Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
18. Jadi satu.


__ADS_3

"Apa Mas Dewo mengajukan syarat tertentu?" Tanya Bian.


"Nggak mbak, biasa saja." Jawab Gita dengan senyumnya.


Bian memicingkan matanya merasa ada yang janggal sebab ia sudah tau pasti bagaimana sifat suaminya itu.


"Benarkah?" Bian tetap penuh selidik menanyai Gita.


"Mbak Bian.. maafkan Gita yang jadi harus menikah dengan Mas Dewo. Bian janji tidak akan melebihi batas."


"Tidak ada yang perlu di maafkan dek. Mbak senang, mbak yang minta pernikahan ini. Jangan berpikir macam-macam ya..!!" Pinta Bian.


Bang Dewa bersandar lemas di balik pintu. Hatinya terbolak balik berguncang hebat merasakan begitu cepatnya takdir membawa mereka ke arah ini.


Tak jauh dari sana, Bang Seba menghampiri Bang Dewa dengan rasa marah tak terkira karena juniornya itu telah menikahi wanita lain.


plaaakk..


"Apa ini yang di sebut dengan kesetiaan?? Kau tau ada banyak sanksi dan bahaya yang mengintai kalau kamu melakukan hal ini??? Kenapa kamu menikahi Gita??? Kamu tak sanggup hidup tanpa anak bersama Bian???" Tegur keras Bang Seba.


Tak ada jawaban dari bibir Bang Dewa, hatinya masih pedih dan terlalu sakit menerima kenyataan ini.


"Kau pria paling b*****t yang pernah kukenal Wo. Ingat, jika sampai ada air mata Bian yang tumpah, ingat.. masih ada Abangnya yang akan turun tangan." Ancam Bang Seba kemudian meninggalkan tempat.


Tak lama berselang Ayah dan ibu datang menghampiri, mereka tak kalah kecewanya dengan keputusan sang putra. Apalagi sang ibu yang sangat menyayangi Bian melebihi apapun.


"Kau ingat Dewo, selamanya menantu Ibu hanya Sabian. Ibu tidak mau ada yang lain. Kamu sangat keterlaluan Dewo." Ibu berlalu pergi.


Ayah turut menatap putranya. "Kau akan menangis sejadi jadinya jika rasa telah memenuhi batinmu. Bian dan Gita sama-sama wanita. Salah satunya pasti juga menangis karenamu." Kata Ayah kemudian menyusul langkah ibu.


Bang Dewa meremas dadanya menahan rasa sakit dalam hati. Ia berusaha untuk tegas meskipun hatinya terluka cukup dalam.


...


Malam hari Bang Dewa dan Bian pulang menuju asrama. Bian juga turut membawa Gita ikut serta namun saat itu Bian melihat hal yang sangat menyakitkan hati.


Bang Dewa membantu dirinya mengangkat koper tapi suaminya itu membiarkan Gita mengangkat kopernya sendirian.


"Mas, bantu Gita juga..!!"


"Kamu mau saya membawanya pulang atau tidak???" Ancam Bang Dewa sembari membuka pintu kiri bagian depan untuk Bian.


Mau tak mau akhirnya Bian yang turun tangan membantu Gita.

__ADS_1


"Mbak temani duduk disini ya dek.." kata Bian.


"Kamu duduk di depan..!!" Perintah Bang Dewa meminta Bian agar duduk bersamanya di bangku depan.


"Mbak duduk saja..!! Gita nggak apa-apa kok duduk di belakang. Biar luas." Jawabnya dengan senyum.


Bian pun masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan menemani Bang Dewa.


Bang Dewa menjalankan mobilnya. Ia melirik menatap penampilan Bian yang berubah drastis. Jelas penampilan baru Bian membuatnya terpana. Jantungnya berdetak kencang. Jilbab yang di kenakan istri pertamanya membuatnya semakin terlihat anggun dan keibuan. Berbeda dengan Gita yang memakai rok jeans mini dengan kemeja ketat namun sama sekali tidak menggugah selera Bang Dewa.


"Kamu cantik sekali sayang." Kata Bang Dewa.


"Gita juga cantik lho Mas." Imbuh Bian mengarahkan perhatian Bang Dewa.


"Cantik itu relatif. Kamu pasti jantungan kalau tau kecantikan yang kamu puji itu tidak sesuai dengan hatinya." Jawab Bang Dewa.


