
Bang Dewa begitu histeris. Bian yang melihatnya pun sampai tak bisa berkata-kata. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Bang Dewa memeluk Gita dengan penuh kasih. Suaminya itu sampai memohon-mohon agar Gita membuka membuka matanya.
"Ayo sayang, buka matamu..!! Jangan buat Mas takut. Anak-anak juga butuh kamu sayang." Bang Dewa mengusap pipi Gita. "Cukup Dinda.. Mas Dewo nggak kuat harus terus memendam perasaan seperti ini. Mas sayang sekali sama kamu Dinda. Jangan tinggalkan Mas Dewo ya..!!" Bisiknya di telinga Gita. Semua terlontar begitu saja tanpa ia sadari.
Bian terhenyak, ia mengingat semua kata Siwi. Gita memang berpura-pura dan hanya menginginkan Bang Dewa untuk dirinya sendiri.
"Maas, mungkinkah Gita hanya pura-pura?" Tanya Bian.
"Pura-pura?? Gita berdarah-darah sampai seperti ini dan kamu bilang Gita pura-pura. Ada apa denganmu dek???"
"Semua yang Bian dengar benar adanya Mas. Sekarang Mas Dewo lebih mencintai Gita daripada Bian." Protes Bian.
"Astagfirullah hal adzim.. Biaaaan..!!!!!" Untuk pertama kalinya Bang Dewa membentak Bian dan hal itu membuat Bian begitu tersentak dan terluka tapi Bang Dewa juga harus tegas karena dirinya adalah imam bagi kedua istrinya. "Mas tidak bermaksud membentakmu, tapi kamu sangat keterlaluan dek. Sekarang Mas tanya, siapa yang meminta Mas Dewo menikah lagi? Gita ini juga istri Mas, apa tidak boleh Mas Dewo memberi sedikit saja perhatian, apa kamu tidak sadar selama ini perhatian Mas lebih banyak untukmu."
Bian terdiam sejenak dan memang benar hampir seluruh perhatian dan raga Bang Dewa, dirinya lah yang memiliki.
"Dewooo.. jangan bentak istrimu..!!" Tegur Ayah. "Kalau memang istrimu ada salah, bicarakan baik-baik.. jangan kamu marahi."
"Saya sudah berusaha menegurnya Yah, tapi Bian tidak juga menyadarinya. Ayah sendiri tau, waktuku banyak ku habiskan untuk siapa. Ngidamnya Gita saja banyak yang tidak kupenuhi, saat Gita rindu dan butuh kasih sayangku.. aku malah asyik memeluk Bian yang sedang merajuk manja. Taukah kalian berapa banyak dosaku karena menyia-nyiakan Gita????" Kali ini Bang Dewa benar-benar marah dan sangat kecewa dengan Bian.
"Bian minta maaf Mas." Ucap Bian lirih dan takut dengan kemarahan Bang Dewa.
__ADS_1
Bang Dewa tak menjawab apapun, hanya ibu saja yang memeluk Bian agar istri pertama putranya itu tenang. "Nanti ibu bantu bujuk suamimu ya, tapi lain kali jangan begitu ya nak.. bukankah benar apa yang di katakan Mas Dewo, Mas Dewo mu lebih banyak menghabiskan waktu denganmu daripada bersama Gita."
Bian mengangguk karena memang benar begitulah adanya.
...
Bang Dewa memejamkan matanya, bersandar duduk di ranjang sembari mengusap kening Gita yang masih belum sadar juga. Sesekali air matanya meleleh, cemas memikirkan keadaan Gita.
Tak lama Gita terbangun dan memercing kesakitan. "Sshh.. aawwhh.. sakiit..!!"
Bang Dewa sigap mengusap perut bawah Gita. "Jangan banyak gerak dek. Tadi Mas panggilkan bidan, di jahit ulang." Kata Bang Dewa tak sampai hati melihat Gita kesakitan. "Kenapa angkat yang berat? Ayah ibu saja tidak Mas ijinkan bekerja dan angkat yang berat, kenapa galon air di rumah kamu angkat sendiri??"
Gita tidak menjawabnya sebab ia tau jika semua atas perintah Bian, pasti Bang Dewa akan marah besar.
"Ng_gak Mas. Gita bosan saja terlalu banyak diam di kamar." Alasan Gita karena tidak ingin membuat suaminya bersitegang dengan Bian.
Bang Dewa mengecup bibir Gita. Jelas ia tau Gita sedang menyelamatkan Bian dari amarahnya. "Okeeyy.. sekarang lapar atau tidak? Mas suapi ya..!!"
"Gita nggak lapar Mas. Bolehkah Mas temani Gita sebentar saja..!!" Pinta Gita.
"Boleh donk. Eehh, mas mau cerita sesuatu nih."
__ADS_1
"Apa Mas?"
"Anggota Mas ada yang terlilit hutang sangat banyak karena judi online, istrinya mengadu dan meminta cerai karena selama enam bulan ini tidak di nafkahi lahir batin. Bian tidak bersedia mendampingi Mas mencarikan jalan keluar karena lebih fokus pada anak-anak.. Angger, Anggara dan Abeeya. Apa kamu bersedia mendampingi Mas mencarikan jalan keluar? Mas tidak mungkin menerima istri anggota tanpa pendampingan istri." Tanya Bang Dewa.
"Gita nggak bisa Mas, status Gita tidak jelas. Gita hanya istri siri dan tidak pernah tercatat di Batalyon ataupun riwayat hidup Mas. Hanya Mbak Bian yang berhak."
"Kamu tenang saja, 'seluruh dunia' sudah tau kalau Gita adalah istri Kapten Sadewa. Mas sudah menjalani hukuman, juga sudah terima konsekuensi tunda kepangkatan selama satu periode dan biaya administrasi. Lebih ringan karena istri tidak menuntut Mas." Kata Bang Dewa.
"Benarkah Mas, hanya itu alasannya?"
"Iya, Mas juga sudah menjelaskan bahwa dalam rumah tangga kita ini banyak hal yang tidak bisa di jelaskan, yang pasti kita menjalani rumah tangga seperti ini dengan sadar dan tanpa paksaan." Jawab Bang Dewa. "Sekarang Mas tanya, apa dalam hatimu ada paksaan?"
"Nggak Mas, Gita mau menikah dengan Mas karena........"
"Karena apa?" Tanya Bang Dewa.
.
.
.
__ADS_1
.