
"Bagus ndhuk, ayo ngejan sekali lagi..!!"
Bang Dewa melihat dengan mata kepalanya sendiri perjuangan Gita yang berusaha keras untuk melahirkan bayi kembarnya. Suara Gita nyaris tidak lagi keluar. Nafasnya tersengal.
ddrrtttt.. ddrrtttt.. ddrrtttt..
Bang Dewa melihat ada panggilan telepon dari Bian. Ia segera mengangkatnya sambil membantu Gita.
"Assalamu'alaikum, ada apa dek?"
"Wa'alaikumsalam.. Pulang ya Mas, lampu mati nih." Pinta Bian.
Bang Dewa terdiam sejenak, kenapa tiba-tiba Bian menghubunginya di saat dirinya sedang bersama Gita sedangkan sepanjang waktunya sudah di habiskan bersama Bian.
"Gita mau melahirkan, Mas belum bisa pulang. Lagipula ada bibi khan disana." Kata Bang Dewa sambil memercing merasakan sakit karena Gita meremas tangannya dengan begitu kuat.
"Bian tunggu Mas..!!" Jawabnya kemudian mematikan sambungan telepon.
Bang Dewa pun tidak ambil pusing dengan rengekan Bian. Ini masalah nyawa dan melahirkan nyawa bukan perkara main-main.
"Sudaah buuu.. Gita nggak kuaatt..!!" Rintih Gita di sela rasa sakitnya yang kian menjadi.
Ibu paham rasanya melahirkan sebab dirinya juga seorang ibu yang pernah melahirkan tapi kali ini ada rasa sakit yang berbeda. Sikap Bian yang tiba-tiba berubah jelas mempengaruhi keadaan mentalnya juga.
"Satu kali saja ndhuk, kasihan anakmu sudah di pintu, cepat berikan dia nafas..!!" Bujuk ibu.
Bang Dewa seketika memahami situasi. Di peluknya Gita penuh rasa sayang, dikecupnya bibir berwarna pink yang sudah sedikit memucat, tangannya mengusap lembut perut Gita.
"Mas Dewo sayang sama Gita, melebihi apapun. Gita selalu ada di hati Mas Dewo." Ucapnya ikut membujuk rayu Gita. Tak ada yang memahami ucap tersebut adalah kejujuran dari dalam hatinya.
Gita menciumi tangan Bang Dewa dan seketika hal itu membuat tangis Kapten Sadewa pecah.
"Ayo sayang.. kamu pasti kuat..!!"
Sekuat tenaga Gita mengejan. Bang Dewa pun mengintip ke bagian bawah dan lahirlah seorang bayi laki-laki yang tampan.
"Alhamdulillah.." Ibu menerima bayi tersebut lalu cepat merawatnya tapi kemudian langsung menyerahkan pada ayah yang menunggu di luar pintu.
__ADS_1
"Alhamdulillah." Bang Dewa sampai tak sanggup berkata-kata melihat bayi mungilnya terlahir ke dunia.
Baru beberapa saat Gita bernafas lega, perutnya kembali mulas tak tertahan. Tangannya menyentuh lengan Bang Dewa dan mengisyaratkan bahwa dirinya sungguh tidak punya tenaga lagi untuk melahirkan bayi keduanya.
"Mas bantu.. biar cepat selesai sayang. Kamu pasti kuat." Tak hentinya Bang dewa membesarkan hati Gita.
Setelah beberapa saat dan ibu sudah membersihkan jalan lahir untuk Gita akhirnya Gita mencoba mengejan sekuatnya, persis seperti tadi.
"Aaaaaaaa.." pekiknya merasakan sakit luar biasa.
"Jangan teriak dek. Hemat tenagamu..!!"
Gita membuang nafas perlahan dan kembali mengejan. Bang Dewa pun sedikit mendorong perut sang istri agar si jabang bayi kembali turun ke jalannya.
Saat ibu mengambil kain, bayi tersebut meluncur begitu saja. Beruntung saat itu Bang Dewa sigap menangkapnya dan mendekapnya.
