
Tolong komentar dan dukungan jangan menurun..!!
Terima kasih 🙏
🌹🌹🌹
Bang Dewa memapah langkah Gita. Terlalu banyak duduk membuat istri kedua Kapten Sadewa kembali merasa kesakitan. Telapak tangannya sampai dingin. Tubuhnya juga gemetar.
"Aahh terlalu lama jalanmu. Biar Mas gendong saja..!!" Kata Bang Dewa lalu menggendong Gita masuk ke rumahnya.
"Maas.. jangan..!! Nggak enak sama Mbak Bian." Tolak Gita ingin di lepaskan tapi setiap dirinya meronta, tubuhnya akan semakin terasa sakit.
"Nggak apa-apa Dinda. Kamu masih sakit, masa Bian nggak pengertian dengan keadaanmu?" Bang Dewa terus melangkah masuk ke dalam rumah sesekali mencium bibir sang istri. Entah sejak kapan Bang Dewa lebih berani mengungkapkan perasaannya seperti ini. Yang jelas hatinya sangat bahagia dengan kelahiran si kembar.
:
Siang itu Bian sengaja datang ke rumah Gita memastikan ucapan Siwi bahwa cinta Bang Dewa akan hilang apalagi Gita sudah memberinya tiga orang anak di kehidupan Bang Dewa. Tapi tiba-tiba hatinya tersadar, semua ini atas dasar karena keinginannya juga.
"Aahh.. kenapa pikiranku jadi sepicik ini. Jika Mas Dewo mencintai Gita itu adalah hal yang wajar." gumamnya dalam hati namun saat akan meninggalkan rumah, tak sengaja dirinya melihat Bang Dewa mengecup mesra bibir Gita, keduanya terlihat saling membelit dan bertukar rasa. Tak hanya itu saja.. Bang Dewa mengarahkan tangan Gita agar menyenangkan dirinya sampai terdengar lenguhan, dengan manjanya Bang Dewa meminta Gita agar memenuhi inginnya meskipun dengan cara lain.
Sebersit rasa tidak nyaman merajai hatinya. Bian pun berjalan menghindar dan pulang ke rumahnya.
-_-_-_-
Apa yang di lihatnya tadi membuat Bian sedikit iri. Ia pun memeluk Bang Dewa.
"Bian kangen lho Mas."
Kening Bang Dewa berkerut. "Kangen? Tumben kamu semanja ini?" tanya Bang Dewa.
"Memangnya nggak boleh?" Bian meraba tubuh Bang Dewa dengan nakalnya.
__ADS_1
Awalnya Bang Dewa tidak merespon tapi tetap saja jiwa lelakinya tergugah jika tersentuh tangan wanita. "Boleh donk.. apa sih yang nggak buat istri?" Jawab Bang Dewa mulai melemah mendapatkan perlakuan manis dari Bian.
Meskipun Bian tidak bisa terlalu merasakan nikmatnya kebersamaan tapi dirinya juga ingin merasakan sayang yang sama.
"Nanti malam tidur di sini ya Mas..!!" pinta Bian.
"Mas pasti menemani tapi belum bisa tidur disini, Gita masih butuh Mas Dewo. Sabar ya, kalau Gita sudah lebih baik baru Mas Dewo tidur sama kamu lagi. Bergantian sama Gita." Bang Dewa hendak mencium bibir Bian tapi istrinya itu menolaknya.
Bang Dewa sedikit kesal dengan kelakuan Bian belakangan ini. Entah sejak kapan Bian jadi seperti ini.
"Kamu kenapa? Mas boleh minta jatah nggak?" tanya Bang Dewa.
"Nggak, minta saja sama Gita. Dia istri kesayangan mu sekarang." jawab Bian.
Mendengar jawaban sekaligus penolakan dari Bian, terang saja hal itu rasanya membuat ubun-ubun Bang Dewa terasa terbakar. Daripada emosinya semakin tak terkontrol karena kekesalannya, Bang Dewa pun memilih meninggalkan rumah dan kembali ke kamar Gita.
~
"Mas tidak habis pikir dengan sikap Bian belakangan ini, kenapa perubahannya drastis sekali. Mas seperti tidak mengenal Bian. Ada apa dengan Bian? Mas ingin mencari tau apa yang terjadi tapi waktunya belum sempat." jawab Bang Dewa.
"Sekarang kembali lah ke kamar Mbak Bian dan bujuk Mas..!! Semakin Mas marah dan menjauh begini, Mbak Bian akan semakin sakit hati karena Mas abaikan..!!" Kata Gita.
"Lebih baik Mas di sini dulu. Hati mas sedang benar-benar tidak enak dek. Mas ingin menenangkan pikiran lebih dulu." Tolak Bang Dewa.
Mendengar jawaban Bang Dewa, Gita sudah bisa menebak mungkin tadi Bang Dewa ingin menyalurkan hasratnya namun bukannya terbalas, suaminya itu malah mendapatkan penolakan.
Dengan cepat Gita mengikat rambutnya. Ia pun mendekati Bang Dewa.
"Apa ini?" Bang Dewa sedikit menghindar dan membuang muka saat dada Gita berada tepat di depan wajahnya.
"Gita masih sakit, tapi Mas Dewo pasti tau cara terbaik khan?" kata Gita.
__ADS_1
Bang Dewa hanya terdiam tapi Gita mengarahkan wajah Bang Dewa agar kembali menatapnya.
"Daripada uring-uringan nggak jelas Mas. Memangnya Mas nggak penasaran tentang apa yang terjadi sama Mbak Bian?" Tanya Gita.
Melihat Bang Dewa masih diam, Gita pun mundur. "Ya sudah kalau nggak mau."
"Iyaa.. iyaaa.. Mas mau." Bang Dewa berdiri, ia mengangkat dan membaringkan tubuh Gita perlahan. "Kita selesaikan masalah yang ini dulu baru selesaikan yang lain." tanpa membuang banyak waktu, Bang Dewa membuka kaos dan celana pendeknya.
...
Gita terbangun saat melihat ada bayangan seseorang melintas di dekat jendela kamarnya, ia segera membangunkan Bang Dewa yang tertidur di kamarnya usai kembali puas melepas hasratnya meskipun tidak sempurna.
"Mas.." Gita menggoyang lengan Bang Dewa. "Maass.. bangun dulu..!!"
"Ada apa Dindaa? Mas masih capek." ucapnya.
"Ada bayangan yang mengintip di jendela. siapa ya Mas?" kata Gita dengan cemas.
Bang Dewa pun membuka matanya. Ia segera menyambar pakaiannya. "Baik-baik kamu di kamar. Mas mau cek keadaan di luar..!!"
"Hati-hati ya Mas."
Bang Dewa meninggalkan kecup sayang di kening Gita. "Iyaa.. Kamu tenang saja.!!"
.
.
.
.
__ADS_1