
Sinar matahari sangat indah. Bang Dewa menggendong kedua bayinya untuk berjemur, tak lupa ia mengajak Gita duduk di sebelahnya.
"Kakinya di luruskan dek. Jangan di tekuk begitu..!!" Kata Bang Dewa.
Gita berusaha menurut tapi tubuh bagian 'bawahnya' masih terasa tidak nyaman, Gita hanya memercing menahan rasa sakit.
Bang Dewa yang paham kondisinya segera menidurkan bayinya pada box bayi yang sempat di belinya. Tanpa banyak bicara Bang Dewa membantu Gita meluruskan kaki lalu memijatnya lembut.
"Anak-anak saja Mas, Gita nggak apa-apa." Tolak Gita merasa tidak enak.
"Mereka tidur nyenyak, sudahlah biar Mas memijatmu. Mas tau kamu tidak bisa tidur."
"Pulanglah Mas, Mbak Bian sendirian dan pasti butuh Mas." Wajah Gita mendung, pikirannya tak karuan, bercabang kemana-mana.
"Saat kamu bersama Mas, jangan pikirkan yang lain..!! Kamu juga berhak mengejar kebahagiaanmu dek."
"Gita sudah bahagia Mas. Anak-anak juga merupakan bahagianya Gita." Jawab Gita mengusap air matanya.
Jelas sekali Bang Dewa paham perasaan wanitanya. Jika saja boleh memilih pasti Gita pun sama seperti Bian, ingin memiliki dirinya seorang diri sebab tidak ada wanita yang benar-benar kuat melihat suaminya menikah lagi dalam artian berdua dengan madunya.
"Mas nggak pernah minta kamu sabar untuk menghadapi semua, mas sudah tau beratnya menjadi istri Kapten Sadewa."
__ADS_1
"Tolong jangan katakan itu Mas, hanya Mbak Bian yang pantas menerima gelar itu. Gita nggak pantas."
Bang Dewa memeluk Gita dengan sayang. "Derajatmu dan Bian sama. Sama-sama istri Mas Dewo, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Itu juga berlaku untuk kehidupan kalian. Mas ingin membawamu tinggal sama Mas, di luar asrama."
"Nggak Mas, Gita nggak mau. Tolong Mas..!!!"
"Ndhuk.. ibu dan ayah ikut disana. Ibu dan ayah tinggal di rumah bagian belakang. Kamu dan Bian tinggal bersama Mas Dewo. Tenang saja. Ibu dan ayah bisa bantu jaga anak-anak."
Karena sudah lebih dekat dengan ibu, akhirnya Gita menyetujui ajakan Bang Dewa untuk tinggal bersama dalam satu rumah di luar asrama nantinya.
"Nanti kamu tinggal di sana lebih dulu. Baru Mas bawa Bian, kapan hari Mas sudah bicara sama Bian tapi Bian belum mau. Mungkin kalau ada kamu, Bian mau tinggal bersama." Kata Bang Dewa.
\=\=\=
Sesampainya di rumah joglo milik Bang Dewa, ia melihat ternyata hari ini Bian dan Bibi belum ada di sana. Melihat suaminya tiba, Bian langsung menyambutnya namun saat di dalam mobil itu ada sosok Gita, senyumnya mendadak pudar apalagi moment dimana Bang Dewa membantu Gita untuk turun dari mobil, hatinya terasa sakit.
"Pelan-pelan jalannya dek..!!" Perlahan Bang Dewa menuntut langkah Gita.
"Tetangga kita di asrama baru melahirkan tapi sudah sehat lho Mas." Ucap itu terlontar begitu saja dari mulut Bian.
Entah apa maksud dan tujuannya tapi jelas saat itu Bang Dewa begitu meradang dan tidak suka dengan ucap Bian yang terkesan tidak menghargai perjuangan Gita.
__ADS_1
"Setelah ini kita bicara di kamarmu..!!" Kata Bang dengan tatapan tajamnya.
Ibu menggeleng tapi langsung masuk ke dalam rumah di bagian belakang, rumah yang memang sengaja Bang Dewa pisahkan agar para istri bisa menata setiap bagian sudut rumah sesuai keinginan mereka.
...
"Karena sekarang Mas Dewo lebih banyak memperhatikan Gita."
"Kapan Mas begitu??? Setiap bersamamu Mas meletakan ponsel, hanya merespon pesan jika ada notifikasi yang masuk. Mas lebih sering jalan denganmu, lebih sering tidur sama kamu. Ke tempat Gita paling lama juga dua malam satu hari. Kemarin sudah waktunya Mas menjenguk Gita. Apalagi dia melahirkan.. cuma kemarin saja mas menginap dari hari Jum'at sore sampai hari Senin pagi ini. Apa yang kurang dek??? Gita juga butuh perhatian." Sebenarnya Bang Dewa sudah tersulut emosi, tapi ia paham emosinya tidak akan menyelesaikan masalah.
"Setiap laki-laki yang mendua pasti akan mencintai istri keduanya karena pasti yang kedua lebih segalanya dari istri pertama."
Kening Bang Dewa berkerut, selama ini tidak pernah sekalipun ia mendengar ucap Bian yang seperti barusan.
"Benarkah ini hasil pikiranmu?? Siapa yang sudah meracuni pikiranmu???" Tatap mata Bang Dewa tidak lepas dari kedua bola mata Bian. "Kamu yang ngotot ingin Mas menikah. Lalu ini balasanmu untuk Gita yang hampir tidak pernah Mas perhatikan?? Demi bahagiamu kemarin dia nyaris kehilangan nyawa. Kalau kamu tidak mau bilang siapa orang di belakangmu, Mas akan cari tau sendiri tapi kamu pasti paham konsekuensinya Bian..!!!!" Ucap tegas Bang Dewa.
.
.
.
__ADS_1
.