Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
37. Di buai rindu.


__ADS_3

Bian dan Gita menangis bersama dan mereka berdua bersimpuh di kaki Bang Dewa yang tengah memejamkan mata memikirkan cara terbaik untuk kelanjutan hidup mereka bertiga.


"Jangan keluar dari militer Mas, biar Gita saja yang pergi. Semua anak-anak boleh ikut Mas Dewo." Janji Gita saat itu.


"Nggak.. biar Mbak yang pergi. Sudah ada anak yang begitu Mbak inginkan. Kamu yang harus ada disini..!!" Kata Bian.


"Tolong jangan ribut sendiri..!! Mas ini mikir keras untuk kita semua. Ini anak kita. Kita harus jaga bersama, Bian harus terima Mas punya anak dari Gita dan Gita juga harus berbesar hati kalau hati Mas Dewo juga milik Bian..!!" Ucap tegas Bang Dewa.


Bian dan Gita terdiam. Pastinya mereka sudah tau konsekuensi yang terjadi jika menikah dengan keadaan seperti ini.


"Lebih baik Mas keluar dari tentara, ini aman untuk kalian berdua. Rejeki bisa di cari tapi istri dan anak tidak akan tergantikan." Kata Bang Dewa.


"Mas, letakan saja Gita di luar komplek. Jauh dari jangkauan anggota..!!"


"Nggak dek.. Mas nggak mau kehilangan kamu dan anak kita untuk kedua kalinya. Kamu ingin pergi jauh membawa si kembar khan??" Bang Dewa sudah tidak bisa berpikir logis. Dalam benaknya hanya ada rasa takut kehilangan Gita.


"Kali ini Gita janji tidak akan kemana-mana. Gita akan menjaga anak kita baik-baik..!!" Janji Gita.


Bian tidak berani menjawab apapun, ia menyerahkan segala keputusan pada Bang Dewa.


"Biarkan anak-anak bangga punya Papa seorang tentara. Papanya bukan pria buruk, bukan pria yang jahat. Semua hanya keadaan yang memaksa. Hanya itu permintaan Gita, pertahankan seragam ini Mas..!!"


Tenggorokan Bang Dewa rasanya tercekat. Kedua istrinya telah banyak mengorbankan jiwa dan raga demi kebahagiaan pernikahan mereka tapi tak bisa di pungkiri terlalu banyak yang Gita korbankan.


"Mas akan menjengukmu setiap hari, atau setiap saat kamu membutuhkan hadirnya Mas. Ibu dan ayah akan menjagamu." Ada rasa tidak tega dalam hati Bang Dewa tapi hidup adalah pilihan. "Maaf.. maaf.. bukan mas mengabaikan perasaanmu dek..!!" Bang Dewa menghujani Gita dengan ciuman.

__ADS_1


Bian melihat air mata kesedihan dan ketidak relaan Bang Dewa untuk jauh dari Gita. Ia mulai memahami mungkin cinta Bang Dewa lebih besar untuk Gita tapi tak mengapa baginya pasalnya ini adalah keputusannya juga dan ia paham segala keputusan pasti ada resikonya. Ia tersenyum dan mengusap punggung keduanya.


"Jika Mas tidak ingin jauh dari Gita karena mencemaskan kehamilannya juga, tinggalah di luar, nggak masalah untuk Bian. Bian juga berada di tempat yang aman dan sudah bersama Angger." Kata Bian.


Bang Dewa meraih tubuh Bian. "Mas akan usahakan sebaik mungkin dan seadil adilnya untuk kalian berdua." Jawab Bang Dewa.


\=\=\=


Empat setengah bulan berlalu. Kini inilah yang mereka jalani. Gita kembali hidup bersama dengan ibu dan ayah di atas bukit yang dulu pernah mereka sewa dan kali ini rumah di atas bukit itu telah di beli Bang Dewa untuk tempat tinggal Gita.


Jarak yang lumayan jauh membuat Bang Dewa tidak bisa setiap saat bisa menjenguk Gita seperti sore ini, hujan turun sangat lebat dan Gita sangat menginginkan bakso tapi tidak ada pedagang yang berjualan hingga naik ke atas bukit. Stok persediaan makanan juga sudah hampir menipis, Bang Dewa pun sudah dua minggu ini belum menjenguk Gita, sinyal tak kalah redupnya.


"Nanti kalau Dewo sudah bisa di hubungi, ibu minta dia datang bawa bakso ya. Sudah tiga hari ini makanmu sangat sedikit." Kata ibu. "Kalau memang rindu dengan Dewo katakan saja ndhuk, jangan merasa tidak enak dengan Bian. Kamu juga sudah banyak menderita."


"Sungguh Bu, Gita nggak apa-apa. Gita sehat-sehat saja." Jawabnya.


"Assalamu'alaikum..!!" Sapa seseorang di depan pintu rumah.


"Wa'alaikumsalam.. Ya Allah Dewoooo.. kamu itu ingat punya istri atau tidak?????? Gita tiga hari nggak mau makan mikir kamu..!!!" Ini sampai emosi karena tidak tega melihat menantunya.


"Maaf Bu, kantor benar-benar sibuk. Aku juga menyelesaikan masalah intern hal ini dan baru clear tadi pagi. Bian pun sakit. Aku jaga Angger. Sekarang sudah ada yang bantu Bian jaga Angger." Bang Dewa langsung memeluk Gita dan mengecup keningnya.


"Mas bawa bakso. Mau nggak??"


"Maaass..!!!" Tak ada ucap apapun lagi. Gita hanya menitikan air mata.

__ADS_1


"Duuuhh.. mimpi apa semalam. Do'amu tembus ndhuk.. benar-benar ada bakso. Cepat suapi Gita makan..!! Istrimu tiga hari tidak mau makan..!!" Kata ibu dan langsung menyambar kantong plastik di tangan Bang Dewa dan menyiapkan untuk menantunya.


...


Bang Dewa memeluk Gita berselubung selimut, ia menyandarkan kepala Gita di bahunya. Mereka berdua duduk di teras depan rumah melihat derasnya hujan. Entah sudah berapa lama Gita ingin posisi seperti itu.


"Kenapa sulit sekali bilang kangen sama Mas Dewo."


"Mas Dewo sendiri kangen nggak sama Gita?" Tanya Gita yang hari ini rasanya tidak ingin jauh dari Bang Dewa.


"Jangan di tanya. Rinduu beraaaatt..!!!!!!" Bang Dewa mengusap perut Gita yang sudah semakin membesar.


"Bang, kenapa ya belakangan ini rasanya perut Gita sangat berat. Seperti menekan ke bawah."


"Mungkin karena belum si tengok Papanya." Bisik Bang Dewa. "Masuk saja yuk..!!"


"Nanti dulu Mas. Nggak enak ada ayah ibu." Tolak Gita.


"Mereka sudah paham. Mereka juga pernah muda." Secepatnya Bang Dewa mengangkat Gita masuk ke dalam kamar.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2