Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
21. Hanya aku dan Tuhan yang tau.


__ADS_3

Satu minggu berlalu sejak perginya Gita dan mulai saat itu juga Bian bersedih.


"Secepatnya Mas bawa Gita pulang.. Mas janji."


"Sungguh??" Tanya Bian ragu.


"Iya.. Mas bawa Gita pulang..!!"


"Cepat Mas, Bian mau berangkat umroh besok pagi."


-_-_-_-_-


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, Bang Dewa menunggu Gita di dalam mobil sambil memantau keadaan.


"Kamu sudah bertemu Om Mulyono??" Tanya Teman Gita.


"Belum. Aku malas Om Mulyono jahil sekali, suka minta cium." Jawab Gita sedikit tidak bersemangat.


"Ladeni donk.. biar uang sakunya nambah." Kata teman Gita.


Bang Dewa mengepalkan tangannya mendengar percakapan itu. 'Jadi itu alasanmu tidak mau pulang, lalu apa yang bersih darimu. Apa memang kamu selalu mengijinkan semua menyentuhmu hanya demi uang??'. Ia pun turun dari mobil lalu menghampiri Gita.


Gita membuang nafas panjang melihat Bang Dewa ada di sekitar tempat kerjanya. "Kenapa Mas kesini lagi. Tugasku belum selesai..!!"


"Ayo pulang..!!"


"Nggak bisa Mas." Untuk kesekian kalinya Gita menolak Bang Dewa.


"Jangan sampai kesabaran saya habis. Ambil barangmu atau saya obrak abrik tempat ini sampai kamu tidak bisa kembali..!!" Ancam Bang Dewa.


Tak lama ada sosok yang mendekati Gita. "Haii Gitaa.. apa kabar?"


"Baik Om." Jawab Gita tidak enak.


"Ayo masuk.. kita bicara di dalam saja..!!" Ajak Om Mulyono.


"Maaf.. Gita sedang ada urusan dengan Om Dewo." Sambar Bang Dewa.


Gita tak bisa menjawab apapun tapi ia melangkah pergi untuk mengambil barang-barang.


~


"Maaaaass..!!" Pekik Gita melihat Bang Dewa menghajar Om Mulyono sampai babak belur.


"Jangan pernah kamu dekati istri saya..!!!!" Bentak Bang Dewa.


"Maaass.. sudah..!!" Gita memeluk Bang Dewa agar amarah suaminya mereda.


"Maaf Pak Dewa. Pertama saya sungguh tidak tau kalau Gita adalah istri Pak Dewa. Kedua segala ucap saya hanya candaan dan ketiga.. saya berinteraksi dengan Gita hanya untuk profesional kerja." Jawab Om Mulyono.


"Alasan saja..!!!!" Bang Dewa menepis tubuh Gita lalu menyambar tasnya dan menggandeng tangan Gita dengan kasar untuk masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


:


"Pekerjaan apa sampai laki-laki bisa menatapmu seperti itu Gitaa??????"


"Mereka orang kelas besar Mas. Minta bertemu di club malam karena mau pacaran. Gita nggak setiap kali datang ke club malam kok, bertemu kalau mau transaksi saja." Jawab Gita kesal dan sudah menangis.


"Transaksi apa?? Bicara jangan sepotong..!!!"


Gita yang diam seribu bahasa membuat Bang Dewa semakin geram. Emosinya sungguh tidak terkontrol. Bang Dewa menepikan mobilnya di jalan sepi area kebun sekitar asrama batalyon. "Sekarang urusanmu sama Om Dewo..!!"


Bang Dewa melonggarkan ikat pinggangnya. Setengah mati Gita ketakutan, dengan cepat Bang Dewa menurunkan sandaran mobilnya. Saat itu mata Gita melihat 'senjata api' milik Bang Dewa di balik temaramnya gelap malam. Ia tidak bisa berkutik saat jemari Bang Dewa membuka kancing pakaiannya kemudian menaikkan roknya.


"Maaaaaaaaaas...!!"


"Diam Gitaa..!!!"


***


Bang Dewa bersandar lemas. Tubuhnya ambruk tanpa tenaga. Ia menggigit bibirnya mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Matanya terpejam sejenak merasakan sisa pertempuran dengan Gita. Setelah tiga tahun lebih ia menahan diri untuk lepas sesuai keinginan, baru malam ini dirinya menumpahkan seluruh rasa pada Gita.


Terdengar suara Gita terisak-isak. Lama kelamaan ada rasa tidak tega dalam hati Bang Dewa. Ia masih menggenggam jemari Gita yang juga menggenggamnya sangat erat.


"Jangan nangis..!! Bian saja nggak nangis." Ucap Bang Dewa padahal ada rasa takut dalam hatinya.


