Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
26. Perjuangan yang tidak mudah.


__ADS_3

"Bagaimana keadaan istri saya dok?"


"Istri Pak Dewo mengalami hyperemesis gravidarum. Hal ini biasa di alami oleh ibu hamil tapi jika berlebihan seperti ini juga tidak baik Pak, harus mendapatkan perawatan juga di rumah sakit." Kata dokter.


"Baik dok, di rawat saja biar cepat sehat..!!"


"Gita nggak mau di rawat di rumah sakit Mas, Gita mau pulang..!!" Tolak Gita.


"Gitaa.. Mas nggak sedang menawari kamu pilihan, ini demi kesehatanmu..!!!!" Bang Dewa membentak Gita dan saat itu Gita tersentak hingga akhirnya menangis.


Gita semakin terisak mendapatkan bentakan dari Bang Dewa.


"Tolong di rawat sekarang saja dok..!!" Pinta Bang Dewa.


"Nggak Maass, Gita nggak mau..!!" Ucap Gita semakin lirih.


Dokter pun segera menangani Gita.


"Jangaaaann..!!" Tolak Gita.


Melihat Gita sangat ketakutan akhirnya Bang Dewa memeluknya agar Gita tidak berontak. "Uusshh.. ini Mas Dewo disini..!! Nggak usah takut..!!" Bujuk Bang Dewa sampai Gita tenang.


"Pak Dewo, apa berkenan kalau istri di berikan obat agar bisa sedikit tenang, agar bisa istirahat dan tidak terus mual." Saran dokter kandungan.


"Iya.. silakan apapun yang terbaik..!!"


Dokter menyuntikkan obat pada selang infus dan perlahan Gita memejamkan matanya.


"Gita ingin janji tidak akan mencintaimu Mas Dewo, Mas hanya milik Mbak Bian." Gumamnya sampai akhirnya tertidur pulas.


Setitik air mata Bang Dewa jatuh di pipi Gita. "Maaf.. maaf kalau Mas harus menyakitimu dan kamu harus kalah dari Bian." Semakin erat Bang Dewa memeluk Gita lalu menciumi wajah Gita. Tak lupa ia meninggalkan satu kecupan di bibir. "Sehat-sehat ya Dindaku sayang..!! Jika ragaku tak bisa menjagamu, biar Allah sebaik-baiknya penjaga untukmu..!!"


Bang Jazwan yang baru saja tiba sampai ikut trenyuh melihat sikap Bang Dewa.


'Sebenarnya ada apa Bang. Saya rasa Abang bukan orang yang tidak mengerti keyakinan kita, tapi kenapa Abang mengabaikan perasaan salah satu istri Abang. Gita mencintaimu, Abang jelas juga sangat mencintai Gita. Mengapa Abang tidak memberikan cinta yang adil untuk keduanya?'


...


Dengan telaten Bian merawat Gita. Ia sangat senang menyentuh perut Gita meskipun masih datar.

__ADS_1


"Cepat besar di perut ya anak Mama, Bunda sudah lama menunggu hadirmu. Bunda tidak ingin kehilangan kamu untuk kesekian kalinya. Biarkan kamu tidak tumbuh di rahim Bunda, tapi Bunda sangat menyayangimu." Bian duduk di kursi kemudian membacakan do'a untuk Gita.


Batin Bang Dewa terasa hancur lebur melihat kedua istrinya. Ia duduk merosot sendirian di depan ruang ICU.


"Kita ngopi saja yuk Bang..!!" Ajak Bang Jazwan. Tak disangka saat itu Bang Rawa tiba dan mengulurkan tangannya, membantu Bang Dewa untuk berdiri.


"Rawaa.. aku.........."


Bang Rawa pun memeluk littingnya itu. Bang Dewa menangis meraung menumpahkan tangisnya pada iparnya.


"Saya tidak akan meminta kamu melepaskan salah satunya, saya tau semua sangat berat untukmu, terima kasih banyak kamu telah menyayangi Bian tapi Gita juga istrimu, berilah Gita kasih sayang yang sama."


Tiga tahun hidup bersama Bian. Suka, duka, tangis dan tawa di lalui bersama. Kehilangan anak juga bukan hal mudah untuknya dan Bian. Namun dengan Gita, ia meletakan hatinya pada sosok yang ia simpan jauh di dalam lubuk hati tanpa melihat wajahnya. Sungguh cinta tidak mengenal rupa dan tidak tau dimana akan berlabuh. Bahkan saat itu ia tetap mencintai Anna yang ia yakini akan menjadi bagian dari hidupnya. Hanya komitmen dan kesadaran diri atas tanggung jawab yang membuatnya bisa tetap bersama Anna saat itu.


