
Bang Dewa melihat penampilan barunya melalui cermin kecil dari potongan bedak milik Bian.
"Waaahh.. Mas ganteng sekali ya dek. Kalau begini banyak cewek nyangkut nih." Kata Bang Dewa memuji dirinya sendiri.
"Cewek mana yang mau sama Mas kalau tidak karena terkena guna-guna." Jawab Bian jengkel kemudian menjauh dari Bang Dewa.
"Masaaa???? Bukannya dengan ikhlas kamu mau mas nikahi??"
"Itu karena posisi kita sudah terjepit Mas."
"Naaahh.. posisi seperti itu yang Mas suka." Jawab Bang Dewa dengan senyum nakal. "Eehh dek, jangan masuk ke dalam rumah dulu. Rambutnya masih kena di badan." Bang Dewa menunjukan banyaknya potongan rambut di badannya yang tidak memakai kain penutup juga baju Bian yang kotor.
"Terus bagaimana? Keran di rumah ini belum ada selang panjang." Kata Bian.
Bang Dewa melihat belakang rumah dinas mereka ada aliran sungai yang lumayan deras, indah juga airnya sangat bening terawat. "Itu khan ada sungai. Cuci saja disana..!!" Ia pun melangkah untuk memancing Bian ikut dengannya juga.
Benar saja, Bian melangkah mendekati sungai tersebut. Tak banyak membuang waktu Bang Dewa menarik Bian dan langsung masuk ke dalam sungai.
"Maaas.. Maaaaassss..!!!!"
byuuuurrrr...
Bian gelagapan masuk ke dalam sungai yang sama sekali tidak dalam. Seketika perutnya terasa di remas kuat. Ia pun semakin mengeratkan pelukannya.
"Bukannya kamu pandai berenang????" Tanya Bang Dewa.
"Tapi sekarang nggak bisa Mas." Jawab Bian.
"Di coba dulu. Sungainya tidak dalam." Kata Bang Dewa sembari berusaha melepaskan pelukannya.
"Nggak mauuu..!!!!! Bian sudah telat datang bulan..!! Nggak mau berenang dulu."
Bibir Bang Dewa rasanya terkunci rapat, ia terpaku mendengarnya. "Ulangi sayang..!!!!!"
Untuk pertama kalinya Bisa terpaku mendengar sapaan manis itu, apalagi wajah Bang Dewa menunjukkan rasa haru hingga sebulir air matanya menetes.
"Bian telat datang bulan, kemungkinan Bian hamil."
"Allahu Akbar.. yang benar dek??" Tanya Bang Dewa.
"Apa untungnya Bian bohong? Apa Mas Dewo nggak mau tanggung jawab???? Apa Mas Dewo mau bilang kalau Mas Dewo nggak nyentuh Bian?????"
"Mauu.. jelas mau dek. Iyaa.. Mas Dewo pernah 'malak' Bian. Maaf.. maafin Mas Dewo ya dek..!!" Hati Bang Dewa seketika lemah berhadapan dengan Bian. Suaranya jauh lebih lembut, sehalus sikapnya memperlakukan Bian. Bang Dewa memeluk dan menghujani Bian dengan ciuman sayang.
__ADS_1
Bang Seba yang tadinya hendak mendamaikan pasangan suami istri ini jadi mengurungkan niatnya. Nampaknya Dewa sudah lebih tenang di tangan yang tepat. Berita kehamilan Bian juga ikut membahagiakan hatinya.
...
Bian hanya berbaring saja sembari mendengarkan musik di telinga. Rasa hatinya jauh lebih tenang, tubuhnya juga bisa beristirahat santai sejak beberapa minggu ini menjadi relawan kesehatan di pemukiman atas pegunungan.
"Dek, mau makan apa?" Tegur halus Bang Dewa lalu duduk di tepi ranjang.
Bian menatap wajah Bang Dewa, ribuan pertanyaan bergelayut dalam benaknya. Apakah pria memang akan bersikap seperti itu jika akan memiliki seorang anak. Lalu jika anak yang ada dalam kandungan sudah terlahir ke dunia, sikap itu akan tetap ada atau hilang begitu saja.
"Deekk..!!" Bang Dewa sampai menyenggol tangan Bian karena istrinya itu hanya diam saja.
"Apa sikap sok lembut ini akan berubah kalau anak ini lahir?" Tanya Bian.
"Rasa seorang ayah pada anaknya tidak bisa menipu dan hati seorang suami selalu berdasarkan kasih dan tidak bisa di rekayasa." Jawab Bang Dewa. "Mas Dewo harap, kita berdua bisa menjadi lebih dewasa menjalani rumah tangga. Adanya anak di antara kita sudah merupakan 'teguran' dari Tuhan bahwa kita harus tetap bersama."
Bian masih terdiam seakan menyimpan beban berat di dalam hatinya. Tangannya mengusap lembut perut datarnya dan Bang Dewa seakan mengerti.
"Jika kita terus melihat ke arah belakang, maka bisa saja lubang di hadapanmu juga akan menjadi penghalang langkahmu. Jalan yang kita tuju saja terkadang masih menanjak, berkelok dan ada turunan curam. Bagaimana bisa kita terus menengok ke belakang." Kata Bang Dewa. "Mas Dewo punya masa lalu. Kamu pun punya kisah sendiri. Sekarang Mas tanya.. kita akan membangun rumah tangga dengan siapa?? Apa dengan masa lalu??"
