
Kalau ada kesalahan di pangkat, Maaf ya😬. Next Nara revisi 🙏.
🌹🌹🌹
"Mas, sejak memilih rumah tangga seperti ini.. Bian sudah mengikhlaskan semua. Termasuk jika Mas harus bersama Gita. Bian sudah katakan ingin lebih dekat dengan Tuhan. Apa yang tidak bisa Bian lakukan, biar Gita yang lakukan." Kata Bian.
"Tidak semudah itu dek. Kamu tau profesi Mas juga tidak mengijinkan tentara untuk menikah lagi. Kami juga contoh dalam masyarakat untuk menjunjung tinggi kesetiaan pada pasangan." Jawab Bang Dewa meskipun hatinya masih menyimpan ribuan rasa cemas.
"Cari Gita Mas..!!"
Bang Seba mendekati Bang Dewa. Ia tidak menyangka emosinya membawa petaka sebesar ini dalam rumah tangga adiknya.
"Dewo, saya minta maaf..!!"
Tidak ada jawaban dari mulut Bang Dewo, hatinya sudah penuh sesak.
"Kita pulang..!!" Ajak Bang Dewa.
\=\=\=
Lain di mulut lain di hati. Bang Dewa menyandarkan punggungnya yang lelah. Sejak kepergian Gita, tidak sehari pun ia lewatkan untuk mencari istri keduanya. Segala cara sudah ia tempuh hingga meminta bantuan pihak luar yang bisa di percaya namun semua nihil. Istrinya yang pintar itu sudah menghilangkan jejak dengan sangat rapi.
Bang Dewa mengambil secarik kertas untuk menumpahkan seluruh isi hatinya, di saat semua orang menyalahkan dirinya atas kejadian ini mungkin hanya secarik kertas ini yang mampu mengurangi beban batinnya.
Gita sayangku..
Angin berhembus semilir membawa kesejukan pagi, namun seperti biasa hatiku terasa hampa seorang diri. Matahari yang terbit membawa cahaya terang juga tak mampu memberiku kabar dimana keberadaanmu.
Gita sayangku..
Apakah kamu baik-baik saja di sana?apakah si kecil kita tumbuh sehat di rahimmu? Kenapa sayang? Kenapa tidak kamu katakan inginmu dan meluapkan rasa marahmu padaku?
Gita sayangku..
Bian pernah menangis sejadi-jadinya karena kehilangan rahim dan bayinya. Itu sudah memukul telak batinku hingga aku tidak berani menyakiti hatinya. Di saat yang Tuhan tentukan.. aku bertemu denganmu yang sejatinya telah menyelamatkan Bian dari aturan gila yang seharusnya tidak terjadi, saat itu hatiku tetap ingin menyenangkan hati Bian tanpa mendengar inginmu. Aku menyakiti hatimu karena tidak ingin menyakiti hati Bian padahal aku tau perasaan kalian sama-sama selembut salju.
Gita sayangku..
Kini aku sungguh menyadari telah menyakiti hatimu.. kutitipkan dia di rahimmu tapi semua juga untuk membahagiakan Bian. Mungkin benar, wanita bisa jauh dan hidup tanpa lelakinya tapi wanita.. seorang ibu, tidak bisa jauh dari anaknya. Kelak jika kamu tidak memberikan anak itu pada Bian.. aku tidak akan pernah menyalahkanmu karena aku mengerti bagaimana perjuanganmu.
Gita sayangku..
Terima kasih kamu masih bersedia mengandungnya walaupun kamu tau kalau ayahnya bersikap buruk pada ibunya.
Salam sayang dari yang mencintaimu
__ADS_1
Kapten Sadewa.
Bang Dewa mengusap wajahnya kemudian memejamkan mata menghadap langit-langit ruang kerjanya.
"Ya Allah Ya Rabb.. rasanya sangat sakit sekali. Kemana lagi aku harus mencari Gita."
Delapan bulan pencarian tak membuahkan hasil.
tok.. tok.. tok..
"Siapa?" Bang Dewa kembali mengusap wajahnya.
"Ijin Dan, ada seseorang yang meletakkan bayi di samping kesatrian. Dalam box bayi tersebut tertulis 'Milik ibu Sabian Tunggadewi.'
Seketika itu juga Bang Dewa berlari menuju kesatrian.
~
Tangis Bang Dewa pecah melihat bayi laki-laki tersebut amat sangat mirip dengannya. Hidung mancung, bibir tipis, rambut tebal, bahkan bahunya sangat mirip seperti dirinya. Bang Dewa memeluk dan menciuminya. Tangisnya semakin sesak saat membuka kain penutupnya. Bekas tali pusatnya masih basah, itu berarti bayinya baru saja di lahirkan.
