Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
15. Kasus besar.


__ADS_3

Sudah Nara beri peringatan ya. Konfliknya juga ada tokoh dari masa lalu. Yang tidak tahan konflik harap skip.. skip.. skip..!!!!!!!


🌹🌹🌹


"Nggak mauu.. Bian nggak mau di tinggal."


"Ada Abangmu di luar dek. Nggak enak kalau Mas tinggal."


Bian malah menangis, hatinya yang terlalu sensitif sungguh tidak bisa di kompromi. Bang Dewa pun tak berani menjawab apapun, rasanya lebih baik berhadapan dengan Danyon saja daripada harus adu skill dengan Bian.


Sedang bingungnya Bang Dewa, ada yang mengetuk pintu kamarnya.


"Woo..!!"


"Masuk Bang, nggak di kunci." Kata Bang Dewa.


"Saya sama Rawa pulang dulu ya..!!" Pamit Bang Seba.


Bibir Bang Dewa baru terbuka tapi Bian sudah menyambarnya.


"Kenapa tidak daritadi, Bian mau sama Mas Dewoo..!!!!"


"Aahh elaaah.. iyaaa.. kantongin tuh Mas Dewomu..!!" Ucap gemas Bang Seba melihat tingkah adik bungsunya.


"Ma_af Bang." Bang Dewa merasa tidak enak dengan kedua Abangnya.


"Lanjut saja. Raya juga sudah rewel minta di temani." Jawab Bang Seba.


Disana Bang Rawa pun kerepotan membujuk Erika yang juga suka sekali meributkan hal kecil.


"Pulang yuk Bang. Erika ngomel saja sejak tadi." Ajak Bang Rawa dengan wajah cemasnya.


...


Bang Dewa mengusap pipi lembut Bian. Wajah cantik tanpa pulasan make up terlihat sangat natural, ia pun mulai menyadari perasaannya pada Bian.


'Aku selalu berharap bisa menemanimu seperti ini, setiap hari, setiap saat, seumur hidupku, tapi aku ini pun milik negara. Bagaimana jika tugas memanggilku? Apa kamu sanggup menungguku?'


Rasa cemas Bang Dewa akan masa lalu tak lepasnya menghantui pikirannya.


"Kenapa? Mikir Mbak Melani?" Tanya Bian menatap raut wajah cemas Bang Dewa yang entah memikirkan apa.


"Kenapa ya wanita selalu mencari bahan untuk ribut?" Tegur pelan Ban hp Dewa.


"Bian nggak mau ribut, Mas saja yang masih memikirkan Mbak Melani." Kata Bian memasang wajah cemberutnya.


Bang Dewa membuang nafas panjang, pasrah tak ingin ada keributan lagi. "Apa kamu ini dukun profesional sampai bisa menebak isi hati manusia?"


"Bian nggak mau dengar alasan apapun lagi." Jawab Bian.


Tak ingin keributan semakin melebar, Bang Dewa pun sengaja menghindar perlahan. "Mas mandi dulu ya, gerah nih."


Bukannya berakhir baik, Bian malah beralih posisi dan tertelungkup sambil menyembunyikan wajahnya di bawah bantal. Bang Dewa ternganga melihat sikap drastis sang istri.


"Ada apa dek??"

__ADS_1


"Kenapa Mas Dewo mau mandi?? Malas ya lihat Bian? Bian sudah nggak cantik lagi? Jijik lihat wajah Bian?" Bian menangis di bawah bantal.


"Hhhhh.. Ya Allah, stress tenan akuuu.." gumam Bang Dewa mengacak jambulnya. "Saayaaang.. Mas khan baru pulang kerja, lengket nih badan. Bukan karena nggak suka lihat Bian." Sebisa mungkin Bang Dewa merendahkan nada suaranya.


"Bohooong..!!!"


Bang Dewo mendekatkan wajahnya pada wajah Bian. "Kapan Mas pernah bohong? Mandi sama-sama saja yuk..!!" Ajak Bang Dewa.


Bian pun membuka bantal yang menutupi wajahnya. Bang Dewa mengulurkan tangannya. "Ayo.. mau nggak?"


***


"Jangan lama-lama ya Mas..!!"


"Mas Dewo kerja dek. Bukan ngelayap." Jawab Bang Dewo karena Bian terus saja menempel padanya.


"Bian ikut ke kantor ya..!!"


Bang Dewo cukup pusing dengan kerewelan Bian. Mana ada anggota yang membawa istrinya bekerja.


"Hari sangat panas. Mas takut kamu nggak kuat. Tunggu saja di rumah ya, Mas bolak balik pulang..!!" Bujuk Bang Dewa.


Meskipun dengan wajah cemberut, Bian mau menurut apa kata Bang Dewa.


...


Usai apel pagi, Bang Dewa melihat wajah Bang Tono nampak lesu. Bang Dewa mendekatinya. Tidak mungkin dirinya pura-pura tidak peduli dengan seniornya.


