Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
9. Bertengkar hebat.


__ADS_3

Perlahan Bian melepas genggaman tangan Bang Dewa kemudian pergi.


"Maaf semua. Ijin Senior dan rekan. Istri saya kurang enak badan." Pamit Bang Dewa.


...


"Jangan diam seribu bahasa, masalah tidak akan selesai jika kamu menutup mulutmu rapat." Sudah satu jam berlalu dan Bian masih saja terdiam.


"Mau bicara apalagi??? Isi kepalamu hanya s**********n.. Itu sebabnya sejak kemarin kau hanya mengejar ku hanya untuk 'hal itu'.


"Apa salah kalau aku melakukannya?? Aku suamimu..!!"


"Aku tidak mau melakukannya tanpa cinta." Teriak Bian.


"Lalu siapa yang kamu cinta????"


"Bang Hisyam."


"B*****t, kamu masih ada hubungan sama dia????"


"Iya.. aku juga pernah menghabiskan malam dengan Bang Hisyam. Kalau kau tidak percaya.. tanyakan sama Bang Seba." Nada suara Bian masih saja meninggi dan hal itu semakin membuat emosi Bang Dewa tersulut.


Cemas dirinya tidak bisa menahan amarah, Bang Dewa memilih pergi dan menjauhi Bian.


Bang Rega melihat seniornya mengendarai motor dengan kecepatan tinggi di atas rata-rata. Ia pun segera menyusul. "Bang Dewo kenapa ya??"


:


Bang Rega mendapati motor seniornya hancur di tepi jalan namun tidak ada sosok Bang Dewa disana. Ia pun segera menghubungi Bang Rawa.


"Bang.. ijin Bang.. Bang Dewa kecelakaan, motornya hancur tapi tidak ada Bang Dewa di lokasi kejadian." Lapor Bang Hega.


"Lho.. piye to. Kamu cari dulu. Saya mau hubungi Bang Seba dulu. Tahan berita ini, jangan di share dulu..!!" Perintah Bang Rawa.


"Siap..!!"


:


Bang Rega, Bang Rawa dan Bang Seba panik mencari Bang Dewa yang tidak terlihat di manapun. Jurang sedalam dua puluh lima meter itu cukup membuat mereka cemas.


"Itu Wa..!!" Tunjuk Bang Seba.


"Astaga Wooo.. kenapa sampai begini???" Bang Rawa dan Bang Rega berlari menuruni tebing.


"Hati-hati Bang, takut ada yang patah tulangnya..!!" Kata Bang Rega mengingatkan.


"Aku tau..!!"


~


Bang Dewa di temukan dalam keadaan sadar tapi wajahnya sangat pucat. Wajahnya basah penuh tangisan dan rasa frustasi.

__ADS_1


Bang Seba segera memeluk adik iparnya. "Ada apa Wo??? Bilang sama Abang. Nggak biasanya kamu seperti ini."


Bang Dewa diam seribu bahasa. Hanya tangisnya yang menjawab bahwa pria itu sedang menghadapi masalah yang cukup berat.


"Kita ke rumah sakit ya, lukamu harus di obati..!!" Bujuk Bang Seba.


"Hatiku yang sakit Bang, bukan badanku..!!!!!" Jawab Bang Dewa terisak pelan.


"Wo, ribut dalam rumah tangga itu biasa. Tapi jangan seperti ini." Bang Seba yang lebih dulu merasakan asam dan manis pernikahan langsung paham situasi yang terjadi.


Bang Dewa tak merespon lagi ucap Bang Seba.


...


Bian menolak keras ajakan Bang Rawa untuk menjenguk Bang Dewa di rumah sakit, mata Bian pun sembab. Saat Bang Rawa menanyainya, adiknya itu juga diam.


"Kamu ingin terus seperti ini??? Suamimu kecelakaan Bi. Kalau kamu tau situasi tadi.. Dewo sudah seperti orang kehilangan akal, dia tidak pernah sefrustasi ini menghadapi masalah. Kalau sampai ada laki-laki seperti ini berarti masalahnya tidak main-main Biaan..!!!" Tegur Bang Rawa.


"Jangan memaksa Bian Bang, beri Bian waktu..!!"


:


"Tidak apa-apa Bang. Biar nanti saya selesaikan masalah ini sama Bian. Yang jelas saya tidak akan mengijinkan Bian pulang ke rumah Papa atau tinggal bersama Abang dan Rawa. Saya akui menjalani rumah tangga memang tidak mudah. Maafkan sikap saya yang tidak dewasa dan tidak mendidik Bian."


"Iya Wo. Kami ngerti, nggak apa-apa. Kami hargai keputusanmu. Seperti apapun masalahnya, jangan pernah main tangan.. kendalikan emosi..!!" Pesan Bang Seba.


***


Bian tidak bisa tidur. Rumah baru itu terasa begitu sepi dan dingin, seperti ada bagian yang bilang dari hidupnya. Air matanya terus menetes menahan rasa kecewanya. Bagaimana bisa suaminya menghamili perempuan, mantan pacar lalu pria lain yang bertanggung jawab. Mbak Melani sampai menangis meminta tanggung jawab namun Bang Dewa tidak mau melakukannya.