"Laah ndhuk, untung nggak jatuh." Ucapnya saat tau bayi yang baru terlahir adalah bayi perempuan.
Tangan Bang Dewa masih gemetar dan ibu segera mengambil cucunya.
Secepatnya Bang Dewa bersujud syukur atas kelahiran kedua bayinya. "Alhamdulillah Ya Rabb atas rejekiMu hari ini."
"Angkat Mas, nggak enak sama Mbak Bian." Ucap lirih Gita.
Bang Dewa tidak mempedulikan hal itu. Pikirannya masih terfokus pada luka yang di alami Gita. Jelas sekali darah mengucur terlalu banyak dari tubuh istrinya, bahkan saat ibu melebarkan kaki Gita, kaki istrinya itu masih gemetar karena terlalu lemah.
"Sudah selesai khan Bu?" Tanya Bang Dewa tidak ingin tau dulu tentang panggilan telepon itu.
"Belum, tempatnya belum keluar jadi masih harus di bantu keluarkan tapi Gita sudah terlalu lelah."
"Ibu urus anak-anak saja. Biar saya yang tangani." Kata Bang Dewa.
"Kamu jangan ngawur Dewa. Ini bukan tindakan main-main."
"Bu, anakmu ini tentara. Sedikit banyak mempelajari kesehatan dan hal-hal darurat. Percayalah.. saya bisa menangani Gita."
Ibu tau pasti putranya itu tidak akan berani bermain dengan nyawa. Beliau pun keluar dan mengurus kedua cucunya.
__ADS_1
Bang Dewa berdiri kemudian mencuci tangan dengan air bersih kemudian membasuh tangan dengan alkohol dan memakai sarung tangan medis yang di persiapkan dan selalu tersedia di mobilnya.
Sebenarnya dalam hatinya ada rasa cemas dan takut tapi saat ini nyawa Gita berada di tangannya.
"Tahan sedikit ya dek, percaya sama Mas..!!"
Perlahan Bang Dewa menyentuh Gita, menggunakan tangannya sendiri dirinya mengeluarkan tempat bayinya. Gita berteriak kesakitan dan hal itu membuat hatinya ikut terasa sakit. Sejenak Bang Dewa menyandarkan kepalanya pada lutut Gita. Campur aduk ia rasakan, berurai tangis ia merawat Gita. Sungguh hatinya tidak kuat melihat perjuangan Gita.
"Alhamdulillah tidak ada robekan." Gumamnya masih terasa lemas.
Gita sudah tidak lagi bersuara karena terlalu lemas. Secepatnya Bang Dewa membersihkan semua sisa perjuangan hingga menyeka Gita dan mengganti pakaiannya.
~
Bang Dewa menghambur memeluk Gita. "Matur suwun Dinda. Tiga anak dari rahim mu sudah lebih dari cukup. Mas janji ini yang terakhir. Dua anak ini milikmu, biarkan Bian yang bersama Angger."
Tangis Gita pun ikut pecah. Apapun kata dunia. Bisa memeluk buah hatinya sendiri adalah hal yang begitu membahagiakan dan tidak bisa tergantikan dengan apapun juga. "Terima kasih banyak ya Mas. Terima kasih..!!"
Bang Dewa mencium bibir Gita begitu dalam lalu menyudahinya. "Sama-sama dek."
ddrrtttt.. ddrrtttt
Bang Dewa baru mengangkat panggilan telepon dari Bian.
"Bian sudah bilang lampu mati Mas. Bian takut Mas, istrimu ada dua. Kenapa sulit sekali menjawab telepon???" Tegur Bian tanpa titik koma.
"Tolong Bian. Gita baru saja melahirkan. Kondisinya masih lemas sekali, bergerak saja Gita masih sangat kesakitan. Mas nggak tega."
"Apa ini karena Gita bisa melahirkan anak sedangkan Bian tidak??? Tidak tega sama Gita tapi tega sama Bian??"
"Astagfirullah.. Sebenarnya siapa yang sudah meracuni pikiranmu?? Nggak baik Bian..!!" Tegur Bang Dewa.
.
.
.
__ADS_1
.