
Bang Dewa menyelesaikan tugas dengan baik dan sore itu dirinya segera pulang. Bang Dewa teringat dua istrinya yang sedang berada di rumah.
"Berhenti di ujung jalan sana Wan..!! Saya mau belikan makanan untuk Bian sama Gita..!!" Kata Bang Dewa.
"Siaaaaappp..!!!"
...
Bian menyambut Bang Dewa sembari menggendong Angger.
"Yeeeaayy.. Papa pulang." Kata Bian dengan senyum cantiknya.
"Buah kesukaanmu Bun. Manggis." Jawab Bang Dewa.
Gita tidak beranjak dari duduknya padahal istri Bang Dewa itu tau suaminya pulang tapi ia lebih memilih untuk menata ruang tamu.
"Dek, suamimu pulang ini lho." Tegur Bian, ia tau Gita masih mengedepankan rasa sungkan.
"Biar saja Bun. Nanti juga sadar sendiri kalau sudah punya suami." Imbuh Bang Dewa yang sedikit banyak punya rasa kecewa karena Gita tidak menyambutnya.
Bian menghentikan langkah Bang Dewa. "Bagaimana proses agar status Gita bisa naik?" Bisik Bian.
"Sabar dek, nggak semudah itu.. kalau gegabah.. kita semua bisa tertimpa masalah." Bang Dewa pun merendahkan nada suaranya, ia tidak ingin Gita mendengar dan akan terjadi adu mulut karena istri keduanya tidak ingin 'menggantikan' posisi Bian.
Bian mengangguk mendengar ucap Bang Dewa tapi tidak dengan hatinya yang ingin segera menaikan status Gita agar status putranya tersebut juga segera aman.
"Gita, bantu jaga Angger ya..!! Mbak siapkan makan malam atau kamu yang siapkan?" Tanya Bian.
"Biar Gita saja Mbak."
"Gitaa.. sejak Angger ada disini, kamu belum pernah sekalipun menggendongnya. Cobalah sesekali kamu menggendongnya..!! Angger anakmu dek."
Gita tersenyum tipis. "Gita siapkan makan malam ya Mbak."
Bian sedikit gelisah dengan raut wajah Gita. Ia melempar pandangan ke arah Bang Dewa.
"Nanti Mas yang bicara sama Gita." Kata Bang Dewa yang paham kode dari istrinya yang meminta bantuan.
...
__ADS_1
Selesai makan malam Gita masih berkutat dengan pekerjaan rumah tangga, mulai dari membereskan meja makan hingga mencuci piring yang baru saja di pakai.
"Angger sudah tidur, istirahatlah Gita.. biar Mbak yang lanjutkan berberesnya."
"Ini sudah selesai Mbak Bianku yang cantiik." Senyum Gita begitu tulus pada Gita. "Mengurus anak tidak mudah dan juga menguras banyak tenaga. Mbak yang seharusnya istirahat."
Bian mengarahkan Gita agar menatapnya. Pandangan itu terlihat sangat serius. "Ada apa dek? Cerita sama Mbak..!!"
"Nggak ada apa-apa Mbak. Memangnya ada yang salah sama Gita??" Gita tetap melebarkan senyumnya. "Masuk ke kamar deh Mbak. Istirahat sama Mas Dewo. Gita juga mau masuk ke kamar nih. Ngantuk..!!"
"Mas pengen tidur di kamarmu..!!" Kata Bang Dewa. "Badan Mas capek semua. Bian sudah repot urus Angger." Ucapnya lalu segera melangkah menuju kamar Gita.
:
Setengah jam berlalu dan Gita masih diam tanpa suara meskipun tangannya masih aktif memijat punggung Bang Dewa.
Merasa memang tidak seperti biasanya, Bang Dewa berbalik badan.
"Aawwhh.. kenapa nggak bilang sih Mas kalau mau balik badan?" Protes Gita yang sedikit terjengkang.
"Ada masalah apa dek? Bilang sama Mas..!!"
"Nggak ada, memang masalah apa?" Gita balik bertanya.
"Mas, Gita sudah tidak sanggup menyakiti hati Mbak Bian lebih dalam, tolong lepaskan Gita..!!" Pinta Gita.
"Apakah dengan melepasmu sudah jalan yang terbaik untuk rumah tangga kita? Pernikahan bukan hal yang mudah untuk di ucapkan saat kita ingin bersembunyi di balik kata halal dan di akhiri saat kita tertimpa masalah berat. Ujian rumah tangga banyak macamnya." Sesabar mungkin Bang Dewa berusaha memberikan pengertian untuk istri mudanya yang sedang down karena keadaan. "Kamu ibu dari Angger, mas lihat kamu belum pernah menggendongnya. Kenapa?"
