
Melihat Gita sudah mulai melayang-layang, Bang Dewa pun segera 'mengunci' istrinya mudanya. Ia melepas sesuatu yang sempat di pasangnya.
Rintihan panjang tak lepas dari bibir Gita dan akhirnya Bang Dewa melepaskan tembakan peluru tepat pada sasaran. Bang Dewa ikut terbawa perasaan sebab rasa rindunya terbalaskan dengan sempurna. Sesempurna itu Bang Dewa merasakan kelegaan dan kepuasan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Nafas baru saja perlahan pulih, Gita menatap mata Bang Dewa. "Sudahi semuanya Mas, kasihan Mbak Bian. Gita tidak sanggup menyakiti hati wanita sebaik Mbak Bian."
Hati Bang Dewa rasanya patah mendengarnya. "Kamu masih sah istri saya, dan kamu berhak mendapatkan rasa yang sama dari saya."
"Mas dan Mbak Bian sudah mendapatkan anak. Lepaskan Gita ya Mas..!! Hati Mbak Bian selembut salju, Gita sudah salah masih menerima Mas Dewo seperti ini."
"Bisakah kamu diam dan tidak terlalu menuruti jalan pikiranmu yang keliru itu??" Tegur Bang Dewa kemudian berguling di samping Gita lalu mendekap Gita di dada bidangnya. "Kenapa semua istriku terus saja terpaku dengan kegelisahan sendiri karena tidak ingin menyakiti satu sama lain. Pernahkah di antara kalian bertanya bagaimana dengan perasaanku??"
Gita beringsut menangis di dada Bang Dewa. Bibirnya terkunci, wajahnya terasa tertampar dengan pertanyaan Bang Dewa.
"Saya sudah mengikrarkan sumpah janji untuk menjagamu, mencintai dan menyayangimu..........."
"Tidak perlu memaksakan diri, Gita tau tidak ada Gita di dalam hati Mas Dewo." Gita memutus ucapan Bang Dewa.
"Apa salah satu keahlianmu adalah menebak isi hati orang?" Bang Dewa balik menatap mata Gita penuh arti. "Pulang..!! Kita harus bicara bertiga..!!"
***
Para anggota kembali ke Batalyon, tidak ada yang mencurigakan sebab Bang Dewa juga menjaga jarak dengan Gita. Hanya saja saat itu ada sebersit rasa kesal karena Pratu Wiryawan terus mengganggu dan menggoda Gita.
Terlihat Gita kurang nyaman dengan situasi tersebut namun dirinya harus tetap bersikap biasa saja seolah tak terjadi apapun.
"Gita nanti pulang kemana? Abang antar ya..!!" Kata Pratu Wiryawan menawarkan jasa terbaiknya.
"Ikut Kapten Sadewa pulang ke rumahnya." Jawab Gita pada akhirnya.
"Lhoo.. ada apa pulang kesana?" tanya Pratu Wiryawan semakin menyelidik.
"Istrinya ingin saya kesana."
Kening Pratu Wiryawan berkerut penuh dengan pertanyaan namun ia segera mengaburkan rasa penasarannya.
"Gita.. kalau setelah ini Abang melamarmu, apa kamu bersedia?" Tanya Pratu Wiryawan.
__ADS_1
Gita tersenyum penuh kelembutan tapi kemudian memasang wajah datar. "Nggak." Tolaknya singkat, padat dan jelas.
"Memangnya Abang kurang apa dek?" Pratu Wiryawan masih belum terima dengan penolakan Gita.
"Kurang ajar Bang." Jawab Gita sejelas-jelasnya.
Bang Dewa setengah menunduk menyimpan senyum geli. Telinganya bisa mendengar dengan sangat jelas meskipun dirinya pura-pura tidak tahu dengan ulah Pratu Wiryawan yang sudah berani melamar istri mudanya di depan wajahnya sendiri.
"Heeh Wiryawan.. duduk tenang dan jangan mengganggu warga sipil..!!" Tegur Bang Dewa.
-_-_-_-_-
Sore hari mereka sudah tiba di Batalyon, sesuai prosedur, para anggota team segera melaksanakan lapor datang kemudian Bang Dewa mengajak Gita untuk pulang ke rumah.
~
Bian membuka pintu rumah saat mendengar suara ketukan pintu. Sungguh terkejut saat melihat ada Gita di depan pintu rumahnya.
"Gitaaaa????" Seketika itu juga Bian memeluk Gita dengan erat. "Jangan pergi lagi..!!!" Pinta Bian.
"Ayo masuk dulu.. jangan bicara di luar..!!" Bian menarik tangan Gita agar mereka bisa bicara di dalam sedangkan Bang Dewa mengurus barang miliknya juga Gita.
Bian sampai lupa menyambut suaminya karena sibuk dengan kedatangan Gita.
