Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
13. Kacau.


__ADS_3

"Terima kasih banyak Om..!!" Bian menerima bungkusan dari seorang ajudan Bang Dewa. Dari baunya kemungkinan barang yang di terimanya adalah nasi pecel pagi.


Sebenarnya seleranya bukan nasi pecel. Bian hanya ingin makan nasi kuning dengan sambal tongkol suwir.


Bian membuka isi lemari es di rumahnya, kosong melompong tidak ada apapun disana. Hanya ada dua botol air mineral ukuran sedang saja menjadi pemanis lemari es nya.


"Apa Mas Dewo nggak pernah masak. Kenapa kosong begini?" Gumam Bian. "Lebih baik aku jalan-jalan. Mungkin saja ada pedagang nasi kuningnya."


:


Sekitar satu kilometer jauhnya Bian berjalan kaki dan akhirnya ada pedagang nasi kuning di warung tenda tersebut. Panas mulai menyengat karena matahari sudah beranjak tinggi. Tak di sangka saat itu tak sengaja ia bertemu wajah dengan Melani. Istri senior suaminya itu hanya melengos dengan tatapan tajam.


"Selamat siang Mbak Mel." Sapa Bian yang masih tau aturan meskipun sebenarnya hatinya sangat berat untuk menyapa.


"Nggak usah sok baik..!!" Jawabnya sambil mengusap perutnya yang sudah terlihat menonjol.


Bian tak ingin menanggapi balasan Mbak Melani. Tujuannya hanya ingin membeli nasi kuning.


"Ingat Bian. Merebut kebahagiaan wanita lain tidak akan membuatmu bahagia." Ucap Mbak Melani kemudian menyalakan starter motornya dan pergi meninggalkan warung tenda.


Mata para pembeli di warung tenda tersebut tertuju pada Bian. Tatapan mereka sangat tajam seakan menghakimi Bian.


"Mau makan disini atau di bungkus?" Tanya pedagang nasi kuning dengan ketus.


"Di bungkus saja Bu." Jawab Bian, seketika itu juga selera makannya mendadak hilang. Kepalanya pening. Hatinya tak tenang. Sebenarnya jika dirinya tidak sedang mengandung mungkin semua tidak akan serumit ini namun sekarang pikirannya terus berputar-putar memikirkan hal tidak penting.


"Sekarang ini banyak sekali wanita yang jadi pengganggu rumah tangga orang lain. Apa tidak malu hidup seperti itu???" Celetuk ibu penjual nasi kuning pada orang lain tapi arah matanya tertuju pada Bian. "Kita jadi perempuan harus punya harga diri ya Bu. Jangan jual murah." Ucapnya sembari memberikan bungkusan nasi.


Hati Bian semakin sakit mendengarnya. Ia merasa tersentil dan menjadi pengganggu di tengah hubungan Mbak Melani dan Bang Dewa meskipun seratus persen dirinya sadar Mbak Melani lah yang meninggalkan Bang Dewa lebih dulu.


"Terima kasih Bu." Kata Bian.


"Hmm.. pergi sana..!!"


Bian melangkah pergi, tiba-tiba air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa di cegah. Dulu saat banyak orang menghinanya, ia sanggup membalas namun saat ini dirinya anti membuat keributan dengan orang lain.


Dari jauh ada seorang anggota melihat Bian menangis dan berjalan sendirian. Pria tersebut segera menghubungi Bang Dewa.


"Selamat siang Danton..!!"


"Ada apa Fiz." Jawab Bang Dewa.


"Ijin Danton.. saya melihat ibu berjalan dan menangis sepanjang jalan." Lapor Prada Hafiz.


"Yang benar kamu? Di jalan mana Fiz?"

__ADS_1


"Siap.. Ijin.. di jalan Danau Besar."


~


Tak butuh waktu lama Bang Dewa sudah bisa menemukan Bian. Ia segera menepikan mobilnya lalu berlari menghampiri Bian.


"Dek.. Kamu darimana? kenapa jalan disini sendiri??" Tegur Bang Dewa karena memang benar Bian sedang menangis.


Belum sampai Bian menjawab, istri Bang Dewa itu sudah terhuyung lemas.


"Deekk..!!! Ya ampun.. ada apa to ini?????" Bang Dewa mengangkat tubuh Bian dan membawanya masuk ke dalam mobil. "Bilang dek.. Bagaimana bisa Mas tau kalau kamu nggak cerita. Ada masalah apa?"


"Mbak Melani........."


"Kenapa dia??"


Bian kembali menangis. Hatinya sangat sakit sampai tidak sanggup berkata-kata.


'B*****t, ada apa tadi sampai Bian stress seperti ini.'


