
Di ujung peluru. Terkadang kita harus membuka pemikiran, judul tidak selalu membahas hal seaslinya isi dari biji pistol. Namun disini ada hal-hal yang sangat genting dan membutuhkan penyelesaian tanpa harus ada ledakan yang mencelakai.
🌹🌹🌹
Bian menarik nafas panjang. Dirinya heran karena setiap kali Bang Dewa dan Gita tidak bisa berbicara manis. Mereka akan selalu berdebat dan adu mulut.
"Kenapa Mas nggak bisa ngalah sama Gita? Apa mau ribut seperti ini terus?" Tegur Bian.
"Gita terlalu kekanakan. Mas nggak suka..!!" Jawab Bang Dewo.
"Gita tak ubahnya Bian di masa lalu. Sayangi dia, semakin Mas keras dengan Gita, dia akan semakin membangkang."
Bang Dewa menatap mata Bian. "Bagaimana Mas bisa lembut sedangkan rasa cinta saja tidak ada."
"Munculkan Mas, lakukan dengan hati seperti Mas melakukannya dengan Bian dulu. Cinta itu pasti tumbuh perlahan." Kata Bian berusaha keras untuk membujuk Bang Dewa.
"Kamu memang tidak waras. Dimana-mana istri menolak poligami. Kamu malah mendorong suamimu. Sebenarnya kamu kenapa??"
"Bian sudah bilang.. Bian ingin jadi ibu." Jawab Bian singkat.
Sekali lagi bibir Bang Dewa tak sanggup berkata-kata jika sudah menyangkut Bian dan anak namun kali ini ada dilema yang lebih fatal. Gita yang ia sangka adalah wanita kotor ternyata malah sangat bersih. Hatinya terombang ambing bagaimana menjalani kehidupan rumit di depan matanya.
"Ya Maaass.. tolong..!! Setelah ini Bian tidak ingin apapun lagi..!!" Pinta Bian.
Bang Dewa memeluknya dengan erat. Bahkan sangat erat. "Mas minta maaf untuk sebelum dan sesudah yang akan terjadi. Percayalah Mas akan selalu mencintaimu. Tolong beri Mas waktu untuk berpikir. Semua juga tidak mudah bagiku."
Bian mengangguk, sungguh tidak ada tangis dari istri Lettu Sadewa itu. Bian sebenar benarnya ingin mendekat pada Sang Pemberi Hidup.
"Jangan terlalu lama ya Mas..!!"
Tak sanggup lagi Bang Dewa membalasnya. Setitik air matanya cukup mewakili bahwa hatinya sungguh terluka. Masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ada wanita lain di dalam hidupnya.
\=\=\=
Satu minggu setelahnya. Bang Dewa masih belum bersedia masuk ke kamar Gita dan Gita sendiri pun masih asyik dengan dunianya seakan tanpa beban. Jelas saja hal ini membuat Bian sangat gusar karena tak ada perkembangan sedikitpun dari suami dan madunya padahal setiap hari Bang Dewa hanya menuntut malam panas bersama dirinya.
"Mbak Bian.. mulai hari ini Gita nggak pulang ya. Mau menginap di rumah teman. Persiapan KKN." Pamit Gita.
"Nggak bisa dek. Mas Dewo paling nggak suka istrinya menginap di luar. Mas Dewo pasti marah besar." Tolak Bian.
__ADS_1
"Itu khan Mbak Bian. Kalau Gita mah nggak ngaruh mau pulang seminggu lagi atau tahun depan sekalipun Mas Dewo nggak akan cari Gita." Kata Gita.
Bian memeluk Gita, ia tau seminggu ini tekanan dari Bang Dewa untuk Gita sangat berat. Bang Dewa meminta Gita mengerjakan semua pekerjaan rumah hingga tugas kuliahnya terbengkalai. Tak jarang Gita tidur di jam satu pagi agar bisa mengerjakan tugas kuliahnya sebagai seorang calon sarjana teknik mesin. Bian hanya bisa membantu Gita saat Bang Dewa sedang berada di kantor, jika tidak.. maka Bang Dewa akan marah.
"Nanti Mbak bilang lagi sama Mas Dewo ya, biar tugasmu nggak berat. Mbak tau Kamu pasti capek dek."
"Nggak apa-apa Mbak, Gita kuat. Mana ada istri tentara lemah." Gita menyadari ucapannya yang sedikit salah. "Eehh.. maksud Gita......"
