Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
23. Tak bisa mengukur dalamnya hati.


__ADS_3

Gita menghapus air matanya saat ibu menyuapinya. Ini kali pertama ibu menyuapi dirinya meskipun ekspresi wajah sang ibu nampak datar saja.


"Terima kasih ya Bu."


"Hmm.. cepat habiskan makannya..!!" Kata Ibu.


"Sudah Bu. Gita nggak kuat makan lagi." Tolak Gita memang sudah merasa mual.


"Kamu mau berangkat kuliah. Belajar tidak bisa dengan perut kosong. Ayo makan lagi..!!"


Gita menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi.


"Anak itu bagaimana sih yah." Gerutu ibu pada Ayah yang sedang makan ikan mas bumbu acar. Terlihat ayah sangat menikmati dan ibu hanya bisa membuang nafas panjang. "Menantu kecil ayah tuh. Nggak mau makan..!!"


"Ya di bujuk lah Bu. Kalau ngomel sendiri kapan menantumu mau makan..!!"


...


Bang Dewa membolak balik lembar pekerjaannya namun satu pun tidak ada instruksi komandan yang bisa masuk dalam pikirannya. Wajah pucat Gita terbayang di pelupuk matanya.


"Ada apa dengan Gita? Apa dia sakit?" Gumamnya pelan.


"Selamat pagi Danki.. Letda Jazwan ijin menghadap..!!"


"Masuk..!!"


Bang Jazwan masuk ke dalam ruang Danki dan memperhatikan raut wajah gelisah seniornya itu. "Kenapa Bang?"


"Nggak ada apa-apa Wan. Ngomong-ngomong ada apa nih?"


"Menurut informan kita yang bekerja sama dengan pihak luar, pria yang bernama Marion atau Mulyono ini adalah bandar yang memasok narkotika di kalangan anggota termasuk dalam dua anggota kita." Jawab Bang Jazwan.


"Mulyono??? Seperti apa ciri-cirinya?" Bang Dewa mulai penasaran.


"Tidak terlalu tinggi, berkulit kuning, gigi depan ada yang renggang." Kata Bang Jazwan menjabarkan ciri-ciri Marion.


"Lalu siapa informan kita dari luar?" Tanya Bang Dewa.


"Lady Nera Bang. Gadis yang saya incar. Rencana mau saya lamar Bang." Bang Jazwan tersenyum malu penuh arti. Nama aslinya Anggita Prabacitra."


"Allahu Akbar.." Bang Dewa semakin lemas mendengarnya.


"Kenapa Bang? Abang kenal?"


Bang Dewa tak sanggup menjawabnya. Pikirannya berantakan tak karuan.


"Dia jarang di kenal orang Bang. Penyamarannya sangat sempurna. Wajar kalau Abang tidak tau." Kata Bang Jazwan. "Oiya Bang, nanti malam kami akan bergerak........."


"Saya ikut..!!"

__ADS_1


"Lhoo.. bukannya Abang mau geser sama saya ke seberang, jadi khusus untuk Abang tidak dapat SP ( Surat Perintah ) untuk penugasan lagi selain tanda tangan mengetahui alur kerja anggota??" Tanya Bang Jazwan memastikan.


"Saya ikut Wan..!!!!" Ucap tegas Bang Dewa karena dalam penugasan itu ada 'serangan' untuk penyergapan. Tiba-tiba hatinya gelisah memikirkan Gita.


"Siaapp Bang..!!"


...


Sepulang kerja Bang Dewa mencari Gita namun tidak ada istrinya di rumah. Ayah dan ibu ikut panik melihat tingkah putranya yang tidak seperti biasanya.


"Dek.. dimana Gita??" Tanya Bang Dewa.


"Kuliah Mas, seperti biasa Gita kuliah." Jawab Bian.


Bang Dewa masuk ke kamar Gita lalu membongkar isi lemarinya. Baru saja lemari itu terbuka, ada nametag bertulis 'Lady Nera' sebagai sapaannya. Tak hanya itu saja, ia melihat sebuah flashdisk dan mengambilnya.


"Ada apa Mas?"


"Kamu tunggu di luar dek?? Mas sibuk kerja."


Tak suaminya begitu sibuk, Bian segera keluar dari kamar Gita.


~


"Jadii.. dia adalah Gita.. Lady Nera.. gadis yang memakai topeng dan tertembak di bagian bahu kanan demi menyelamatkan nyawaku.. itu kamu????? Kamu yang dulu memakai nama.........."


Flashback Bang Dewa on..


Panggilan telepon dari Anna begitu mengganggu konsentrasi Bang Dewa. Saat ini dirinya masih menjalankan tugas untuk menangkap penyelundupan senjata api.


