Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
8. Bertengkar lagi.


__ADS_3

Bang Dewa lapor datang ke ruangan Danyon. Ruang Bang Martono. Tak sengaja saat itu Bang Dewa melihat Melani merajuk manja memeluk Bang Tono. Mantan kekasihnya itu sedang meminta sejumlah uang untuk kebutuhannya.


"Selamat pagi.. Lettu Sadewa ijin menghadap..!!" Lapor Bang Dewa secara formal. "Selamat pagi Bu Martono." Mau tidak mau Bang Dewa tetap menyapa istri seniornya itu.


"Silakan masuk Wo, santai saja. Biasa bini suka manja." Kata Bang Tono.


"Pagi Om Dewo."


"Siap Bang."


"Lhoo.. kamu kenal Dewo?" Bang Tono melirik istrinya.


"Tadi khan Om Dewo sebut nama." Jawab Melani berdalih.


"Oiya ya. Oya.. Ngomong-ngomong ada apa nih. Bukannya Abang sudah monitor kedatanganmu hari ini." Tanya Bang Tono.


"Ijin Bang, saya mau minta rumah dinas. Kalau lewat bagian pelayanan personel, berkas saya belum beres. Jadi saya minta langsung ke Abang." Jawab Bang Dewa.


"Oohh.. ya sudah masuk saja ke rumdis. Bilang sama bagian pelayanan personel. Abang sudah ijinkan..!!"


"Siap Abang.. Terima kasih..!!"


...


Bian melihat rumah yang masih apa adanya. Rumah yang akan ditempati nantinya. Dindingnya pun kasar bekas tertimpa cat yang telah pudar.


"Kalau tidak suka nanti kamu atur sendiri..!!" Bang Dewa menyerahkan dua buah kartu ATM pada Bian dan istrinya itu menerimanya. "Jangan berharap tinggi dengan isinya. Kamu tau sendiri, Mas bukan orang berada." Sengaja Bang Dewa menekankan salah satu ujian dalam rumah tangga.


"Kerja keras donk Maaass.. Bian butuh uang, bukan butuh sabar." Sebenarnya Bian sengaja menguji mental Bang Dewa agar pria itu jengkel dan akhirnya melepaskan dirinya perlahan.


"Apa karena Hisyam menghujanimu dengan banyak uang?? Dia memanjakanmu dengan harta dunia????" Tanya Bang Dewa sedikit terpancing. Lelaki mana yang mau di bandingkan dengan lelaki lain.


"Iyaa donk..!!!!! Mana Bang Hisyam itu gantengnya bukan main."


Mata Bang Dewa memicing, ia sedang menerka apakah benar Bian mengatakan hal yang memuakkan itu sungguh jujur dari hati.


"Akan kutemui Hisyam mu itu dan akan kuhajar sampai babak belur..!!" Ancam Bang Dewa serius.


...


Ponsel Bang Dewa berbunyi, ada panggilan telepon dari Melani. Sudah puluhan kali mantan kekasihnya itu menghubunginya dan baru kali ini Bang Dewa mau mengangkat panggilan teleponnya. Melani ingin bertemu dengannya.


"Kalau ada perlu katakan saja disini. Saya sibuk, saya ini hanya bawahan suamimu..!!" Kata Bang Dewa.

__ADS_1


"Sebentar saja Bang. Aku ingin minta maaf."


"Saya sudah memaafkan kamu. Anggap saja pertemuan kita selama ini hanya mimpi. Bahagialah kamu bersama suamimu, saya juga sudah beristri." Jawab Bang Dewa.


"Aku tau kamu tidak mencintai istrimu. Kamu hanya mencari pelampiasan karena aku meninggalkan mu." Ucap Melani. "Sungguh aku tidak sengaja melakukannya bersama Bang Tono."


"Akhirnya kamu kembali pada derajat asalmu. Sejak jaman kita bersekolah, kamu terjerumus lembah hitam, pernahkah saya ikut menikmati tubuhmu?? Bahkan sampai saya membawamu ke kota ini bersamamu, pernahkah saya melecehkan dan menjengkali setiap inchi tubuhmu?? Saya berusaha menghormati dan menghargai kamu sebagai wanita yang saya pilih. Saya pernah berharap dari rahimmu akan tumbuh anak-anak Sholeh dan sholehah ku. Tapi semua sudah usai Mel.. saya sudah mencintai gadis lain."


"Secepat itu kah hatimu berubah? Hanya dalam hitungan jam saja hatimu berpaling. Apa itu memang kebiasaan laki-laki. Mudah menitipkan hati pada yang lain????" Melani seakan melimpahkan kesalahan pada Bang Dewa. "Kita masih bisa melanjutkan hubungan kita Bang."


"Terserah apa katamu Mel. Yang jelas istri saya adalah gadis baik-baik. Dan saya tidak punya niat untuk mendua."


Mendengar jawaban Bang Dewa hati Melani seakan teriris. Ia berharap Bang Dewa mau menerimanya kembali namun sayang Bang Dewa menolak hadirnya demi bocah ingusan macam Bian. Lebih jengkel lagi saat Bang Dewa mematikan sambungan telepon.


"Baik jika itu maumu Bang. Kau mudah berubah hati pada yang lain. Setidaknya aku akan mengenalkan tetes air mata pada istrimu karena telah mengambilmu dariku." gumam Melani.


...


Bian menyandarkan tubuhnya pada sofa. Ia melihat rumahnya sudah sangat cantik. Tak lama ada seseorang yang mengetuk pintu rumah. Bian pun segera membukanya.