Bang Dewa bangkit kemudian dengan sigap tangannya mengancingkan kembali pakaian Gita pada posisi semula dan membenahi dirinya agar bisa segera pulang.


:


"Eeehh.. Maaass.. Gita kenapa nih????" Tanya Bian dengan paniknya.


"Nggak apa-apa mbak. Gita habis jatuh tadi." Jawab Gita pelan.


"Jatuh dimana??"


Bang Dewa sengaja turun cepat dari mobil kemudian menurunkan tas Gita lalu berputar arah agar Bian tidak melihat apapun di bangku jok depan. Jantung Bang Dewa nyaris terlepas melihat sisa kelakuannya pada Gita.


'Ya Allah.. apa yang sudah aku lakukan pada Gita????'


"Kamu buat minum teh hangat dulu dek. Biar Mas yang bawa Gita ke kamar..!!" Perintah Bang Dewa.


Bian mengangguk dan secepatnya menuju dapur.


Gita terlihat sangat kesakitan. Akhirnya Bang Dewa mengangkat Gita untuk masuk ke dalam kamar. Ada rasa tidak tega saat Gita bersandar pada bahunya.


~


Bian keluar dari kamar Gita saat Bang Dewa memintanya untuk keluar sesaat setelah mengantar teh hangat.


Secepatnya Bang Dewa mengunci pintu. Ia segera menuju lemari dan mengambil pakaian Gita.


"Pakai dulu pakaianmu..!!" Bang Dewa meletakan pakaian di samping Gita dengan kasar tapi istrinya itu tidak merespon. "Gitaa..!!" Tangan Bang Dewa menepuk pipi Gita tapi Gita tetap tidak bereaksi sama sekali. Mau tidak mau Bang Dewa merawatnya juga.

__ADS_1


Sesaat kemudian matanya tertuju pada sela paha Gita. Syok tak terkira seakan menghantam telak batinnya. "Astagfirullah.. Gitaaaa..!!!" Bang Dewa kelabakan mencari tissue basah dan beberapa obat di laci nakas Gita.


...


Matahari belum muncul, Bang Dewa segera membersihkan mobilnya agar Bian tak melihat jejak apapun disana.


"Gita di tinggal Mas?" Tanya Bian.


"Biar saja. Kemarin dia jatuh di depan rumah temannya." Alasan Bang Dewa.


"Ya sudah, mas jaga Gita. Jangan di marahi terus. Kasihan Mas..!!"


"Hmm.." Bang Dewa mengangkat koper Bian dan memasukan ke dalam mobil. "Cepat pulang, Mas kangen."


"Iihh.. berangkat saja belum lho Mas." Jawab Gita.


Bang Dewa memeluk Bian. Kini rasa hatinya campur aduk tak karuan, sebagai seorang suami dirinya telah berkhianat pada Bian meskipun sang istri telah mengijinkan.


"Hati-hati disana dan cepat hubungi Mas..!!"


-_-_-_-_-


Bang Dewa sudah kembali dari bandara usai mengantar Bian. Langkah kakinya langsung menuju kamar Gita dan melihat keadaan istri keduanya.


Sampai hari menjelang pukul delapan tapi Gita tak juga bangun. "Gitaa..!!" Bang Dewa menepuk pipi Gita.


Gita ingin bangun tapi rasa dirinya tak sanggup untuk bangkit, bahkan membuka mata pun rasanya sulit.


"Makan dulu..!!" Bang Dewa sudah menuang bubur ayam yang ia beli usai mengantar Bian tadi.


Gita menggeleng dengan wajah pucatnya dan hal itu membuat Bang Dewa sangat cemas pasalnya Gita sama sekali tidak berdebat dengannya seperti biasa.


"Sedikit saja. Jangan merepotkan saya..!!" Kata Bang Dewa.


"Kalau tidak mau repot ya tinggalkan Gita saja. Berangkat kerja sana. Gita malas lihat wajah pemarah." Jawab Gita sambil memalingkan wajahnya.


"Kalau kamu sakit siapa yang akan bersihkan rumah. Baju kotor menumpuk, belum di setrika, sekarang malah nggak ada makanan di rumah." Gerutu Bang Dewa memasang wajah kesal.


Sekuat tenaga Gita bangun tapi bagian di bawah perutnya terasa begitu nyeri.


"Hari ini Mas saja yang kerjakan semua. Anggap saja bonus untukmu." Kata Bang Dewa meminta Gita untuk kembali merebahkan diri.


"Nggak usah sok baik. Gita bisa sendiri..!!" Tolak Gita menyimpan wajah geram.


"Terserah.. dasar perempuan ngeyel." Bang Dewa meninggalkan kamar tanpa perasaan lalu berganti seragam karena memang dirinya sudah terlambat kerja karena ijin tidak apel pagi.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2