"Kenapa koordinatnya tidak akurat??" Gumam Bang Dewa sambil mempelajari titik serbu selanjutnya dan terpaksa dirinya mengabaikan panggilan telepon dari Anna kekasihnya.


Seorang gadis memakai topeng datang memakai pakaian sangat menggoda iman seorang pria. "Koordinatmu tidak akurat? Saya punya yang baru." Gadis tersebut menyandarkan lengannya di bahu Bang Dewa. "Perkiraanmu sudah benar, hanya garis serbu tidak bisa pakai ilmu kira-kira sayaang..!!"


Kejadian ini terjadi saat Bang Dewa sedang berada dalam penugasan. Seharusnya Bang Dewa bisa melakukannya hanya saja kali ini dirinya begitu ceroboh untuk menghitung titik koordinat hingga meleset.


"Cepat pergi dari sini, biar aku yang mengalihkan perhatian mereka..!!" Kata gadis yang di perkirakan masih sangat belia. Mungkin baru menginjak bahu SMA."


"Siapa kamu? Kamu masih sangat muda, bagaimana kamu melakukan semua ini?" Tanya Bang Dewa.


Sambil meremas dada Bang Dewa, gadis itu tersenyum nakal. "Saat ini orang bisa memanggilku black rose. Om Sadewo, namamu Sadewo khan?"


"Tunggu..!! Saya bahkan tidak paham bagaimana bisa ada wanita dalam tugas ini??"


Beberapa waktu berganti, Bang Dewa pun sudah memahami alur kerja bagian intelijen. Tidak semua pekerjaan bisa bergabung dengan pihak luar namun kali ini memang satuan tugas mereka bergabung dengan pihak luar untuk menyamarkan pergerakan dan setelah di ketahui, Black rose adalah seorang gadis kecil yang kepintarannya di atas rata-rata. Ia membobol jaringan kejahatan kelas dunia hingga pihak militer pun berani bekerja sama dan mendidiknya untuk membantu tugas mereka.


\=\=\=


Bang Dewa mengendap di balik riuhnya pelabuhan. Ia melihat target sedang membawa beberapa orang wanita agar masuk ke dalam sebuah kapal khusus.

__ADS_1


Sedikit gegabah, Bang Dewa tertangkap mata musuh.. saat itu lawan sudah mengokang senjata dan......


doooorr...


Bang Dewa sempat memejamkan mata namun tidak terasa apapun sampai ia menyadari ada seorang gadis kecil yang melindungi dirinya.


Beberapa orang pun seketika menghandle situasi.


"Black rose???" Bang Dewa hendak membuka topeng yang selalu di kenakan gadis itu tapi gadis itu menolaknya. "Kenapa kamu melindungi saya?" Tangan Bang Dewa menutupi bahu black rose yang terkena tembakan.


"Mungkin takdir." Jawab Black rose.


Bang Dewa begitu sedih melihat black rose nya tertembak, sudah beberapa waktu ini dirinya selalu bekerjasama dengannya.


"Saya akan membawamu ke rumah sakit..!!"


Tak lama ada dua orang berlari mengambil black rose dari pelukannya.


"Dengan cara apa saya membalas hutang nyawa padamu?" Tanya Bang Dewa.


"Kelak Allah yang akan menjawabnya..!!"


Kejadian malam itu membuat Bang Dewa mendapatkan teguran keras dari atasan. Ia tidak menyimpan rasa kesal meskipun sebenarnya Anna yang terus memecah konsentrasinya karena setiap saat selalu ingin menghubunginya.


Dan mulai malam itu juga Bang Dewa tidak bisa melupakan mata indah, kebaikan dan jasa black rose padanya.


Flashback Bang Dewa off..


"Kamu.. black rose yang saya cari??"


Bang Dewa menghapus titik air matanya. Ia menarik nafas panjang.


"Tuhan sudah mempertemukan kita kembali tapi.. saya sudah memiliki hati untuk wanita lain." Sesak mendesak dera nafasnya.


Bang Dewa melangkah keluar dari kamar Gita.


"Maas.. coba hubungi Gita. Bian sudah coba hubungi Gita tapi tidak di angkat..!!" Pinta Bian tepat saat Bang Dewa baru saja keluar dari dalam kamar Gita.


"Biar saja.. temannya banyak." Jawab Bang Dewa.


"Maaas..!! Bisakah sedikit saja Mas memperhatikan Gita..!! Gita juga istrimu..!!" Tegur Bian.


"Ada satu hati yang saya jaga."


"Tapi jangan biarkan hati yang lain terluka Mas..!!" Kata Bian terus membujuk Bang Dewa namun Bian tidak pernah tau sedalam dalamnya hati seorang Lettu Dewa.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2