
Khusus Bab sedikit panas. Harap kebijakan dalam membaca..!!!.
🌹🌹🌹
Bang Dewa melihat Bian sudah tertidur pulas, ia meninggalkan satu kecupan hangat di kening istri kecilnya.
"Cukup sampai disini saja semua keributan ini. Mas Dewo juga punya rasa tidak kuat kalau setiap harinya harus ribut sama istri." Gumamnya kemudian dirinya naik ke atas ranjang dan masuk satu selimut bersama Bian.
Baru saja Bang Dewa merebahkan tubuhnya, Bian langsung beralih posisi dan memeluknya membuatnya terdiam mematung tanpa pergerakan. Sedikit demi sedikit ia bergeser untuk menghindari Bian tapi siapa sangka Bian malah semakin memeluknya erat.
'Astagfirullah, ujianMu memang begitu besar. Haruskah aku menebalkan iman dan kesabaranku lagi?'
"Maaass, punggung Bian sakiit..!!" Rengek Bian. Bang Dewa mengibaskan tangannya memastikan kesadaran sang istri namun ternyata Bian masih terlelap dalam tidurnya.
"Yang mana?" Bisik Bang Dewa.
Bian tak menjawabnya lagi tapi saat Bang Dewa memijat punggung Bian, gadisnya itu menggeliat kecil dan melenguh merespon perlakuannya. Tak membuang banyak waktu Bang Dewa beralih posisi dan memijat tubuh Bian lagi.
"Enak?" Tanya Bang Dewa memastikan dan Bian mengangguk pelan. "Mas buka bajunya ya??"
Bian mengangguk lagi. Ia tak sanggup membuka matanya karena terlalu lelah.
Perlahan Bang Dewa membalik tubuh Bian hingga telentang. Bang Dewa pun melepas pakaian Bian. Seketika detak jantungnya bertalu lebih kencang. Niat hanya memijat berubah menjadi keinginan dan niat yang lain.
"Dek.. ngantuk ya? Bangun sebentar..!!"
"Apa Maas??" Jawab Bian merespon pertanyaan Bang Dewa dengan sangat malas.
Bang Dewa terasa berat untuk mengungkapkan inginnya tapi jujur dirinya sudah tidak sanggup lagi menahan tawa rindunya untuk memadu kasih bersama Bian.
Tak segera mendapatkan jawaban dari Bang Dewa, mata Bian pun terbuka meskipun rasa kantuknya masih memilin bingkai mata. Dengan amat sangat jelas Bian melihat sorot mata dengan arti yang berbeda dari seorang Letnan Sadewa. "Katakan dengan jujur, Bian tidak suka yang bertele-tele..!!" Pinta Bian.
"Mas Dewa takut di tolak." Jawab Bang Dewa.
"Apa yang bisa Mas Dewo berikan?" Tanya Bian menantang.
"Apa yang Dindaku minta? Asal jangan menggeser gunung. Mas Dewo bukan Sangkuriang."
"Seluruh isi dompetmu..!!"
"Deal sayang..!!" Bang Dewa yang sudah tidak bisa menahan diri langsung melakukan gertakan awal pada musuh.
Bian sungguh kaget namun ada sensasi berbeda yang belum pernah ia rasakan selama ini.
"Balas cantikku..!! Mas Dewo inginkan kamu malam ini..!!" Pinta Bang Dewo selembut lembutnya seorang pria.
Bian pun mengalungkan kedua lengannya di belakang leher Bang Dewa dan membalas permintaan pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Tau Bian membalas inginnya, Bang Dewa segera menyerang titik lokasi target dan......... Bian tak sanggup berkata-kata.
:
"Sudah??" Bang Dewa mengecup sekilas Bibir Bian yang tiba-tiba tidak mau melepaskan dirinya. Ia memalingkan wajahnya tanda kesal karena Bang Dewa ingin menyudahinya.
__ADS_1
Tak ingin ada perdebatan di malam keramatnya, Bang Dewa pun melanjutkan saja permainannya, kapan lagi mendapatkan situasi langka saat Bian sendiri yang menginginkan dirinya.
***
"Mana uang jajannya Om??" Bian bergelayut manja memeluk Bang Dewa dari belakang kemudian menodongkan telapak tangan saat Bang Dewa mengancingkan seragam dinasnya.
"Huuussh.." Bang Dewa menepak tangan Bian. Kelakuan nakal Bian memang sudah tidak diragukan lagi. Ia segera menyambar dompet dan menyerahkan seluruh isinya pada Bian sesuai janjinya semalam.
"Makasih Oomm.. Kalau Om Dewo kangen lagi, Bian ada di kamar ini. Kita ulang drama ulat sagu..!!" Ucap genit Bian sembari mengibaskan lembaran uang dari Bang Dewo.
"Ya Allah Ya Rabb.. nggak baik bertingkah begitu Dek. Saru ( tidak sopan ).. nggak pantas..!!" Jelas ada rasa tak karuan dalam hati Bang Dewa. Bisa-bisanya Bian bertingkah absurd yang membuat perasaannya ketar ketir.
"Bian nggak mau di kalahkan sama nyi ronggeng mantan kesayangan Mas Dewo itu. Kalau bukan Bian yang memuaskan mata dan batin Mas Dewo terus siapa????" Jawab Bian.
