Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
19. Masih alot.


__ADS_3

Bang Dewa membuka kaca jendela mobil di depan pos kesatrian.


"Selamat malam Danki..!!" Sapa seorang anggota piket jaga. "Selamat malam ibu.."


"Selamat malam Om." Bian menjawab sapa anggota dari suaminya dengan ramah.


"Malaam.. saya pulang bawa adiknya istri." Jawab Bang Dewa.


"Siap Danki.. silakan..!!"


Bian yang tadi hanya diam memantau ponselnya juga memberikan senyum dan sedikit menundukan kepala tanda hormat.


Anggota tersebut membalasnya dengan ramah. 'Adik' ibu Sadewa memang sangat cantik.


:


Hari sudah tengah malam saat mereka tiba di rumah. Setelah membersihkan diri, Gita pun masuk di kamar belakang padahal Bian sudah menunjuk kamar utama agar Bang Dewa dan Bian.


"Gita.. kenapa kamu tidur di belakang?" Tegur Bian menghampiri Gita di kamarnya.


"Mbak Bian khan tau ini lingkungan asrama, kalau Gita terlihat di kamar Mas Dewo.. apa kata orang nanti. Nggak apa-apa biar Gita di kamar belakang." Kata Gita dengan senyumnya.


"Tapi Gita.. ini malam pertamamu. Apa kamu Mbak atur jadwal bulan madu??" Tanya Bian.


"Nggak Mbak. Semua malam selalu sama, tidak ada malam pertama atau malam terakhir dan Bulan akan selalu manis jika kita ikhlas menjalani hidup." Jawab Gita.


"Betul itu.. tumben ada jawaban yang waras dari mulutmu. Tidak perlu malam pertama dan bulan madu." Sambar Bang Dewa "Cepat kamu masuk ke kamar dan kamu Gita.. tutup pintu dan kunci rapat..!!!!" Perintah Bang Dewa. Ia ingin mengurungkan niatnya untuk bicara berdua dengan Gita. Rasanya sungguh benci melihat wajah Gita.


:


Bian sangat kecewa dengan sikap kasar Bang Dewa Pada Gita. Istri Bang Dewa itu bungkam seribu bahasa. Ia sungguh mendiamkan Bang Dewa.


"Apa hanya gara-gara Gita saja kita harus ribut seperti ini. Mas sudah menuruti inginmu untuk menikahi Gita. Apalagi yang kurang?" Kata Bang Dewa.


"Bian ingin anak Mas, bayi dari hasil Mas sendiri." Jawab Bian.


"Sabar dek. Semua butuh proses....."


"Bian tau Mas, masalahnya Mas tidak segera memprosesnya. Mas bertele-tele. Gita kurang apa sih Mas? Dia juga sangat cantik." Ucap Bian sudah terlanjur kesal dengan Bang Dewa.


'Dek.. Bianku sayang.. andai kamu tau siapa Gita, mungkin kamu tidak akan inginkan dia. Dia perokok, pemabuk, tidak seperti yang kamu lihat. Keluarga juga pastinya tidak tau siapa Bian sampai mereka meninggikan nama Raden Ayu Anggita Prabacitra bahkan di pamerkan menjadi yang terbaik.'

__ADS_1


"Bukan Gita yang Mas mau. Mana bisa Mas menjajal perempuan lain dan mengkhianatimu terang-terangan seperti ini. Mas tau hatimu pasti sakit melihat Mas berduaan bersama dia."


"Gita bukan perempuan lain Mas, dia istrimu juga.."


"Istri yang kamu paksakan untuk hadir. Ragaku hanya satu Bian, hati ini sudah ada yang memiliki..!!" Kata Bang Dewa.


Bian melangkah memeluk Bang Dewa. "Bian sudah puas Mas, kata-kata ini sudah membuat Bian bahagia. Bian tau Mas bisa menempatkan kami dalam satu hati pada sisi yang berbeda. Bian tau di dunia ini tidak ada yang adil. Segala yang sempurna hanya milik Allah semata."


Bang Dewa melepas pelukan Bian dan memilih keluar dari dalam kamar.


~


Bang Dewa menuju belakang rumah, niatnya ingin melegakan hati dan pikiran namun saat itu Gita juga sedang duduk di belakang rumah sambil merokok dan minum minuman keras.


Sekilas Gita menoleh karena tau Bang Dewa sedang menatapnya.


"Sampai kapan kamu akan terus bertingkah seperti ini?? Terserah kalau kamu mau mabuk di jalanan atau di tempat kerjamu itu tapi tidak di rumah ini. Bian pasti kecewa dengan kelakuanmu..!!" Tegur Bang Dewa.