"Aku tidak bermaksud menyakiti hati Bian."


"Iyaa.. aku tau Wo."


Dari jauh Bang Seba terus menatap junior yang juga adik littingnya itu.


...


Bang Seba masuk ke kamar Gita saat tidak.ada seorang pun disana.


"Bisakah kamu tinggalkan Dewo, kamu tau rasanya sangat sakit melihat pasangan kita mendua." Ucap Bang Seba tanpa perasaan padahal dirinya tau dan sadar tentang aturan kesultanan dan bagaimana awal Gita dan Bang Dewa bisa menikah.


Gita terdiam di balik lemah tubuhnya, ia tidak terbiasa menumpahkan air mata di hadapan orang lain.


"Status menikah sudah cukup untukmu, seharusnya semua sesuai perkataan Dewo, kamu hamil menggunakan bayi tabung, bukan seperti ini. Kalau Dewo sudah terkena bujuk rayumu, dia akan lebih memilihmu daripada Bian yang sudah rusak." Bentak Bang Seba. "Jika kamu punya harga diri dan perasaan sebagai sesama perempuan, kamu akan menolak saat Dewo merayumu. Kamu sama saja dengan wanita j****g yang suka merusak rumah tangga orang lain, saya tau kamu orang bayaran dari pihak kami, apa tidak cukup sampinganmu bersama laki-laki di luar sana."


Hati Gita cukup tertekan mendengarnya. Bang Seba pun keluar dari kamar rawat Gita membawa wajah marahnya.


...


Bang Dewa membuka kamar rawat Gita. Tidak ada siapapun disana. Bang Dewa melangkah mencari Gita di toilet namun istrinya itu tidak juga ada disana.


"Gitaa???" Bang Dewa kelabakan mencari Gita.


Bian datang dan melihat kamar itu sudah kosong melompong. Gita meninggalkan seluruh barang pemberian Bang Dewa. Dengan kata lain tidak ada barang yang dibawanya pergi.

__ADS_1


"Gitaaaaaa..!!" Bang Dewa berlari kesana-kemari mencari Gita yang pergi entah kemana.


Dalam kekalutannya, Bang Seba menghampiri Bang Dewa. "Relakan saja.. mungkin jodohmu hanya sampai disini."


"Apa maksud Abang???? Apa Abang yang membuat Gita pergi?????" Suara Bang Dewa meninggi tak peduli lagi dengan tingkatan usia mereka.


"Tidak, wanita baik-baik akan sadar posisinya. Kau sudah khilaf menyentuhnya hingga hamil, itu sudah lebih dari cukup memberinya bahagia. Kalau kau terperangkap bujuk rayunya, kau pasti akan meninggalkan adikku demi wanita yang sudah melahirkan anakmu." Kata Bang Seba.


"Astagfirullah hal adzim.. piciknya pikiranmu Baaang..!!!!!"


buugghh.. baagghh.. buugghh..


Perkelahian tak bisa di hindarkan, Bang Dewa menghajar Bang Seba tanpa ampun. Kemarahan Bang Dewa menjadi-jadi hingga Bang Seba tak sanggup mengatasi. Bang Jazwan dan Bang Rawa ikut bingung melerai keduanya.


"Asal kau tau Bang, Gita bisa hamil karena aku memper***anya, aku yang memaksanya dengan sadar dan aku sudah menyakitinya demi cintaku untuk adikmu..!!!!!"


buugghh..


Bang Dewa menghantam telak tubuh Bang Seba. "Kalau sampai Gita tidak kembali, adikmu yang akan menjadi tumbalnya..!!!" Ancam Bang Dewa meskipun semua tidak dari hatinya yang terdalam.


Sungguh saat ini pikiran dan hati Bang Dewa campur aduk. Gita pergi membawa calon bayinya, keadaan Gita jauh dari kata sehat dan yang lebih parah adalah.. Gita pergi tidak membawa apapun.


Bian mendekati Bang Dewa dan memberikan pelukan hangat. Ia menyadari perasaan suaminya sedang hancur berantakan. "Cari Mas, bawa Gita kembali. Ada anakmu di perutnya."


"Jika Gita hanya menyakiti hatimu.. saya tidak akan membawanya kembali. Kalian berdua sudah cukup sakit. Jadi jika Gita harus kalah, biarkan satu kali ini saja Gita merasakan sakit yang teramat sangat dalam hidupnya. Saya ikhlaskan Gita pergi." Ucap Bang Dewa namun tangisnya berderai. Bang Dewa sudah berusaha sekuat hati meskipun sungguh hatinya tidak kuat. Cemas, takut, rindu berkumpul menjadi satu.


.


.


.


.


JANGAN SPOILER..!!


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2