
Ikuti alurnya dulu. Tertebak di awal tapi berbeda di akhir. Thanks..!!!
🌹🌹🌹
"Saya istrinya Almarhum. Apa tidak salah mau memeriksa saya?" Teriak Melani.
"Maaf Bu. Ini perintah langsung dari Markas." Jawab anggota yang akan membawa Melani untuk di interogasi. "Ini mobil ibu? Bisa kami periksa?"
...
Bagian penyelidikan menemukan fakta yang tidak wajar termasuk luka goresan pada mobil Almarhum Bang Tono. Jika di ukur dari tinggi gores di pohon maka benar jika mobil tersebut yang di pergunakan untuk menabrak Bian dan Almarhum Bang Tono.
"Mungkin saja memang gores di pohon itu sudah lama ada."
"Tidak, 'luka' pada pohon itu baru." Jawab Bang Rawa tegas.
Melani tidak bisa berkata apapun. Ia hanya menatap wajah Bang Rawa dengan rasa kesal.
"Kenapa kamu lukai adik saya??" Tanya Bang Rawa tidak lagi menggunakan prosedur penyelidikan sesuai SOP.
Melani tersenyum seakan menunjukkan sifat aslinya selama ini. "Dia berselingkuh dengan Bang Tono di belakangku. Dia juga membuat Bang Dewa berpaling secepat itu dariku."
Seisi ruangan sungguh tidak mengerti jalan pikiran Melani tapi dokter kejiwaan yang menilai jawaban Melani sempat mengatakan bahwa Melani berada dalam keadaan normal. Sifat dasar manusia memang terkadang tidak bisa di prediksi.
"Buat BAP..!!" perintah Bang Rawa meskipun terkesan terburu-buru.
-_-_-_-_-
Sore hari Ayah dan Ibu Bang Dewa tiba. Mereka melihat keadaan Bang Dewa yang 'hancur tak berbentuk'. Ibu menangis tidak sanggup berkata-kata.
"Kalau memang Bian pernah berucap seperti itu, kenapa tidak kamu kabulkan????? Kamu memang teledor.. tidak bisa menjaga istri, kehilangan anak. Kalau sudah begini kamu bisa apa????" Ayah pun ikut menangisi menantunya.
Sebegitu tertekannya Bang Dewa mengahadapi rasa bersalahnya. Ia kembali duduk lemas, air matanya seakan habis tak bersisa.
"Tanggung jawab seorang pria, seorang suami.. tentu akan kamu bawa sampai mati Wo..!!" Kata ayah.
Papa Sanca tak tega melihat keadaan menantunya. Semua sama-sama hancur, tapi daripada meratap. Kini mereka harus menemukan titik temu. Papa Sanca memberi kode agar Mama Hemas bicara dengan besan perempuan sedangkan dirinya berbicara sebagai sesama ayah.
:
"Kita sama-sama kehilangan dan terluka Kangmas. Saya menyadari kekurangan putri saya........."
"Tidak Mas Sanca, putraku yang membuat semua ini terjadi. Kalau saja dia lebih perhatian pada Bian."
Kedua ayah langsung saling memeluk. Mereka menangis bersama meratapi nasib putra putri mereka.
"Tak ada lagi cucu dari rahim Bian Mas. Maaf kami mengecewakan." Kata Papa Sanca.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Jangan bilang begitu. Bian saja sudah berkah bagi kami. Bukankah Bian juga punya Abang, mereka anak-anak Bian juga." Jawab Ayah.
"Matur suwun Mas." Papa Sanca begitu lemah jika sudah menyangkut tentang keluarganya, terutama putri kecil satu-satunya miliknya.
"Kita hadapi semua bersama Mas Sanca."
"Kuatkan mental Dewo juga. Saya tau bagaimana lemahnya pria menghadapi situasi ini." Imbuh Papa Sanca.
\=\=\=
TIGA TAHUN BERLALU.
Bian menatap keluar jendela. Pagi terasa begitu sejuk namun tidak dengan hati Bian yang sejak hari itu terasa kosong melompong. Harapnya tiga tahun lalu untuk memiliki momongan sudah pupus dan musnah.
"Ada apa? Kenapa menyendiri disini?" Bang Dewa memeluk Bian dari belakang.
"Lihat Mas, mereka berjalan-jalan pagi dengan anak mereka." Kata Bian.
"Memangnya kenapa? Kita juga sudah bahagia dengan hidup kita." Jawab Bang Dewa.
"Bian yang tidak sempurna untuk Mas."
"Kata siapa? Kamu yang paling sempurna. Kesempurnaan bukan hanya karena bisa memiliki anak. Wanita tidak di nilai dari bisa dan tidaknya memiliki anak. Kamu bisa, hanya saja Tuhan belum mengijinkan." Bang Dewa mengecup kening Bian. Sesungguhnya di dasar hatinya, ia pun menahan kesedihan yang mendalam.
"Tapi Mas........."
"Anak tidak hanya berasal dari rahim. Kalau kamu mau, kita bisa mengangkat seorang anak." Saran Bang Dewa.