Sungguh terkejut Bian melihat sosok yang selama ini masih menjadi kekasihnya tanpa sepengetahuan Bang Dewa. "Bang Hisyam?????"


"Kenapa tidak bilang kalau pindah kesini?" Senyum Bang Hisyam kemudian mengecup kening Bian.


"Bi_an........"


Bibir Bian terasa terkunci. Bagaimana bisa Bian mengungkapkan keadaan yang sebenarnya pada pria yang selama ini sudah mengisi hatinya namun kini dirinya telah bersuami. "Bang Hisyam.. sebenarnya Bian..........."


"Bang Hisyam???" Sapa Bang Dewa. Dirinya tau bahwa seniornya itu pernah singgah di hati Bian namun secara dewasa Bang Dewa tidak menggubris dan menepis sebersit rasa tidak nyaman di hatinya sebab ia sudah menjadi suami Bian.


"Hai Bro.. aku baru tau kalau Bian ikut sama kamu. Seba nggak bilang apa-apa kalau Bian akhirnya mau ikut kesini. Dulu Abang ajak dia nggak mau." Kata Bang Hisyam.


Bang Dewa pun mengira Bang Seba telah menceritakan pernikahannya dengan Bian.


"Biar aman dalam pantauan lah Bang, Papa Mama sibuk.. nggak ada yang jaga Bian." Jawab Bang Dewa.


Bang Hisyam mengangguk paham. Memang wajar saja seorang kakak menjaga adiknya apalagi adik perempuan.


"Buatkan kopi dek..!!" Pinta Bang Dewa agar pandangan Bang Hisyam sedikit lebih terjaga karena mantan pasti meninggalkan kenangan.


"Iya Mas." Bian pun masuk ke dalam rumah tanpa banyak bicara.


"Ijin Bang, apa ada muatan dari Batalyon?" Tanya Bang Dewa.

__ADS_1


"Sebenarnya tidak secara langsung, tapi ada kegiatan untuk bulan depan. Sepertinya Tono tidak akan ambil tugas, jadi kamu sebagai Danton yang akan menghandle..!!" Jawab Bang Hisyam.


"Siap Bang."


***


"Selamat datang ibu Melani Tono. Semoga betah disini ya." Sambut ibu Danyon.


"Istrinya Dewo juga di minta kenalan donk Ma.. nggak apa-apa surat nikahnya menyusul, yang penting sah." Pinta


"Oiya.. ternyata Om Dewo juga bawa gandengan nih." Bu Danyon meminta Bang Dewa memperkenalkan istrinya.


Bang Sadewo pun maju menggandeng tangan Bian meskipun istri kecilnya sempat menolak. "Selamat pagi Komandan, senior, rekan dan keluarga besar Batalyon. Mohon ijin hari ini saya membawa belahan jiwa saya. Di samping saya ini.. Titis Sabian Tunggadewi. Istri satu-satunya, kesayangan Lettu Sadewa."


Sorak sorai para anggota dan istri pun riuh di ruang gedung. Bian menoleh dan menatap wajah Bang Dewa yang tetap datar meskipun ucapnya mengurai berbagai makna.


"Laahh.. kenapa Bu Dewo kaget. Suami sudah katakan cinta lho." Ledek Bang Tono yang sebenarnya memang lumayan dekat dengan Bang Dewa.


"Mas Dewo nggak serius." Jawab Bian dengan santai.


"Waduuuhh.. manten anyar kok anyep." Ledek Danyon.


"Cepat punya anak Let, jangan di tunda..!!!!" Anggota yang lain ikut memanasi. Mereka tau Letnan Dewo memang sosok pria yang dingin.


Melani tertawa sinis, seorang Dewo tidak mungkin bisa berucap manis pada wanitanya apalagi mengucap kata cinta. Ia merasa menang karena dari ucap Bian sudah jelas pernikahan Bang Dewo pasti hambar. Hatinya puas karena tadi sudah sempat bicara dari 'hati ke hati' dengan istri Letnan Sadewa.


"Aamiin.. Insya Allah tidak di tunda." Jawab Bang Dewa masih tenang.


Bian sudah malas berdiri di samping Bang Dewa. Ia pun ingin segera pergi tapi Bang Dewa meraih tangan Bian. "Minta di seriusin bagaimana lagi? Apa status Nyonya Dewa masih kurang? Gajinya Mas juga kamu yang bawa." Bisik Bang Dewa.


"Serius bukan hanya perkara status dan kartu ATM." Bian balik berbisik.


Tangan Bang Dewa melingkar di pinggang Bian. Ada rasa cemas dan takut saat Bian menghindarinya. "Mas Dewo sayang sama Bian."


"Apa ini caramu merayu semua gadismu? Bagaimana tanggung jawabmu sebagai ayah dari anak di perut seorang wanita sampai laki-laki lain yang harus memikul tanggung jawab itu." Air mata Bian menetes.


"Maaf.. maafkan saya yang awam dan belum terbiasa." Bian tersenyum di hadapan semua orang tapi tetap menggandeng tangan Bang Dewa dengan wajah syok. Bagaimana pun juga Bian tidak ingin menjatuhkan harga diri suaminya.


Saat Bian kembali hendak menghindar, Bang Dewa menatap mata Bian. "Wanita mana yang kamu maksud? Tunjukkan wajahnya di hadapanku. Aku hanya menyentuhmu dan tidak pernah menghamili perempuan lain."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2