Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
34. Kejutan.


__ADS_3

Gita meremas perutnya, perutnya terasa begitu melilit. Sungguh rasanya ingin memuntahkan segala isi di lambungnya.


//


"Aaarrghh.. Astagfirullah hal adzim.." Bang Dewa memercing kemudian tiba-tiba saja Bang Dewa tumbang saat dirinya sedang menjadi pemimpin upacara.


bruugghh..


"Dewooo.. Woo.. Dewooo..!!" Pekik Bang Rawa berlari menghampiri littingnya, saat itu Bang Rawa sedang mengikuti daerah tugasnya. "Tolong bantu saya donk..!!"


Beberapa orang anggota membantu Bang Dewa untuk mendapatkan perawatan di mobil ambulans pihak kesehatan lapangan.


"Ngopo sih Wo, kok tumbang segala??" Tanya Bang Rawa. Ia memastikan betul bahwa Kapten Dewa masih dalam keadaan sadar meskipun tubuhnya lemas. "Nggak sarapan??"


"Sudah seminggu ini aku eneg banget lihat nasi putih, nggak doyan makan, rasanya aku hanya ingin tidur saja sepanjang hari." Jawab Bang Dewa.


Bang Rawa dan Bang Seba saling pandang.


//


Sakit yang dirasakan Gita sudah berangsur membaik. Bian membuatkan jahe hangat camilan untuk Gita agar sakitnya berkurang. Bian sangat cemas karena memang wajah Gita terlihat begitu pucat.


"Kita ke rumah sakit saja ya dek..!!" Ajak Bian.


"Gita sudah sehat mbak. Nggak usah ke rumah sakit lagi." Tolak Gita.


"Tapi dek, kamu juga demam. Sudah empat hari ini khan? Lebih baik cek darah biar kita bisa tau sakitnya apa..!!" Saran Bian yang memang pernah kuliah jurusan keperawatan.


...


Sore hari.


Bang Dewa yang sudah jauh lebih segar memarkirkan motornya di garasi rumah. Ekor matanya melirik Gita yang sedang mengepel lantai rumah. Sesekali Gita berpegangan pada apapun yang ada di sekitarnya.


"Sudah pulang Mas?" Sapa Bian.


"Assalamu'alaikum.. iya sudah. Ngomong-ngomong Gita kenapa dek?" Tanya Bang Dewa berbisik pada Bian.


"Wa'alaikumsalam.. Memangnya Mas nggak tak sudah empat hari ini Gita sakit demam. Badannya lemas, nggak mau makan sama seperti Mas. Cobalah Mas Dewo periksakan di rumah sakit. Jangan-jangan demam berdarah Mas." Kata Bian.

__ADS_1


Sekelebat rasa cemas membayangi hati Bang Dewa.


"Nanti Mas bawa ke rumah sakit."


gubraaaakk..


Baru selesai berbicara, terdengar suara keras dari teras depan rumah.


Bang Dewa segera melompat pot pembatas teras lalu menghampiri Gita.


"Ya Allah Gitaaa.. kamu kenapa dek??"


Gita memercing memegangi perutnya. Saat itu pandangan mata Bang Dewa mengarah ke bawah rok Gita. Bak di sambar petir, mata Bang Dewa membulat besar lalu dengan tangannya menyentuh paha dalam Gita.


"Astagfirullah.. ini kenapa dek? Bilang jujur sama Mas..!!" Nada suara Bang Dewa sampai meninggi.


Gita terus memercing kesakitan.


"Deekk..!!" Bentak Bang Dewa.


Gita malah terisak-isak membuat Bang Dewa dan Bian ternganga bingung.


Gita mengangguk takut tapi karena rasa sakitnya semakin menjadi, ia hanya bisa bersandar di dada Bang Dewa. "Gita akan membawanya pergi....."


"Maaaass, cepat bawa ke rumah sakiiiit..!!" Pekik Bian.


"Ada apa dek? Mas nggak tau lukanya dimana? Ini darahnya di hentikan dimana??" Ucap Bang Dewa seakan tanpa dosa.


"Pastikan di rumah sakit Mas, kemungkinan Gita hamil..!!!!" Geram sekali Bian meladeni ucap Bang Dewa.


"Ya Allah Ya Tuhankuuu..!!!!" Secepatnya Bang Dewa membawa Gita ke rumah sakit."


...


Dokter memeriksa kondisi Gita kemudian menatap wajah Bang Dewa.


"Usia kandungan sepuluh minggu ya Pak Dewa. Alhamdulillah masih bisa di pertahankan. Ini gambaran calon bayi Pak Dewa di dalam kandungan." Tunjuk dokter pada layar USG. "Pak Dewo, ini hasilnya..!! calon bayi Pak Dewa berjenis kelamin laki-laki...... dan perempuan."


"Alhamdulillah Ya Allah." Bang Dewa mengusap wajahnya lalu mencium perut Gita yang ternyata memang sudah menyembul keluar.

__ADS_1


"Pak Dewa, ada sedikit masalah dengan kehamilan istri bapak. Test darah ini menunjukkan........."


...


Sepanjang perjalanan Bang Dewa begitu mencemaskan keadaan Gita. Ia menyangga punggung dan perut Gita dengan segala bantal yang ada. Laju mobilnya pun amat sangat pelan sekali ibarat bekicot yang merayap di batu besar.


Klakson dari arah belakang terus berbunyi padahal Bang Dewa sudah mengambil jarak menepi.


"Heeeii.. bisa nyetir nggak??" Tegur seorang pria yang membawa mobil di belakangnya.


Bang Dewa tidak menggubris dan terus berjalan dengan konsentrasi agar satu kerikil pun tidak terinjak olehnya.


"Heeeeeeeiiii.."


Bang Dewa yang merasa terganggu segera turun dari mobil.


"Maas.. jangan Mas..!!" Gita berusaha mencegah Bang Dewa yang sudah tersulut emosi tapi Bang Dewa tak mau lagi mendengarnya.


"Saya sudah beri tanda agar bapak bisa lewat mendahului saya. Mobil yang lain bisa melintas." Kata Bang Dewa.


"Nggak usah banyak omong, kalau nggak bisa nyetir ya jangan nyetir..!!!" Bentak pria tersebut.


Karena situasi semakin tidak terkendali, Gita pun turun dari mobil. "Maas, jangan ribut lagi..!!" Suara Gita begitu halus membuat pria yang marah tersebut mengarahkan pandangan pada Gita. "Maaf ya Pak.. saya nyaris keguguran, jadi suami saya tidak bisa mengendarai mobil dengan kencang."


"Oohh begitu ya Bu. Maaf saya yang kurang sabar. Kalau begitu silakan di lanjut perjalanannya..!!"


Bang Dewa sampai melotot begitu mudahnya Gita mendinginkan hati pria lain.


"Kenapa bicara sama Mas Dewo mencak-mencak tapi sama pria lain bisa lembut begitu?" Tegur Bang Dewa memasang wajah kesal tiada tara. "Maaf ya Paak..!!!" Bang Dewa menirukan gaya bicara Gita. "Apaaa itu????"


"Mas cemburu??"


"Nggak." Jawab Bang Dewa malas.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2