gita."
Selama ini ia tidak mengharap lebih karena tau seluruh cinta hanya milik Bian. Gita menepis perasaannya yang memang mencintai sosok 'Letnan Sadewa' yang pernah di tolongnya beberapa tahun silam tapi segala kenyataan harus di telannya, pria itu telah melabuhkan hatinya pada wanita lain, wanita baik budi dan tidak akan pernah ada niat dirinya untuk menyakiti wanita tersebut.
"Gita nggak memikirkan hal itu mbak. Gita juga tau, Mas Dewo mencintai Mbak Bian lebih dari apapun."
Mendengar itu Bian memeluk wanita yang begitu sabar harus berbagi raga dan hati suaminya. Bian tau betul bagaimana perasaan Gita saat ini dan ia pun tau Bang Dewa juga mencintai Gita sebab tak sekali dua kali dirinya memergoki Bang Dewa sungguh patah hati dan nyaris putus asa mencari Gita yang sempat hilang entah kemana.
"Maaf ya Gita, Mbak Bian membuatmu susah seperti ini. Biar nanti Mbak bilang agar Mas Dewo tidur di kamarmu."
Gita kaget dan melepaskan pelukannya. "Nggak Mbak, jangan..!! Gita nyaman tidur di kamar Gita sendiri. Mbak butuh Mas Dewo untuk bantu Mbak jaga Angger."
"Lhoo.. Angger nya saja nggak pernah rewel kok." Jawab Bian.
"Dek, tolong carikan kaos kaki donk..!!" Pinta Bang Dewa yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Tolong carikan kaos loreng Mas..!!" Pinta Bang Dewa pada Gita.
"Gita nggak tau tempatnya." Tolak Gita.
"Lalu siapa yang menyetrika dan menata pakaian Mas setiap hari?? Cari..!! Sampai dapat..!!" Perintah Bang Dewa dan Gita berjalan masuk ke kamarnya untuk mengambil baju seragam Bang Dewa.
~
Bang Dewa usai menyantap nasi goreng buatan Gita. Ia mengambil dompet di sakunya.
"Mas pulang sore, ya menjelang malam lah.. Ada tugas di luar kota. Ini uang jajan untuk kalian..!!" Bang Dewa memberi masing-masing istrinya sejumlah tiga ratus ribu rupiah. "Bian jangan makan banyak pengawet, Gita jangan makan terlalu pedas.. nggak kuat lambungmu..!!" Pesan Bang Dewa.
__ADS_1
"Iyaaa.." Bian segera memasukkan uang itu di sakunya.
"Iya Mas." Gita masih memegang uang tersebut di tangannya, ia masih terpaku.. bagaimana bisa Bang Dewa tau tentang hal ini. "Hmm.. Mas, boleh Gita main di luar?"
"Nggak, besok saja kalau mau jalan-jalan Mas antar..!! Sekalian belikan baju buat Angger." Pernah dua kali kehilangan Gita membuat Bang Dewa sedikit waspada.
Bang Dewa beranjak dan segera menghubungi seseorang. "Tolong standby di rumah saya..!! Pratu Wiryawan dan Prada Hendro..!!!"
"Ijin Dan, siapa mudinya?" Tanya seorang anggota.
"Nanti biar Letda Jazwan saja. Prada Hendro dan Pratu Wiryawan ada muatan di rumah saya. Jangan di beri muatan lain sebelum saya kembali..!!" Jawab Bang Dewa.
"Siap..!!"
...
Dalam perjalanan Bang Dewa banyak merenung. Bian setiap saat menagih agar statusnya segera di turunkan namun Gita masih menolak akan hal itu. Gita tidak mau posisi Bian tergeser.
"Mikir apa Bang?" Tanya Bang Jazwan melihat seniornya lebih banyak diam.
"Bian meminta statusnya turun dan menaikkan nama Gita. Menurutmu bagaimana?"
"Sebenarnya tidak apa-apa Bang, asal komitmen Abang tetap lurus.. tidak akan mengesampingkan Bian juga siap mendampingi Gita karena Gita baru masuk di dunianya yang baru." Kata Bang Jazwan.
"Itu sudah pasti. Besok kalau sudah luang, saya akan konsultasi ke pihak terkait di pengadilan agama."
Bang Jazwan mengangguk paham, hatinya ikut nyeri memikirkan masalah seniornya.
.
.
__ADS_1
.
.