Dengan sabar Bang Dewa memeluk Bian dan mencium kening istri kecilnya. "Cerita sama Mas Dewo, Bian kenapa?"


"Bian bertemu Mbak Melani di warung nasi kuning. Mbak Melani bilang. 'Merebut kebahagiaan wanita lain tidak akan pernah bahagia.' lalu ibu pedagang nasi kuning itu ketus sama Bian." Jawab Bian. Tangan Bian sangat dingin, gemetar, wajahnya sampai pucat karena terlalu banyak berpikir.


Bang Dewa memejamkan matanya sejenak. Mungkin memang hal ini adalah hal yang sepele namun perasaan bumil memang tidak sepenuhnya bisa berpikir jernih dan Bang Dewa sangat memaklumi.


"Nggak, jangan ketemu Mbak Melani lagi.. Bian nggak suka........."


"Okee.. okeee.. Mas nggak akan temui dan nggak akan bicara sama Melani. Bian maunya bagaimana??" Bujuk Bang Dewa ikut tak karuan melihat tangis Bian.


"Pokoknya Bian nggak ada niat mengganggu."


"Iya dek, Bian bukan pengganggu. Sudah ya jangan nangis lagi, nanti Mas Dewo selesaikan masalah ini." Janji Bang Dewa terbawa kesal apalagi suhu tubuh Bian mendadak meningkat.


...


"Ya Allah Wo. Saya mohon maaf. Saya benar-benar tidak tau kalau Melani berbuat hal buruk lagi." Untuk kesekian kalinya Bang Tono sangat kecewa dengan sikap Melani.


"Sesuai perkataan saya, jika Abang tidak bisa mengambil langkah maka saya sendiri yang akan memberikan pelajaran pada Melani"


Bang Tono luar biasa gelisah karena istrinya kembali membuat ulah sampai istri juniornya itu demam.


Tak lama pintu ruang Bang Tono terbuka. Melani masuk dan melihat Bang Dewa berada disana. Ia membuang nafas jengkel.


"Istrimu mengadu apalagi?? Masih belum puas buat aku ribut sama Bang Tono?" Kata Melani seakan tak menyadari salahnya sendiri.

__ADS_1


"Duduk..!! Jangan menambah perkara. Abang sudah pusing karena ulahmu..!!" Tegur Bang Tono membuat nyali Melani ciut.


Melani pun duduk daripada suaminya harus marah.


"Kenapa kamu tidak menyadari kesalahanmu?? Kemarin kamu buat Dewo ribut sama Bian. Sekarang kamu ulangi lagi kesalahanmu. Sebenarnya apa maumu??"


Melani tak sanggup menjawab karena memang keserakahan dirinya yang membuat segalanya menjadi rumit.


"Kamu belum bisa melupakan Dewo???" Suara Bang Tono tak main-main.


Bang Dewa terus menatapnya dengan pandangan cela dan jijik dengan ulah Melani. Bisa-bisanya dulu ia mencintai wanita seperti Melani sampai ia membuang sepuluh tahun kisah hidupnya hanya untuk Melani.


"Saya bisa membuatmu berada jauh di pulau terpencil karena mengganggu ketenangan istri saya dan mengganggu ketentraman rumah tangga saya..!!"


Melani tetap santai saja mendengarnya dan seakan tidak ada beban hidup. Ia pun mengambil ponselnya dan menunjukan gambar pada galeri.


"Bagaimana kalau foto dan video ini ku kirim pada Bian. Apa reaksinya?? Dan bagaimana kalau foto dan video ini menjadi bukti kalau anak ini adalah anakmu Bang. Anak dari Letnan Sadewa." Melani mengangkat ponselnya.


Sungguh Bang Dewa kaget mendengarnya. Melani tak hentinya membuat kegaduhan dalam rumah tangganya.


"Kamu jangan macam-macam Melani..!!"


"Kenapa?? Abang takut Bian marah karena melihat foto dan video kita berdua?" Dengan senyum liciknya Melani menekan tombol kirim hingga foto dan video tersebut terkirim ke nomer Bian.


"La**at, kau wanita paling b******n yang pernah ku kenal." Bentak Bang Dewa kemudian berlari pulang.


//


ddrrtttt....


Notifikasi ponsel Bian berbunyi. Ia segera membuka pesan singkat dari nomor yang belum masuk dalam daftar kontaknya.


dddgghh..


Bian tak sanggup berkata-kata. Kepalanya berkunang melihat foto dan kiriman dari seseorang yang ternyata adalah Melani. Ia menyentuh dadanya. "Mas Dewoo..!!!!!" tangannya berpegangan pada bingkai pintu kamarnya.


braaakk..


Bang Dewa terengah-engah membuka pintu rumah. "Dek.."


"Apa maksudnya semua ini Mas?" tanya Bian.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2