Gita tak menggubris ucapan Bang Dewa, ia memainkan ponselnya dan mengarahkan kamera untuk mengambil gambarnya. Tak lama setelahnya ponsel Gita berbunyi.


Kening Gita berkerut tapi saat Bang Dewa meliriknya melalui spion tengah, ia belaga biasa saja seakan tidak terjadi apapun. Gita menyalakan loudspeakernya.


"Hai Om Mulyono.. tumben nih telepon Gita. Ada apa? Kangen ya?" Deru nafas Gita melaju cepat saking ngerinya melihat lirikan ekor mata Bang Dewa tapi ia tak peduli, yang jelas dirinya tidak ingin terlihat lemah di hadapan Bang Dewa.


"Kangen lah, Gita kapan ke club lagi?" Tanya Om Mulyono.


"Hmm.. sudah dulu ya Om. Gita masih di jalan. Sopir Gita ugal-ugalan. Mungkin mabuk." Kata Gita.


Bang Dewa langsung menekan klakson dan Bang Dewa menyelip membawa Bian dan Gita melaju cepat.


Gita mematikan sambungan telepon secara sepihak. Demi keselamatan bersama, Bian memeluk lengan Bang Dewa. "Maas, Bian takuut. Pelan sedikit ya.. nanti Bian pijatin di rumah..!!" Bujuk Bian.


Ajaib speedometer di mobil Bang Dewa menurun drastis. Ia mengecup kening Bian dengan lembut.


plaaak..


"Mas mau kita semua selonjoran jadi pindang?????" Teriak Gita menepak bahu Bang Dewa dengan sandal.


"Jangan bicara..!!!" Bentak Bang Dewa.


"Mas mau punya istri yang bisu????"


"Diam..!!!!"


"Nggak mau..!!" Jawab Gita masih ngeyel.

__ADS_1


Saat itu juga Bang Dewa menepikan mobilnya. "Turun..!!!!!"


"Maas..!!" Bian mengusap dada Bang Dewa.


"Turuun..!!!!!!"


"Turun ya turun. Gita juga nggak mau nikah sama barongsai pakai ilmu leak." Teriak Gita kemudian turun dan membanting pintu dengan kasar.


braaakk..


"Maass.. kenapa kasar sekali. Kasihan Gita." Tegur Bian. Ia ingin keluar mengejar madunya tapi Bang Dewa mencegahnya.


"Biar dia pergi, kalau bisa dari hidup kita...!!"


"Jemput Gita.. atau Mas akan lihat Bian yang pergi..!!!" Teriak Bian sampai menangis.


Hati Bang Dewa seketika melemah. Ia tak sanggup melihat tangis Bian. Akhirnya Bang Dewa melangkah berjalan menyusul Gita.


~


"Kamu jangan macam-macam. Sok merajuk manja. Saya tidak akan terpedaya akal wanita busuk sepertimu. Gadis malam penggoda banyak pria. Jangan kamu pikir saya tidak tau. Saya pernah melihat kamu bersama beberapa para pria..!!"


"Lalu apa masalahmu??? Gita juga tau Mas ada disana sedang berpelukan dengan wanita lain selain Mbak Bian. Apa Mas tau bagaimana sakitnya hati Mbak Bian jika tau kelakuanmu??" Teriak Gita.


"Heeh.. tutup mulut embermu itu..!! Jangan sampai Bian tau, kejadian itu tidak seperti yang kamu lihat..!! Kalau Bian sampai tau masalah ini. Tamatlah riwayatmu Gita..!!!"


Gita tersenyum mencibir penuh rasa kesal tapi ia juga tidak peduli dengan kata-kata Bang Dewa.


"Nanti kita bicara kalau Bian sudah tidur..!! Jangan buat Bian curiga kalau kita terlalu lama bicara." Bang Dewa merendahkan nada suaranya.


Gita memalingkan wajahnya, ia tidak ingin menitikkan air mata di hadapan pria yang sama sekali tidak mencintainya apalagi pria tersebut juga tidak memahami dengan baik siapa dirinya.


"Jalan..!!!" Sekali lagi ucap keras Bang Dewa sampai terasa sakit di hatinya.


'Bagaimana bisa Mbak Bian hidup dengan pria kasar seperti Mas Dewa. Pria yang sama sekali minus akhlak.'


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2