Sekilas Gita melirik sang putra yang tengah tidur di ranjang, ia tidak ingin melihat putranya terlalu lama karena tidak ingin perasaannya sebagai seorang ibu tiba-tiba tergugah. Ia harus menyadari bayi yang sudah di lahirkannya itu adalah milik Bian, bukan miliknya.
"Kamu kemana saja Gita. Mbak tau Mas Dewo diam-diam mencarimu. Apa kamu tidak kasihan melihat Mas Dewo tersiksa??" Tegur Bian.
"Mbak.. memang tidak seharusnya Gita ada disini. Bian hanya benalu di antara kebahagiaan kalian." Jawab Gita.
"Kata siapa?? Kamu berjasa dalam hidup kami. Tidak mudah untuk berbagi hati Gitaaa..!!" Kata Bian.
"Seperti sulitnya Mbak merelakan Mas Dewo berdua sama Gita. Gita tau hati mbak sakit."
"Gitaaa.. Mbak yang meminta semua ini terjadi dan Mbak tau segala resikonya. Hidup ini semua pasti penuh dengan pilihan dan Mbak lebih memilih anak, bukan karena tidak sayang dengan Mas Dewo tapi malah Mbak terlalu sayang. Mas Dewo sudah sangat sabar dengan kekurangan Mbak."
Entah sejak kapan Bang Dewa mendengar pembicaraan kedua istrinya. "Kalian berdua tidak ada kurangnya. Mas yang punya banyak kekurangan. Denganmu.. Mas sudah membuatmu kehilangan rahim yang menjadi hakmu, harus menerima pernikahan ini terjadi dan menerima anak dari Gita. Dan untukmu Gita.. kamu juga wanita yang hebat, melahirkan benih dariku meskipun kamu 'tidak merasakan cinta' dariku, kamu sudah berjuang Gita."
__ADS_1
Bian menghambur memeluk Bang Dewa dan menumpahkan tangisnya namun Gita menunduk diam, tidak berani bertingkah melangkahi Bian.
Bang Dewa membuka lengan kirinya dan pada akhirnya Gita tidak tahan untuk tidak ikut memeluk. "Maas Dewoooo.." pecah juga tangis Gita dalam pelukan Bang Dewa.
...
"Mas tidak bisa memecahkan sendiri tentang rumah tangga kita ini. Kita harus pikirkan bersama cara yang terbaik untuk kita semua..!!" Kata Bang Dewo sambil menggendong Angger malam itu. "Kalau Mas mengundurkan diri dari tentara.. apa menurut kalian itu baik?"
Bian menghela nafas karena pastinya Gita tidak akan bersuara. Ia tau betul sifat Gita.
"Bian ingin keterangan surat menyurat kita berpisah."
"Apa maksudmu dek??" Bang Dewa sempat terbawa emosi.
"Maas, dengar dulu..!! Buat status kita berpisah secara hukum di Batalyon dan naikan status Gita..!!" Saran Bian.
"Gita nggak mau mbak."
"Nggak dek, itu keterlaluan..!!" Kata Bang Dewa.
"Hanya status saja Mas, masa depan Angger masih panjang. Suatu saat Angger juga akan tau silsilah keluarga kita, daripada Angger tau dari mulut orang yang bisa salah arah. Bian hanya ingin menjaga."
"Gita nggak bisa mbak, walaupun hanya status.. mbak akan rugi. KK hanya sebuah administrasi, tulis saja Angger adalah nama anak Mas Dewo dan Mbak Bian. Cukup sudah pengorbanan Mbak Bian. Gita yang seharusnya pergi, bukan Mbak Bian.." Gita selalu menolak jika Bian memintanya untuk tinggal dengan cara apapun.
"Kalian ini jangan mulai lagi, kalau sudah begini Mas Dewo juga yang pusing..!!!" Tegur keras Bang Dewa meninggikan suaranya. "Mas sempat berpikir seperti itu dek tapi itu artinya kamu harus tinggal di luar asrama karena tidak mungkin lagi kamu berada di dalam asrama."
"Nggak apa-apa Mas. Selain itu.. jika Angger besar nanti, dia akan membutuhkan berkas administrasi yang jelas dari orang tuanya.. jadi biar Bian saja yang di luar, lagipula hanya administrasi saja.. Mas Dewo tidak berniat menceraikan Bian khan?"
"Astagfirullah hal adzim.. Ya Allah, ya nggak lah sayang. Nggak sedikit pun terbersit di hati Mas Dewo melakukan hal buruk itu." Jawab Bang Dewa tapi di saat yang sama dirinya melihat Gita menunduk dan terdiam. "Mas Dewo juga tidak akan melakukan hal buruk itu padamu Gita. Dua-duanya istri Mas dan semua Mas Dewo sayang."
.
.
.
.
__ADS_1