Bian memalingkan wajahnya, ia menyembunyikan rasa sedih.
"Mas Dewo akan mempertemukan kamu sama Bang Hisyam. Bicaralah berdua, tanpa Mas..!!"
"Nggak.. Bian nggak mau bertemu Bang Hisyam lagi..!!" Tolak Bian, ia mengibaskan tangan Bang Dewa, sikapnya sarat dengan rasa takut.
Mendengar ketukan pintu, Bang Dewa secepatnya melangkah membuka pintu ruang tamu.
Mata itu seketika tajam menatap sosok Melani yang berdiri di sana tapi karena di belakangnya ada Bang Tono, mau tidak mau Bang Dewa memberi muka untuk seniornya itu.
"Silakan masuk Bang..!!" Kata Bang Dewa.
~
"Panggil istrimu yang kurang ajar itu. Beraninya dia membuat rusuh di dalam rumah tanggaku..!!" Pekik Melani tidak bisa mengontrol emosi.
"Katakan saja apa yang membuatmu kesal. Saya yang akan menanggung apapun yang sudah di lakukan istri saya..!!" Jawab Bang Dewa.
"Apa kau tau kalau sebenarnya Bang Hisyam dan istrimu ada hubungan? Apa kau tau selama kepergian istrimu sebenarnya Hisyam tau???? Abang harus bertanya, anak siapa yang ada di dalam kandungan Bian." Senyum kelicikan dan kejengkelan Melani tertangkap jelas.
"Iya, saya tau. Tau istri saya pernah ada hubungan dengan Hisyam dan ternyata kamu juga tau kehamilan istri saya." Bang Dewa balik tersenyum licik.
"Kamu tau darimana semua itu Maa???" Tegur Bang Tono.
__ADS_1
"Berhentilah menghakimiku. Aku ini sudah di dzolimi..!! Aku korban..!!" Teriak Melani.
Bang Dewa tetap bersikap tenang menghadapi situasi tidak masuk akal yang di ciptakan Melani. "Kau sudah sebut nama, sekarang akan ku datangkan Bang Hisyam kesini."
"Nggak perlu..!!! Kita selesaikan semua sekarang..!!"
Bang Dewa yang sudah pusing dengan keributan yang terjadi segera menghubungi Bang Hisyam.
~
"Saya malah dapat info dari Melani kalau Bian adalah adikmu, saya juga membawa Bian ke kontrakan yang sudah di sewa Melani, saya tidak berpikir macam-macam soal hal itu tapi soal perginya Bian dari kontrakan itu.. sungguh saya tidak tau. Hak mu untuk percaya atau tidak.. saya tidak berbuat hal di luar batas dengan Bian. Baru setelah kamu bilang ini, saya tau kalau Bian hamil."
"Terima kasih karena Abang mau bekerja sama dan kooperatif. Bukan maksud saya ingin menyudutkan Abang."
"Saya paham Wo, mungkin saya juga akan bersikap seperti ini kalau menyangkut istri."
Bang Tono kehabisan kata, wajahnya memerah menahan rasa malu. Beliau hanya bisa bersandar menahan air mata.
"Saya harus bagaimana Bang. Abang didik istri Abang atau saya sendiri yang menangani? Saya hampir pisah dengan istri karena mulut istri Abang." Kata Bang Dewa.
"Atas nama istri saya, juga saya pribadi.. saya mohon maaf atas segala yang sudah terjadi. Saya yang tidak bisa mendidik istri saya. Untuk kedepannya, saya akan introspeksi diri dan menasihati istri saya." Bang Tono yang berbesar hati membuat semuanya tidak tega termasuk Bang Dewa.
"Baik Bang. Saya anggap selesai masalah sampai disini. Kejadian ini untuk pertama dan terakhir kalinya. Jika terulang lagi.. nama besar Abang pun tidak bisa menyelamatkan Melani lagi..!!" Ucap lembut Bang Dewa namun penuh ancaman.
"Saya paham Wo..!!"
Melani keluar dari rumah tanpa pamit. Entah apa yang dirasakannya saat ini.
"Saya pamit dulu ya..!!" Bang Tono berpamitan membawa wajah malu tak terkira.
Bang Dewa mempersilahkan dengan hormat. Kini tinggal Bang Dewa dan Bang Hisyam duduk berhadapan.
"Auranya panas sekali Wo. Abang gerah nih." Kata Bang Hisyam mencoba membuka percakapan dengan hati-hati.
"Panas.. kalau Abang ikut jejaknya Melani." Jawab Bang Dewa. "Maaf, bukannya saya melarang Bian bertemu Abang, tapi Bian sendiri yang menolak padahal saya tidak ada maksud lain untuk kita bisa bicara bersama."
"Nggak apa-apa Wo. Kita selesaikan saja secara laki-laki. Eehh.. ngomong-ngomong kopiku habis. Buatkan lagi donk..!!" pinta Bang Hisyam.
"Siaaapp.. senior..!!"Jawab Bang Dewa meskipun masih tersisa rasa jengkel dalam hati.
.
.
__ADS_1
.
.