"Mau ngopi Bang?" Sapanya.


~


"Yang benar Bang? Abang menjatuhkan talak satu untuk Melani???" Tanya Bang Dewa tidak percaya.


"Iya, kamu jangan mencontoh jejak Abangmu yang tidak pantas di tiru ini Wo. Didik istrimu, sayangi istrimu..!!" Jawab Bang Tono dengan getar suara yang menunjukkan bahwa hatinya benar-benar terluka.


"Saya mohon maaf Bang. Jika saja saya tau kerasnya hati saya akan membuat rumah tangga Abang jadi goyah.. saya tidak akan pernah masuk ke dalam cerita hidup Abang dan saya akan mengubur dalam segala yang saya rasakan." Kata Bang Dewa.


"Mana boleh begitu, kamu juga berhak bahagia. Dua kali saya berumah tangga dengan orang yang salah. Saya harap kamu tidak akan salah langkah seperti saya." Nasihat Bang Tono. "Jaga istrimu baik-baik. Yakinkan dirimu kalau kamu mampu mengarahkan rumah tanggamu dengan baik..!!"


"Siap Abang, terima kasih banyak."


-_-_-_-_-


Siang hari itu Bang Tono berjalan pulang ke rumah. Tubuhnya terasa lemas karena banyak pikiran. Tak sengaja saat itu Bang Tono berpapasan dengan Bian yang juga sedang berjalan menuju kompi tempat Bang Dewa berdinas.


Sebersit rasa yang tidak ia mengerti terus membayangi hingga dirinya ingin terus bersama dengan pria yang telah menikahinya kurang lebih satu setengah bulan yang lalu itu.


"Bu Dewo mau kemana? Kenapa tidak ada yang antar?" Sapa Bang Tono. Dirinya tau juniornya pasti akan ribut jika tau istrinya pergi kemana-mana tanpa pengawalan.


"Mau ke kompi, ke ruangannya Mas Dewo." Jawab Bian.


Bang Tono tersenyum melihat kegelisahan Bian yang ingin segera bertemu dengan suaminya.


"Kebetulan Dewo ada di kantin. Tadi sedang ngopi dengan anggota yang lain juga."

__ADS_1


Dari jauh ada mata terus melihat dua sosok yang sedang berbicara dengan tatapan tajam.


:


Seorang anggota berlari kencang menemui Bang Dewa di saat Danton tersebut sedang berbincang dengan para anggota juga Bang Rawa dan Bang Seba.


"Ijin Dan."


"Ada apa??" Tanya Bang Dewa ikut kaget.


"Ibu.. di temukan kecelakaan berdua bersama Letnan Martono di jalan belakang kompleks. Sekarang beliau baru di bawa ke rumah sakit."


"Astagfirullah hal adzim.."


...


Beberapa orang tenaga medis masih belum keluar dari ruang tindakan hingga Bang Dewa gelisah di buatnya.


Tak lama dua orang dokter pun tiba. Mereka mendorong brankar yang membawa seseorang dalam keadaan tertutup kain putih.


Bang Dewa terhuyung lemah hingga Bang Rawa dan Bang Seba menyangga tubuhnya.


"Jenazah siapa Bang?" Tanya Bang Seba.


"Lettu Martono." Jawab dokter senior.


"Lalu dimana Bian????"


"Istrimu............"


Rasanya telinga Bang Dewa menggema, kakinya semakin tak kuat untuk menapak.


~ Kami sudah berusaha semampu kami, benturan yang sangat keras akibat benturan tersebut membuat Bian kehilangan rahimnya. Maaf kami harus mengambil tindakan darurat karena Bian sudah mengalami pendarahan yang cukup hebat. ~


"Dewoooooooo..!!!" Bang Seba dan Bang Rawa membantu mengangkat tubuh Bang Dewo yang terkapar tanpa daya.


\=\=\=


Selama satu minggu, sepanjang hari Bang Dewa terus menangisi Bian. Tak sedetikpun ia berjauhan dari istri kecilnya.


Kejadian kecelakaan yang di alami Bang Tono dan Bian memang membuat gempar Batalyon, selama itu juga Bang Rawa dan Bang Seba ikut menyelidiki kasus tersebut.


"Dalam pemakaman Almarhum Bang Tono, Melani terlihat sangat sedih Bang.. tapi kenapa aku melihat sesuatu yang janggal." Kata Bang Rawa.


"Kau benar Wa. Mungkin memang seharusnya Melani ikut kita curigai."


Bang Hisyam yang sedari tadi diam ikut angkat bicara. "Apapun yang terjadi pada Bang Tono dan Bian patut di curigai, termasuk saya tanpa kecuali. Kasus ini adalah kasus besar. Ucapnya sembari mengintip keadaan ruang rawat Bian dari kaca ruang ICU. "Bian masih sangat muda untuk menghadapi masalah sebesar ini dan dirinya koma, tak tau kapan akan sadar."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2