"Kenapa banyak orang tidak bisa menerima keburukan orang lain padahal belum tentu hatinya buruk." Kata Gita.


"Manusia tidak ada yang sempurna tapi sebagai manusia hendaknya kita mengurangi segala tingkah laku yang tidak patut di lakukan. Kita makhluk yang memiliki ajaran yang tetap, saya tidak ingin membandingkan antara laki-laki dan perempuan.. tapi perempuan lebih beresiko buruk pada kesehatan soal rokok dan minuman keras." Jawab Bang Dewa.


"Apa maumu?" Tanya Gita.


"Saya mau nanti kita ke rumah sakit dan melakukan proses bayi tabung. Saya mau kamu hamil dengan cara seperti itu karena saya tidak mau menyentuhmu. Saya mencintai Bian melebihi apapun." Jawab Bang Dewa.


"Nggak masalah, lakukan saja..!! Lebih cepat lebih baik. Tapi ada syaratnya..!!"


"Apa?"


"Andai Gita bisa hamil dan anak itu terlahir, lepaskan Gita..!! Gita tidak mau menyakiti hati Mbak Bian terlalu lama." Pinta Gita.


"Sebenarnya saya bisa saja tidak menikahimu. Bisa saja saya lari, tapi Bian minta anak dari saya. Mau tidak mau saya akan memenuhi.. tanpa harus menyentuh tubuhmu." Jawaban Bang Dewa lumayan menggores dan melukai hati Gita tapi gadis itu menahannya sekuat mungkin. "Saya minta selama kamu bersama saya, tidak ada pria lain yang menyentuhmu..!! Kamu dalam pengawasan saya..!!"


Hati Gita semakin sakit karena Bang Dewa menganggap dirinya sebagai wanita murahan. Wanita yang suka menjajakan diri pada sembarang pria. Gita menenggak lagi minuman kerasnya kemudian menghisap rokoknya, ia berharap bisa lupa dengan apa yang telah Bang Dewa ucapkan. "Terserah..!!"


...


Usai apel pagi Bang Dewa mengajak Gita ke sebuah rumah sakit swasta yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggalnya. Bang Dewa berharap hari ini bisa mendapatkan jawaban apakah program bayi tabung bisa di lakukan.


:

__ADS_1


Kening Dokter berkerut melihat semua hasil pemeriksaan yang ada. Sejak memeriksa kondisi Gita tadi pun dokter sudah bertanya-tanya. "Pak Dewa, istri bapak masih sangat muda. Kenapa tidak melakukan hubungan badan secara alami saja?" Tanya dokter.


"Terus terang ada banyak hal yang tidak bisa saya ungkapkan dok. Saya hanya ingin Gita segera hamil." Jawab Bang Dewa terbayang wajah sedih Bian.


"Apa tidak sayang Pak? Bu Gita ini masih perawan ting-ting, juga jauh dari penyakit yang berbahaya."


Bibir Bang Dewa terasa terkunci, jelas-jelas dirinya pernah melihat Gita berjalan mesra dengan rayuannya bersama seorang pria, tapi kenapa hasil pemeriksaan dokter mengatakan bahwa Gita masih tersegel rapat. "Benarkah itu dok."


"Saya serius Pak. Saya pun tidak mungkin main-main, apalagi keterangan saya juga membawa nama profesi saya." Jawab dokter.


Bang Dewa mengangguk paham. Tapi kini dirinya pusing tujuh keliling, ia sungguh tidak ingin menyentuh Gita meskipun saat ini keadaan Bian tak sepenuhnya bisa melayani hasratnya.


...


"Kapan di mulainya?" Tanya Gita.


"Kalau saya sudah siap." Jawab Bang Dewa ringan saja.


"Hhhh.. Ya Tuhan cepat bebaskan aku dari makhlukMu yang menyebalkan ini. Aku pengen pacaran sama laki-laki yang aku suka." Gumam Gita.


"Jangan macam-macam kamu..!! Saya sudah bilang jangan berurusan dengan pria lain selama bersama saya..!!"


"Mas Lee Min Ho." Jawab Gita.


"Siapa dia?? Anak mana??" Bentak Bang Dewa.


Gita menyimpan senyum geli melihat reaksi konyol Bang Dewa. "Itu.. yang rumahnya di seberang."


"Seberang mana?? Apa ada abdi dalem yang namanya Lee Min Ho?? Namanya saja aneh."


"Ada.. Mas saja yang nggak tau."


"Kamu itu mau hamil anak saya. Nggak usah ngayal jadi pacarnya Lee Min Ho." Bentak Bang Dewa semakin keras.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2