
"Karenaaaa.. ya karena aturan kesultanan." Jawab Gita sambil memalingkan wajahnya.
Bang Dewa tertawa saja mendengar jawaban Gita karena paras wajahnya pun sudah menunjukkan bahwa Gita juga membalas perasaannya.
***
"Ijin Bapak, Ibu.. saya tetap ingin meminta cerai dari Mas Arto." Kata Bu Arto berurai tangis.
Bang Dewa menarik nafas panjang. Menyelesaikan kasus dalam rumah tangga orang lain memang bukan perkara yang mudah.
"Bu Arto, bukannya saya tidak meloloskan permintaan ibu tapi apapun pemikiran saya sebagai seorang laki-laki kemungkinan besar tidak sesuai dengan pemikiran ibu. Sudah ada dua anak dalam pernikahan Pak Arto dan ibu, tidak sayang kah jika kedua anak ibu kehilangan sosok ayahnya?" Tanya Bang Dewa.
"Untuk apa saya perjuangkan pria yang malah menjerumuskan keluarga. Kami sering kelaparan karena ulah suami yang doyan main judi Pak." Kata Bu Arto mengadu. "Orang tuanya selalu meminta sejumlah uang tanpa melihat kami yang juga masih kurang. Beras saja masih suka hutang tapi sok memberi orang tua. Orang tuanya terus meminta uang untuk beli sawah, tanah, memperbaiki rumah dan motor. Saya lelah Bu. Itu di luar kiriman setiap bulannya."
"Tapi mereka orang tuaku. Apa aku harus diam pada orang tua yang sudah membesarkanku? Aku juga ingin membalas mereka. Kamu tau aku sudah jadi tentara, sedangkan mereka susah payah menjadikan ku tentara."
"Tapi lihat anak-anak juga donk. Kita juga kurang."
Om Arto hanya menunduk tak berani banyak bicara.
"Iyaa.. sabar ya Bu..!!" Bang Dewa ikut pusing dengan perdebatan Om Arto dan istri.
Bu Arto sudah emosi dan ingin meninggalkan tempat tapi kemudian perlahan Gita bangkit. "Bu Arto.. tenang dulu ya Bu. Kita bicarakan dulu baik-baik. Sini duduk dengan saya..!!" Gita mengajak Bu Arto duduk di sofa tak jauh dari Bang Dewa.
__ADS_1
Bang Dewa mengatur rok Gita agar lebih nyaman duduk karena istrinya masih dalam proses penyembuhan pasca persalinan.
"Kalem duduknya Dinda..!!
Gita menyimpan wajah kesakitan demi mendampingi Bang Dewa kemudian Bang Dewa pun duduk kembali. "Terima kasih Mas."
Bang Dewa membalasnya dengan senyuman hangat.
Gita menyentuh tangan Bu Arto. "Bu, setiap pernikahan tidak ada yang di jalani dengan mudah. Semua penuh dengan cobaan. Entah itu istri sakit, suami sakit, orang tua, anak atau mungkin dalam hal keuangan."
"Tapi saya tidak sanggup lagi Bu. Hidup kami tidak pernah ada perubahan dan bahkan semakin parah. Susu anak-anak terlalu minim. Jika suami saya punya rejeki lebih, pasti jauhnya untuk orang tua dan bermain judi." Kata Bu Arto.
"Seandainya ada sejumlah uang untuk pegangan Bu Arto, apa masih menjadi soal? Hanya Bu Arto sendiri yang bawa, anggap saja tanpa sepengetahuan Om Arto." Tanya Gita.
"Begini ya.. Praka Arto dan ibu. Bukannya saya mau ikut campur dalam urusan rumah tangga Praka Arto dan ibu tapi.. yang pernah saya dengar.. Pak Arto...... bahwa memberi rejeki dari hasil kerja keras kita untuk orang tua memang boleh.. malah mungkin menjadi wajib jika orang tua kita telah renta dan tidak bisa mencari nafkah sendiri tapi tetap perlu di perhatikan.. yang di rumah juga harus di penuhi dulu kebutuhannya. Kita mengucapkan ijab qobul membawa anak orang itu tidak sembarangan lho Pak Arto. Orang tua mereka memanjakan mereka bukan untuk di sia-siakan nantinya."
Om Arto masih terdiam tanpa kata.
"Apa salahnya istrimu yang bertemu denganmu sudah menjadi tentara? Istrimu tidak tau bagaimana perjuangan orang tuamu seperti dirimu yang tidak tau bagaimana kerasnya orang tuanya berjuang beriring do'a agar kelak putrinya mendapatkan banyak keberkahan, kebahagiaan dalam pernikahannya denganmu." Tegur Bang Dewa. "Kita jangan jauh melihat ke atas soal orang tua kita.. lihatlah anak-anak kita, yang masih kecil.. putrimu.. bagaimana perasaanmu sebagai seorang ayah jika putri yang telah ia besarkan malah menangis karena salah jodoh."
Om Arto menunduk lesu meresapi setiap kata yang keluar dari mulut komandannya, tajam dan mencakar perasaannya.
"Saya lihat gajimu minus. Lalu apa yang akan di lakukan seorang kepala keluarga untuk memperbaiki taraf hidup keluarga? Kalau memang tidak ada jalan keluar.. saya akan loloskan permintaan istrimu, tapi ingat.. kelak saat hari tuamu.. akan ada yang kecewa karena ayahnya menyia-nyiakan mereka tanpa perjuangan."
__ADS_1
Om Arto mengusap wajahnya dengan gusar, di lihatnya anak-anaknya yang masih sangat kecil dalam dekapan ibunya. Hatinya terasa sesak.
"Itu keputusan saya. Tapi tidak tau keputusan Bu Dewo." Kata Bang Dewa membiarkan Gita memberikan sumbangsih suaranya.
"Hmm.. Maaf ya Pa.."
Ucap itu membuat Bang Dewa tersipu lalu menyeruput kopinya yang masih panas.
"Bu Arto khan bisa masak. Anak-anak sudah bisa di tinggal. Bagaimana kalau Pak Danki memberi modal untuk Bu Arto jualan makanan matang, hitung-hitung membantu ibu-ibu asrama yang suka jajan dan ngemil.. juga nanti kami para ibu pengurus dan acara Jum'at berkah.. kami akan minta Bu Arto yang handle." Saran dari Gita. "Bagaimana Pa?"
"Selama Bu Arto bersedia, tidak minta pisah-pisahan.. atur saja Ma..!!" Jawab Bang Dewa.
"Terima kasih Bapak dan ibu.. saya bersedia." Kata Bu Arto.
"Naah.. Praka Arto wajib mengembalikan modal ke istri saya ya..!! Saya nggak tau urusannya, kalau soal duit saya nggak ikutan, bisa panjang urusannya.. jangan sampai setelah ini saya yang ribut sama istri." Ucap Bang Dewa panjang lebar.
"Siap.. di pahami Dan..!!"
.
.
.
__ADS_1
.