Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
46. Ingin bermanja.


__ADS_3

Cckkrrkk..


Mendengar suara pintu terbuka, Gita mengambil posisi telungkup dan belaga menangis.


Hati Bang Dewa panik perlahan. Ia pun ikut naik ke atas ranjang dan membelai lembut rambut Gita.


"Dek.."


Gita pura-pura marah dan menepis tangan Gita.


"Mas Dewo minta maaf..!!"


"Mas Dewo jahat, sekarang Mas suka membentak..!!" Kata Gita dengan sengaja, tak hanya itu, ia juga pura-pura merintih kesakitan agar aktingnya terlihat nyata.


"Iyaa.. iyaaa.. Mas jahat..!! Mas minta maaf ya sayang..!!" Bang Dewa mengusap perut Gita lalu mengecupnya. "Bagian mana yang sakit?"


Sebenarnya Gita masih sangat malu berinteraksi dengan Bang Dewa, tapi ia selalu berusaha seakan semua baik-baik saja seperti ucap Bang Dewa padanya, ia harus bersikap seperti selayaknya seorang istri.


Gita meraih tangan Bang Dewa lalu menempelkannya di perut bawahnya. "Ini..!!"


"Maaf ya, Mas nggak akan bentak Dinda lagi..!!" Janji Bang Dewa. Ia terus mengusap perut Gita sampai rasa sakitnya berkurang.


//


"Pak Dewo, saya minta maaf..!! Saya tidak akan mengulangi kesalahan saya..!! Saya hanya ingin hidup nyaman tanpa berpikir mencari uang. Saya lelah harus menghidupi anak saya sejak bapaknya tidak bertanggung jawab..!!" Teriak Siwi terus meminta belas kasihan Bang Dewo tapi pria itu tak menggubrisnya.


"Kembalilah ke tempatmu Siwi. Pak Dewo tidak akan berbelas kasih padamu lagi..!!" Kata ibu Bang Dewo.


"Kamu ini merusuh dalam rumah tangga anakku..!! Sudah banyak masalah yang mereka hadapi, kami tidak akan pernah membiarkan siapapun masuk dalam rumah tangga Dewo dan merusaknya..!!" Imbuh Ayah ikut geram dengan kelakuan Siwi yang keterlaluan.

__ADS_1


"Ini bukan masalah besar Pak. Kenapa kalian semua memperlakukan saya dengan tidak adil?" Siwi tetap tidak terima dengan perlakuan keluarga Bang Dewa yang menurutnya terkesan membesarkan masalah.


"Maaf Siwi, di rumah ini Pak Dewa yang memiliki wewenang. Jadi jika beliau memutuskan maka kami pun tidak bisa berbuat apapun." Kata ayah.


Paham dirinya tidak lagi di terima, Siwi mengangkat tasnya lalu pergi dari rumah Bang Dewa membawa dukanya sendiri. Tanpa sepatah kata pun ia pergi meninggalkan rumah.


\=\=\=


Beberapa tahun berlalu.


Gita sedang menyuapi anak-anak karena Bian sedang sibuk kegiatan di kantor. Sudah hampir dua bulan ini Bang Seno sangat sibuk dan belum tidur bersamanya sama sekali. Ia bisa memaklumi mungkin karena kesibukan yang teramat padat hingga suaminya sering sekali tidak pulang.


"Gita, kenapa melamun saja? Itu air panasnya sudah mendidih." Tegur Bian kemudian mematikan kompor.


Gita tersentak kaget kemudian tanpa sengaja menyenggol air minum di sampingnya.


Gita kembali duduk, pikirannya kosong melompong. Agaknya saat ini Bian sudah memahami perasaan Gita, pasalnya ia pun mengalami hal yang sama namun ada perbedaan antara dirinya dan Gita. Dirinya kini sudah tidak bisa lagi merasakan perasaan rindu dari hangatnya pelukan seorang suami tapi Gita pasti merasakannya karena Gita masih memiliki hormon wanita normal. Dalam diri Bian hanya ingin di dengarkan saat bercerita dan ditemani dalam kebersamaan dan tidak terbersit kerinduan seperti yang sedang di alami Gita.


"Banyak sabar dan maklum ya Gita. Mas Dewo tidak pulang bukan karena kelayapan, tapi kerja. Mas Dewo berjuang mencari nafkah untuk kita dan anak-anak." Kata Bian.


"Iya Mbak, maaf ya.. Gita tidak dewasa."


"Nggak apa-apa, itu wajar, nanti Mbak coba bilang sama Mas Dewo ya..!!"


-_-_-_-


"Assalamu'alaikum.." Bang Dewa meletakan ranselnya. Rasa lelah bergelayut di pundak dan punggungnya. Bang Dewa langsung bersandar di kursi teras. Tak lama rasa mual mengaduk perutnya.


Seperti mendengar suara yang tak asing, Bian pun menyambutnya.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam Mas, sudah pulang?" Sapa Bian.


"Sudah dek. Sepi sekali.. anak-anak sudah tidur?" Tanya Bang Dewa.


"Sudah daritadi mas. Mas mau minum teh, atau kopi?" Bian menawari suaminya yang terlihat luar biasa lelah.


"Teh saja, tapi apa boleh Mas Dewo mandi air hangat di rumah Gita?" Bang Dewa tetap meminta ijin pada Bian istri pertamanya. Ia menarik lengan Bian agar duduk di pangkuannya. Hal kecil namun perhatian seperti ini sangat di butuhkan Bian dan Bang Dewa tidak pernah lupa melakukannya.


"Boleh Mas, itu lebih baik. Kelihatannya Gita juga tidak enak badan, mungkin rindu sekali sama Mas." Kata Bian.


"Oya, kamu tidak rindu?" Bang Dewa mencubit gemas dagu Bian.


"Rindu sekali, tapi menjadi yang pertama sudah lebih dari cukup untuk Bian." Bian mengecup bibir Bang Dewa dengan mesranya, jelas saja hal tersebut meningkatkan gairah prianya.


"Sayaaang..!!" Bang Dewa protes karena Bian tiba-tiba menghindar apalagi Bian menolak saat tangannya ingin berpatroli.


"Lanjutkan sama Gita donk Mas. Bian selesai minum obat nih, bagaimana kalau Bian malah ketiduran?" Ucap jujur Bian.


"Kalau begitu di sayang Mas Dewo besok pagi saja ya. Sekarang cepat buatkan teh. Mas mau mandi di rumah Gita." Kata Bang Dewa memaklumi keadaan istri pertamanya itu.


"Okeeyy Mas..!!" Bian segera bangkit dan membuatkan teh untuk Bang Dewa dan tak lupa meninggalkan satu kecupan lagi di kening untuk suaminya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2