Bibir Gita terasa tercekat tak sanggup mengungkapkan apa yang sedang di rasakannya.
"Katakan.. Mas akan dengarkan..!!"
"Gita adalah ibunya. Jika satu kali Gita menggendongnya, maka sifat tamak Gita akan keluar.. Gita menginginkannya. Gita ingin selalu mendekapnya dan memberikan ASI seperti ibu-ibu yang lain." Isak tangis Gita pun berderai, tak ayal tangis itu menghantam batin Bang Dewa.
"Kita bisa merawatnya bersama." Bujuk Bang Dewa sangat hati-hati.
"Angger adalah hal yang begitu di inginkan Mbak Bian. Gita pernah melahirkan anak dan Gita ingin Mbak Bian menjadi ibu yang sempurna tanpa ada Gita disini. Biarkan Mbak Bian bahagia bersama Angger dan Mas Dewo."
"Lalu bagaimana dengan hatimu? Kamu tidak mencintai Mas?" Bang Dewa menyibakkan anak rambut di belakang telinga Gita.
__ADS_1
"Nggak, Gita nggak pernah mencintai Mas Dewo." Jawab Gita.
"Berarti cintanya sama Om Sadewo?" Bang Dewa mengangkat dagu Gita lalu mengecupnya.
"Maas.. Gita merasa menjadi simpananmu." Gumam Gita sembari mendorong dada Bang Dewa.
'Memang.. kamu adalah gadisku, yang kusimpan jauh di dalam lubuk hati, sedalam-dalamnya perasaanku. Sakit saat menyadari kamulah yang kucintai tapi Bian pun mengisi hati. Aku tidak berani menyakiti hatinya karena masa laluku telah menghancurkan dirinya, tapi aku juga bukan malaikat.. saat kamu datang, cinta ini kembali terasa dan mengingatkan bahwa dirimu pernah ada dan akan selalu ada.'
"Bukankah menjadi simpanan om-om lebih menggairahkan?" Bisik Bang Dewa.
'Maaf Gita, aku selalu menyakiti hatimu. Jangan pernah jauh dariku dan jangan meninggalkanku lagi. Maafkan sikap egoisku. Semoga Allah memberikan jawaban agar kita bisa bersama.'
"Maass.. Gita nggak bercanda. Cepat kembali ke kamar Mbak Bian..!! Ataaauuuuu........."
"Atau apa?" Tanya Bang Dewa.
"Atau mas harus bayar mahal." Ancam Gita karena beberapa waktu yang lalu Bang Dewa sudah mengeluarkan uang yang cukup besar, tidak mungkin suaminya itu mau mengeluarkan uang lagi.
"Berapa? Dompet Mas sudah cekak." Bang Dewa memasang wajah penuh kekecewaan.
"Lima juta aja. Sanggup nggak?" Gita menghapus air matanya lalu memasang wajah menantang.
"Nggak sanggup. Itu terlalu mahal. Kalau delapan juta saja bagaimana?" Tanya Bang Dewa.
Seketika Gita gelagapan. Ia tidak menyangka Bang Dewa tidak patah arang untuk mendekatinya.
"Maas, demi Tuhan Gita nggak mau menyakiti hati Mbak Bian lagi." Ucap Gita sudah sangat memelas.
Bang Dewa mengecup bibir Gita. "Apa setiap saat hatimu hanya memikirkan kebahagiaan Bian? Tidak adakah rasamu ingin dekat dengan suamimu? Bagaimana dengan hatimu sendiri?" Bang Dewa terus menyerusuk, ia menuntut kebersamaan bersama Gita.
Gita benar-benar memberontak dan tidak ingin dekat dengan Bang Dewa. "Sudah Gita bilang, Gita nggak cinta sama Mas Dewo." Suara Gita bergetar terisak menjawabnya.
Bang Dewa yang begitu ingin dekat dengan Gita tiba-tiba kehilangan gairah, amarahnya menjulang tinggi tidak terkendali. Bang Dewa memilih pergi meninggalkan Gita. "Kamu pun tidak lebih dari pelepas rasa penasaran saya."
Secepatnya Bang Dewa melangkah keluar dan menutup pintu, sejenak ia memejamkan matanya. "Ya Allah.. bicara apa sih aku." Bang Dewa hendak kembali masuk ke dalam kamar Gita tapi sayang Gita sudah mengunci pintu kamarnya.
.
.
__ADS_1
.
.