"Nggak ada yang salah Gitaa.. kamu memang istri seorang tentara. Maaf.. mbak yang salah sudah membuatmu jadi seperti ini." Kata Bian.
"Iihh.. Mbak Bian kenapa sih. Gita baik-baik saja."
Bian sangat sedih karena Gita terlihat sangat pucat.
-_-_-_-_-
"Hari ini Gita mau menginap di rumah temannya. Nanti Mas jemput Gita saja ya..!!" Pinta Bian.
"Biar saja Gita di rumah temannya. Kita bebas mau buat apa saja." Bang Dewa menciumi wajah Bian dengan sayangnya. Ia tidak pernah membedakan keadaan Bian yang dulu dengan yang sekarang. "Ke kamar saja yuk sayang..!!" Ajak Bang Dewa. Karena banyaknya kesibukan di kantor, hampir tiga minggu lamanya Bang Dewa belum menyentuh Bian sama sekali. Rasa rindunya sudah menekan urat syaraf di kepala.
"Bian nggak enak badan Mas. Mau tidur saja." Tolak Bian. Bukan tanpa sebab Bian menolak ajakan Bang Dewa. Sejak dirinya tidak memiliki rahim, keinginannya untuk 'berdua' bersama Bang Dewa menjadi berkurang drastis. Bukan sekali dua kali dirinya mengecewakan sang suami tapi apalah daya, tubuhnya memang sudah tidak seperti dulu lagi.
"Jemput Gita..!! Dia istri Mas juga. Ingat.. suami wajib memberikan nafkah yang seharusnya." Kata Bian mengingatkan. Bian menatap mata Bang Dewa untuk menguatkan batin suaminya. "Didik Gita Mas, Mas pasti sanggup..!! Jangan lalai.. lakukan tugas Mas sebagai seorang suami..!! Kalau Mas nggak baik sama Gita, siapa yang nanti urus Mas? Minggu depan Bian berangkat umroh."
Bang Dewa mengecup kening Bian. "Kepik kecil itu merepotkan sekali."
"Ayolah Mas..!!" Bian ganti mengecup sekilas bibir Bang Dewa.
"Mas cari dia dulu ya..!! Sebentar saja."
...
Tanpa banyak kesulitan berarti Bang Dewa dapat menemukan keberadaan Gita.
Gita yang tau suaminya datang pun segera menghampiri karena tidak ingin kawan-kawannya tau tentang statusnya dan Bang Dewa.
"Pulang sekarang..!!" Ajak Bang Dewa.
"Gita masih ada kerjaan..!!"
__ADS_1
"Nanti bicara di rumah..!!" Kata Bang Dewa.
"Nggak mau Mas, Gita sibuk..!!"
"Apa hukumnya istri menolak ajakan suami????? Cepat naik mobil..!!" Perintah Bang Dewa
"Pulanglah Mas, Gita benar-benar sedang sibuk." Tolak Gita lagi.
"Melayani tamu priamu daripada suamimu?" Tanya Bang Dewa dengan nada tinggi.
"Oohh.. suami ya. Gita baru sadar kalau sudah punya suami." Jawaban Gita lumayan menyentil hati Bang Dewa.
"Saya tidak mau berdebat sama kamu. Bian memintamu pulang..!!"
"Nanti Gita pulang, tapi tidak sekarang." Jawab Gita.
"Gitaa..!!" Sapa seorang pria dari dalam club malam.
Gita berlari masuk, seketika Bang Dewa yang merasa di abaikan segera meninggalkan tempat dengan rasa marahnya.
***
Bian menggeleng menyimpan rasa kesal. Ia tau pasti alasan Gita tidak bersedia pulang ke rumah.
"Kalau Mas tidak kasar, pasti Gita mau pulang. Apa untungnya marah dengan Gita, yang salah keadaan, bukan Gita." Mata Bian sudah memerah menatap Bang Dewa namun suaminya itu tidak berani balik menatap Bian yang sedang marah.
"Dia pasti kembali dek." Jawab Bang Dewa.
Bian masuk ke kamarnya dan membiarkan Bang Dewa menyadari kesalahannya.
"Astagfirullah hal adzim.. tidak adakah yang mengerti perasaanku?? Kalau aku salah sedikit saja, keduanya akan menangis. Ya Allah.. bagaimana caranya agar aku bisa menghindar dari Gita?? Bukan hal mudah bagiku menahan rasa yang ada." Gumam Bang Dewa nyaris gila memikirkan dua wanita di hidupnya.
.
.
.
.
__ADS_1