
Derasnya suara hujan menyamarkan deruan hela nafas Bang Dewa. Malam ini dirinya membayar tuntas rindunya. Perut Gita yang semakin besar tak menyurutkan akal dan hasratnya yang sudah setinggi langit.
Perlahan tapi pasti ia menyelesaikan urusan batinnya bersama Gita hingga hentakan terakhirnya terasa sangat mengena.
"Maaaaass.." pekik Gita tepat di telinga Bang Dewa.
Bang Dewa yang kesadarannya masih teralihkan pada fokusnya.
"Perut Gita ada yang menekan Maas..!!" Gita memberontak tapi Bang Dewa masih menikmati pelepasannya yang begitu menggairahkan.
"Hhggghhh.. iya.. iya.. sebentar aja dek." Bang Dewa berusaha mengumpulkan kesadarannya. Saat perlahan beranjak, ia merasakan panas di bagian tubuhnya diikuti basah yang mengalir. "Opo iki dek?" Pertanyaan bodoh Bang Dewa masih menerka situasi.
Tiba-tiba saja Gita mengejan kuat. "Si adek.. mau keluar Maas..!!"
"Laahdalaaahh.. piye to deeekk?????" Bang Dewa kocar-kacir mencari pakaiannya yang tersebar entah kemana.
"Maaaasss..!!!!!"
Bang Dewa semakin panik melihat Gita semakin kesakitan. Belum sempat ia memakai bawahannya, ibu dan ayah sudah mengetuk pintu.
"Ada apa Wo??"
__ADS_1
"Gita sakit perut Bu." Jawab Bang Dewa sampai terjatuh-jatuh tak seimbang memakai pakaiannya.
"Buka Wooooo.. lagi apa sih kamu, ibu mau masuk..!!!!!!" Teriak ibu.
"Duuuuhh sebentar Buuu..!!!!"
Situasi semakin mendesak dan Bang Dewa menyambar sarung karena ibu dengan mudahnya membuka pintu. Tangan Bang Dewa menutup tubuh Gita dengan selimut.
"Ya ampun ndhuk.. dingin begini kamu nggak pakai baju?" Tanya ibu dengan pikiran polosnya karena Gita hanya memakai dress malamnya tapi kemudian saat sedikit membuka selimut, ibu mulai paham apa yang terjadi dan melirik Bang Dewa yang berdiri masih memercing dengan seribu makna.
"Kamu apakan menantu ibu??"
"Ya di apa-apain." Jawab Bang Dewa lirih.
Ibu membuka selimut Gita dan melihat jalan lahir Gita sudah nampak melebar.
"Yaaahh.. siapkan air panas. Cucu kita mau lahir." Dengan cekatan ibu menyiapkan segala perlengkapan yang diperlukan tapi Bang Dewa hanya mematung berdiri di samping ranjang. Tatapan kosong melompong. "Dewooooo.. bantu istrimu..!!!!!" Teriak ibu.
"Ii_ya Bu." Bang Dewa duduk di dekat bagian bawah Gita lalu mengambil tisu basah untuk menyeka. Tidak mungkin ia membiarkan ibunya melihat hasil kerja kerasnya mengobral rindu malam ini.
Bang Dewa menyambar ponselnya lalu menerangi sekitar. Perlahan Bang Dewa menyeka tapi Gita menutupnya karena merasa malu.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Mas Dewo sudah pernah lihat, sudah tau tempat yang paling Mas Dewo rindukan untuk pulang." Bisik Bang Dewa.
Gita pun pasrah tanpa perlawanan. Memang benar apa ucap Bang Dewa. Ibu pun datang membawa beberapa perlengkapan persalinan.
"Pantas anteng betul kamu sejak tadi sama Gita di kamar, ternyata di kasih sesaji." Ledek ibu. "Sekarang bagaimana nih Wo? hujan deras sekali. Kita nggak bisa bawa Gita lahiran di klinik bawah. Ibu takut karena Gita hamil bayi kembar." Omel ibu kemudian mengintip bagian bawah Gita.
Gita terlihat banyak diam karena mungkin sudah begitu kelelahan.
"Gitaa.. ndhuk.. masih bisa dengar suara ibu?" Ibu menepuk paha Gita namun reaksinya begitu tipis dan minim respon.
Anggukan lemah menjawab jika Gita masih dalam keadaan sadar.
"Gita kenapa Bu??" Tanya Bang Dewa dengan wajah polos tanpa dosa.
"Astagfirullah..!!! Cepat kamu keluar, cuci muka..!!! Istrimu mau melahirkan Woooooo..!!!!!!"
Bang Dewa ternganga, wajahnya berubah panik. Ia tak mengira ucap Gita tadi adalah sebuah tanda bahwa istrinya itu akan segera melahirkan dan ia mengintip bagian bawah lagi sembari memastikan bahwa apa yang di 'lihatnya' adalah tanda kelahiran sang jabang bayi.
.
.
__ADS_1
.
.