"Cari informasi rumah sakit, bidan praktek bahkan sampai dukun bersalin di seluruh kota ini..!!" Perintah Bang Dewa.
"Siap Dan.." para anggota segera melaksanakan perintah Kapten Sadewa.
"Satu lagi.. tutup akses keluar kota bagi siapapun yang baru melaksanakan persalinan..!!! Sekarang juga..!!!!".
Bian sangat senang saat Bang Dewa pulang membawa bayi laki-laki. Senyum itu seakan menjawab kesedihannya selama ini dan mungkin benar, hanya bayi itu satu-satunya hal yang membuatnya bahagia. Ia segera merawatnya sedangkan Bang Dewa sibuk menghubungi kesana kemari untuk mencari Gita.
"Ijin.. tadi ada mini bus berwarna silver meletakan box bayi beserta perlengkapannya di tepi jalan." Lapor Bang Jazwan.
"Ayahnya kemana?" Tanya Bang Dewa.
"Ijin.. masuk perkampungan Bang..!!" Jawab Bang Jazwan.
"Okee.. kamu ikut saya..!!" Ajak Bang Dewa lalu menyambar kunci mobilnya.
...
Bang Dewa memasuki pemukiman yang jaraknya lumayan jauh dari tempatnya berdinas hingga dirinya menemukan rumah tua di atas bukit.
Perlahan tapi pasti Bang Dewa melangkah masuk, dari samping jendela ia mengintip kondisi di sekitar.
"Ibuuu.. Gita nggak tahan sakitnya." Rintih Gita masih penuh peluh di wajah dan tubuhnya.
"Sabar ya ndhuk.. memang begini kodratnya wanita." bujuk ibu.
__ADS_1
Sungguh terkejut ternyata selama ini Gita tinggal bersama sang ibu dan ayah di atas bukit. Ibu mengusap air mata Gita.
"Gita perempuan yang hebat, ibu yang luar biasa, Ibu akan mengutuk Dewo kalau berani menyakitimu lagi. Gita sudah memberikan anak untuk Dewo dan Bian."
Gita memercing merasakan dadanya sangat sakit. Di saat ibu yang lain menimang bayinya usai melahirkan, tapi Gita tidak bisa menimangnya bahkan tidak sempat memberinya ASI karena takut tidak bisa melepaskan bayinya itu.
"Besok pagi Gita pamit pergi ya Bu..!!"
"Gita mau kemana? Gita belum sehat." Kata ibu.
"Gita ingin pergi jauh agar tidak ingat anak dan Mas Dewo lagi. Tugas Gita sudah selesai Bu, Gita tidak mau menjadi duri dalam rumah tangga Mas Dewo dan Mbak Bian." Jawab Gita.
Ayah ikut duduk di ranjang. "Apa kamu tidak sudi menganggap kami sebagai mertuamu?"
"Bukan ayah.. Gita perempuan, dan Gita tidak ingin mencintai suami orang. Tolong biarkan Gita pergi. Gita juga punya harga diri."
Ayah dan ibu memeluk Gita dengan erat. "Terima kasih banyak ndhuk, kamu sudah memberikan kebahagiaan terindah untuk keluarga kita." Ibu mencium kening menantunya.
Bang Dewa kembali ke mobilnya dan bersiap akan menjemputnya esok. Ia tidak bisa meninggalkan Bian terlalu lama karena bayinya juga butuh untuk di periksa kondisinya pasca kelahiran tanpa bantuan tenaga medis.
-_-_-_-_-
"Apa Gita sudah di temukan Mas?" Tanya Bian usai mereka pulang dari dokter anak.
Bang Dewa hanya diam tapi senyum tampan menghias wajahnya yang bahagia atas kelahiran putranya.
"Namanya siapa ya Mas?"
"Raden Mas Suthang Angger Argoranu.." jawab Bang Dewa. Dengan telaten ia menyusui bayinya.
Bian tersenyum puas mendengarnya.
"Mas, masukan nama Gita di akta kelahirannya." Kata Bian.
"Hanya ada namamu di bawah nama Mas dalam KK. Gita tidak termasuk di dalam anggota keluarga kita." Berat Bang Dewa mengucapkannya meskipun itulah kenyataannya.
"Kasihan Gita Mas."
"Ini sudah takdir hidup yang kita pilih." Jawab Bang Dewa padahal di dalam hatinya pun ikut sakit.
Bang Dewa menempelkan hidung mancungnya pada putranya. "Jagoan Papa." Gumamnya.
.
.
__ADS_1
.
.