Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
45. Akhirnya.


__ADS_3

Bang Dewa mengejar sosok yang membuat Gita ketakutan dan ternyata apa yang di lihatnya adalah seorang wanita dan masuk ke dalam rumah Bian. Ia pun segera menghadang langkah wanita tersebut.


"Siwi?????" Bang Dewa terkejut melihat sosok tersebut menatapnya dengan wajah cemas.


"P_ak Dewo."


"Untuk apa kamu mengintip di rumah istri saya, terutama di kamar istri saya. Apa yang kamu lihat????" Bentak Bang Dewa di pagi buta.


Ayah dan ibu segera keluar melihat kemarahan putranya. "Ada apa le?? Malu pagi-pagi ribut." Tegur Ayah.


"Ayah tanyakan sendiri sama dia..!! Kenapa dia mengintip saya dan Gita di dalam kamar???? Kamar adalah urusan pribadi, apa yang mau di cari?????"


Ayah dan ibu menatap Siwi. Tak lama Bian keluar dari kamar mendengar keributan itu. "Siwi.. benarkah yang saya dengar? Bukannya saya memintamu menjaga anak-anak??"


"Sayaa.. sayaaa hanya....." Siwi terbata-bata menjawab pertanyaan Bang Dewa. Sorot mata itu sungguh tajam menusuk membuatnya sangat takut.


"Lancaaang.. siapa yang memintamu memata-matai saya..!!!" Bentak Bang Dewa.


"Tidak ada Pak. Saya minta maaf..!!" Kata Siwi.


"Angkat kaki kamu dari rumah saya..!!!!" Perintah Bang Dewa.


"Jangan Pak, saya janda.. sangat butuh pekerjaan ini." Siwi benar-benar memohon pada Bang Dewa agar pria itu tidak memecatnya. Tangannya sampai gemetar.


"Saya tidak mau mendengar alasan apapun Siwi. Kamu yang tidak bisa menghargai pekerjaanmu, apalagi kamu berniat buruk pada keluarga saya..!!!"

__ADS_1


"Maaf Pak.. jangan pecat saya..!!" Siwi menangis sampai sesenggukan.


"Ambil barangmu..!!! Cepat keluar..!!!"


Siwi tak segera beranjak dan tetap teguh pendirian berdiri di tempatnya.


Karena sudah sangat kesal, Bang Dewa pergi ke kamar Siwi dan membuka lemari pakaian pengasuh bayinya tersebut namun alangkah terkejutnya saya melihat puluhan foto dirinya dengan berbagai gaya dan pose gagah perkasa bahkan foto yang tidak layak di pandang mata selain para istrinya yang melihat.


Seakan tau apa yang terjadi tadi. Siwi pun mengikuti langkah Bang Dewa sampai ke kamarnya.


"Astagfirullah.." Bang Dewa menarik dan melepas semua foto dirinya lalu meremas dan membantingnya ke tong sampah. "Berarti sudah jelas kamu biang masalah yang membuat rumah tanggaku berantakan Siwi." Gumam Bang Dewa tak bisa menahan rasa marahnya.


"Saya mencintai bapak? Apa tidak boleh saya mencintai bapak?" Tanya Siwi dengan wajah tak berdosa.


"Ya Allah, bagaimana bisa pikiran bodoh itu melayang di kepalamu Siwi?"


"Astagfirullah..!!" Bang Dewa mengusap dadanya tak habis pikir dengan jalan pikiran Siwi. "Saya tidak perlu menjelaskan apapun sama kamu tentang pernikahan saya dengan Gita. Sekarang cepat angkat kaki dari rumah saya..!!!!" Suara geram Bang Dewa menggelegar kuat.


Gita yang mendengar suara suaminya segera menghampiri tapi setelah melihat sosok Bian, langkahnya pun terhenti. Bian paham mungkin saat ini hanya Gita saja yang bisa menenangkan suaminya, ia segera memberi kode agar Gita membujuk Bang Dewa.


"Maas, Gita buatkan teh yuk..!!" Gita menyentuh tangan Bang Dewa dan menggandengnya. Tapi di luar dugaan, Bang Dewa malah menepisnya.


"Jangan ada yang membujukku di saat seperti ini. Siwi harus mengerti kalau saya tidak menyukainya..!!!!!"


Akhirnya Bian pun turun tangan dan ikut menarik tangan Bang Dewa bersama Gita. Ayah dan ibu juga sudah paham dengan situasinya.

__ADS_1


"Apa-apaan kalian????"


Bian melirik Gita, agaknya ia kesulitan mengendalikan amarah suaminya.


Gita melepas genggaman tangannya, lalu menghentak kaki dan menangis meninggalkan Bang Dewa. "Mas Dewo jahat, sekarang Mas Dewo suka bentak Gita." Kata Gita merajuk manja.


Bian menyimpan senyum geli melihat tingkah Gita. "Kenapa Mas bentak kami? Mas bosan hidup? Lihat Gita sudah sangat marah. Beraninya Mas merusak mood wanita usai persalinan." Ucap Bian memasang wajah serius.


Bang Dewa baru tersadar sesaat tadi sudah membentak Bian dan Gita. Ia melirik Bian yang seketika membuang muka padanya.


"Mas minta maaf dek." Ucap Bang Dewa, pandangan mata itu kemudian melirik Gita yang semakin menghetakan kaki dan masuk ke rumah. "Aduuhh.. piye iki??" Gumamnya bingung.


Karena Bian yang lebih dulu ada di dekatnya, Bang Dewa mendekap dan mengecup kening Bian. "Mas tidak bermaksud membentakmu. Mas hanya ingin melindungi rumah tangga kita. Sekarang bolehkah Mas membujuk adik kecilmu?" Tanya Bang Dewa.


Bian pun mengangguk. "Boleh.. nanti cepat kembali ya Mas. Anakmu rewel." Jawab Bian.


"Iya, tapi maaf ya.. belakangan ini Mas juga harus jaga Gita." Kata Bang Dewa.


"Siaap Pak Dewo." Bian tersenyum dan segera kembali ke rumahnya menyelesaikan masalah.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2