Flashback Sabian on..


"Aku istrinya Bang Tono. Pria baik yang menyelamatkan aku dari perbuatan suamimu." Kata Mbak Melani.


"Perbuatan apa mbak?"


"Aku sudah hamil Bian. Anak Bang Dewo. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai tidak ingat apa yang dia lakukan. Maaf aku bukannya ingin merusak kebahagiaanmu, tapi aku juga perempuan. Jika aku boleh memberi saran, selama Bang Dewo belum menyentuhmu.. mintalah cerai dan kembalilah pada kekasihmu. Om Hisyam pacarmu khan?" Mbak Melani tersenyum tulus. Seketika Bian terpengaruh ucapannya.


"Aku tidak tau kalau Mas Dewo bisa berbuat sejahat itu." Jawab Bian.


"Kita tidak pernah tau isi manusia, tapi sebagai sesama wanita.. aku ingin menyelamatkan kamu."


Flashback Sabian off...


Bian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Yang teringat dalam pikirannya hanya ucap Mbak Melani.


"Bang Hisyam.. bisa minta tolong bawa Bian pergi dari sini???"


"Maksudmu bagaimana Bi?? Abang nggak mau cari hal, Abangmu bisa marah." Kata Bang Hisyam di seberang sana.


"Bang Seba tidak akan marah." Jawab Bian.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Dewo?" Tanya Bang Hisyam.


"Bang Dewo urusan Bian..!!!!"


\=\=\=


Satu minggu berlalu, Bang Dewo sudah sehat dan pulang dari rumah sakit. Hatinya lumayan tenang karena setiap hari laporan dari ajudannya tentang Bian tidak ada yang mengkhawatirkan namun ia terkejut bukan main melihat sampah dan bungkus makanan yang berantakan di sekitar rumahnya. Bang Dewa segera masuk dan mengambil secarik kertas yang ada di atas meja. Detik itu juga amarahnya terpancing, ia memanggil beberapa orang anggotanya.


~


plaaakk.. plaaakk.. plaaakk..


"Apa saja kerja kalian??? Apa kalian memberikan informasi fiktif pada saja????" Tegur Bang Dewa.


"Siaap.. tidak berani Danton..!!"


"Lalu kenapa kamu tidak peka kalau istri saya tidak ada di rumah dan malah dengan entengnya kalian kira istri saya membuang sampah makanan di depan rumah. Kalau kalian peka.. situasi seperti ini jelas menunjukkan kalau rumah tersebut tidak ada penghuninya." Bentak Bang Dewa. "Masa dari ratusan orang di kompi ini tidak ada yang tau jam keluar istri saya dari rumah ini???"


"Ijin Dan. Satu minggu yang lalu saya sempat melihat Lettu Hisyam keluar tengah malam menggunakan mobil. Sepertinya ada seorang wanita juga tapi saya tidak tahu apakah wanita tersebut istri komandan atau bukan." Laporan seorang anggota pada Bang Dewa.


"B*****t kau Hisyam..!!!!!!!" Bang Dewa segera merampas kunci motor anggotanya menuju rumah dinas Bang Hisyam karena pria tersebut tidak pernah berada di kantor karena statusnya sedang dinas luar.


~


"Apa-apaan kamu Wo. Datang langsung main serang???"


"Dimana kamu sembunyikan istriku?????" Bentak Bang Dewa.


"Siapa istrimu????" Tanya Bang Hisyam.


"Bian.. dimana Bian??? Dia istriku..!!!!!" Ucap jelas Bang Dewa.


Seketika Bang Hisyam ternganga. Bukan main kagetnya hingga kakinya pun lemas.


"Dimana Biaaannn?????????" Bentak Bang Dewa seakan habis kesabaran. Bang Dewa kembali menghajar Bang Hisyam habis-habisan tak peduli pria tersebut seniornya atau bukan.


"Dewoooo.. sabar Wo..!! Kita cari Bian sama-sama..!!" Bujuk Bang Seba yang baru saja tiba dan baru mendengar segala keributan yang terjadi.


...


Sesampainya di rumah kontrakan, ternyata rumah tersebut kosong. Pemilik kontrakan mengatakan memang sempat ada wanita di rumah tersebut namun hanya satu hari kemudian pergi entah kemana.


Untuk kesekian kalinya Bang Dewa kembali murka hingga Bang Seba dan Bang Rawa tidak sanggup menenangkan sang red scorpion.


"Dewoo.. sumpah saya tidak tau kalau Bian adalah istriku. Aku baru tau hari ini kalau Bian itu adiknya Rawa. Bang Seba saja baru menjelaskan semua hari ini." Ucap Bang Hisyam sudah babak belur di tangan Bang Dewa.


"Siapa yang akan percaya dengan kata-katamu sedangkan hatimu saja masih penuh dengan Bian. Kalau sampai ada sesuatu dengan Bian.. nafasmu berhenti detik itu juga..!!!!!!" Ancam Bang Dewa.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2