"Tapi pikiran Mas nggak sampai kesana dek..!! Pikiranmu saja yang terlalu jauh."
Bian semakin mengeratkan pelukannya. "Lalu sampai kemana?" Tanya Bian.
Bang Dewa benar-benar mati kutu, Bian membuatnya tidak sanggup berkutik menghadapinya. "Sampai kesini saja cintaaa..!!" Bisik Bang Dewa membalas nakal.
Bian tersenyum mendengarnya. Bian beralih berdiri di hadapan Bang Dewa. "Jangan berangkat kerja donk Om."
"Kalau Om Dewo nggak kerja, nanti bayar gadisnya Om Dewo pakai apa?" Bujuk Bang Dewo menanggapi nakalnya Bian.
"Pakai ulat sagu." Jawab Bian berjinjit dengan gaya genitnya.
"Haahh.. Astagfirullah.." Bang Dewa mengambil ponselnya lalu menghubungi Bang Rawa.
"Opo bro?"
"Lho.. kenapa dadakan????"
Pikiran Bang Dewa sempat berhenti bekerja karena Bian terus saja 'mengganggunya', isi kepalanya blank saat melirik ke arah bawah dan Bian sudah tanggap darurat dengan kesigapan dirinya.
"Perutku sakit." Jawab Bang Dewa tapi tak sengaja mend***h pelan.
"Woo.."
tuuuuuttt..
Bang Rawa terperangah untuk sesaat. "Hwuuuu.. Dewo iki suwe-suwe ora beres." Gumamnya.
"Ada apa Bang?" Tanya Erika sambil menyiapkan sarapan pagi untuk Bang Rawa.
"Si Dewo.. dadakan ijin nggak apel pagi."
"Memangnya kenapa? Mungkin ada keperluan mendesak. Khan wajar Bang." Kata Erika.
"Ya karena Abang tau urusan mendesak nya Dewo itu nggak wajar, pasti sekarang dia sedang mendesak Bian." Jawab Bang Rawa.
Erika tertawa saja mendengar ocehan jengkel dari suaminya. "Erika punya sesuatu nih buat Abang."
"Apa?"
__ADS_1
Erika menyerahkan benda kecil di hadapan Bang Rawa. "Abang mau jadi Papa."
Bang Rawa melotot sampai rasanya tak percaya melihat benda kecil di tangannya. "Ya Allah dek, Alhamdulillah..!! Di hati-hati ya sayang..!!"
:
"Maass sudaaah..!!" Pinta Bian tak sanggup lagi meladeni tenaga Bang Dewo.
Hentakan Bang Dewo semakin kencang menyelesaikan tugas akhirnya dan nafas panjang penuh kelegaan terdengar mengisi ruang kamarnya.
Sembari mengatur nafasnya yang masih terengah, Bang Dewa menstabilkan tenaga yang terkuras habis. Energinya benar-benar hilang.
"Mas mohon lain kali jangan seperti tadi. Itu bahaya dek. Bagaimana kalau Mas nggak bisa melepaskanmu dan terus menuntut. Kamu malah akan menyakiti dirimu sendiri." Tegur Bang Dewa.
"Yang penting Mas Dewo nggak melirik perempuan lain." Kata Bian.
"Ya Allah, nggak dek. Meladeni inginmu saja Mas sudah kewalahan. Mas nggak ada pikiran macam-macam sama perempuan lain." Jawab jujur Bang Dewa.
"Janjii..!!!" Bian menyodorkan kelingkingnya.
Bang Dewa pun membalasnya. "Mas bukan tipe pria suka ingkar janji."
...
Siang hari Bang Dewa baru tiba di kantor. Pikirannya tak bisa lepas dari Bian. Sikap dan tingkah laku Bian bagai candu untuknya.
"Letnan Sadewa.. anda paham apa yang saya jabarkan tadi??" Tegur Bang Seba karena jelas sekali fokus Bang Dewa tidak ada di tempat.
"Siap..!!"
"Jabarkan..!!!!!" Bentak Bang Seba.
Bang Dewa terdiam. Memang dirinya salah tidak mendengar arahan apapun dari Abang iparnya.
"Push up..!!!!!!! Jangan sekali-kali kamu mencampur aduk masalah di rumah dan di kantor. Fokus dan fokus yang terpenting..!! Bagaimana jadinya jika kamu ada di medan perang??? Kamu akan mendapat serangan lebih dulu karena kehilangan konsentrasi..!!!!" Bentak Bang Seba lagi.
:
"Ada apa? Tumben sekali kinerja mu buruk..!!"
"Siap salah Bang." Jawab Bang Dewa tanpa alasan.
"Bian sudah kembali. Apa lagi yang menjadi beban pikiranmu?" Tanya Bang Seba.
"Beban sih nggak Bang. Hanya saja.. sejak Bian datang kangennya nggak bisa hilang. Bisakah saya minta waktu untuk honeymoon. Sebentar saja Bang..!!"
"Walaahh.. kamu ini. Ya sudah, nanti saya tembusi Danyon..!!" Kata Bang Seba.
.
.
.
__ADS_1
.