"Kamu mungkin ikhlas, tapi tidak dengan Mas. Tidak usah berpikir terlalu jauh. Pemikiran seperti itu hanya menambah masalah dalam rumah tangga kita saja." Bang Dewa.
Bian memeluk Bang Dewa dengan erat. "Bian juga ingin anak Mas, tapi dari Mas sendiri. Bian ingin Mas punya anak kandung. Jujur.. beban ini masih terasa berat. Tolong buat Bian menjadi wanita yang sempurna bagaimanapun caranya."
Sesak mendesak dada Bang Dewo. Semenjak kejadian tiga tahun lalu, hatinya tak pernah lepas dari rasa bersalah. Ia tidak ingin membuat Bian semakin sedih lagi hanya karena masalah anak.
"Anak hanya titipan dan kamu pernah merasakan dia ada. Mungkin di dunia ini kita tidak bisa bertemu dengan dia tapi di surga nanti, kita akan selalu melihatnya. Sekarang perbanyaklah berdo'a. Hanya do'a yang bisa membuat hati kita tenang." Bujuk Bang Dewa.
Bang Dewa pernah mendengar kisah tentang garis keturunan Bian di masa lalu. Bian adalah seorang Sekar Kedaton dan dalam hal ini adalah Sekar Kedaton 'yang gagal'. Maka sesuai ketentuan, dirinya boleh untuk menikahi gadis lain.
"Bian berjanji tidak akan menjadi seperti Oma Canggah. Kami beda didikan dan kehidupan." Janji Bian di hadapan Bang Dewa.
"Sudah.. jangan bicarakan ini lagi..!!!!"
***
Hari ini adalah hari Sabtu. Bian dan Bang Dewa mengunjungi kesultanan karena hari ini kebetulan ada kegiatan dan di usahakan para anggota keluarga hadir dalam acara tersebut.
Keluarga besar kesultanan sedang berkumpul, mereka membawa anak-anak mereka. Bang Seba masih belum tiba. Hanya Bang Rawa saja yang sudah hadir bersama Erika dan putri kecil mereka.
__ADS_1
"Ndhuk.. apa kamu belum punya momongan hingga saat ini?" Tanya Eyang sepuh dari trah keluarga besan.
"Nuwun sewu eyang ( permisi eyang ) saya belum punya. Belum takdirnya punya momongan." Jawab Bian sembari celingukan mencari seseorang.
gubraaaakk..
Bian tersenyum melihat kehadiran Anggita. Raden Ayu Anggita Prabacitra. Gadis yang amat sangat usil dan pernah memusingkan seisi Kesultanan karena pernah menggiring tawuran masuk ke dalam kesultanan. Kini di saat ada acara penting, Raden Ayu malah keseleo karena tidak bisa memakai high heels.
"Ndoro Ayu.." para si mbok membantu junjungannya untuk berdiri.
"Gita sudah bilang nggak bisa pakai sandal begini mbok." Protes Raden Ayu Anggita.
"Mas, tolong bantu Gita untuk berdiri..!!" Pinta Bian.
"Nggak usah macam-macam. Mas tau maksudmu..!!" Tolak Bang Dewa.
"Kalau sudah tau lakukan saja. Bian tidak bertele-tele." Jawab Bian.
"Biaan..!!!!!" Tegur keras Bang Dewa, ia tak peduli sedang berada dimana. Yang ia tau dirinya tidak ingin di atur dan di paksa menikah lagi dengan Gita.
Seluruh anggota keluarga menoleh ke arah Bang Dewa dan Bian, perhatian itu kembali teralihkan pada Bang Dewa yang meninggalkan tempat dalam keadaan marah.
"Ada apa Wo?" Tanya Papa Sanca mengikuti langkah menantunya.
"Bian berniat menjodohkan aku dengan Anggita dan aku tidak ingin melakukan hal gila seperti itu." Jawab Bang Dewa dengan sangat jelas.
Papa Sanca cukup syok mendengarnya. Bibir Mama Hemas pun rasanya juga terkunci. Dalam heningnya suasana, terdengar suara langkah kaki perlahan menghampiri Bang Dewa.
"Pernikahan seperti itu tidak mudah. Opa sepuh pernah mengalaminya. Opa sampai pernah meninggalkan jabatan ini demi orang yang salah tapi akhirnya Opa menemukan wanita terbaik di dunia ini. Dengar nak, Gita adalah gadis yang baik. Jika tidak bisa menjalaninya.. lebih baik mundur dan jangan pernah maju kembali." Saran Opa sepuh. Opa Wilang yang selama ini menjadi 'penasihat' keluarga.
"Ngapunten Opa sepuh. Saya sudah memikirkan dengan matang selama satu tahun ini. Biarkan Kangmas Sadewo mendapatkan kebahagiaan. Saya adalah Sekar Kedaton yang gagal. Tidak ada alasan untuk hal itu kecuali jika saya memang bisa memberikan anak untuk Kangmas Sadewo."
"Saya tidak butuh istri lagi..!!!" Bentak Bang Sadewa tanpa sadar karena sudah sangat tertekan dan frustasi.
Para tetua terdiam. Karena tempat mereka saat ini adalah tempat yang salah.
Tak disangka saat itu ada sebuah sandal melayang di atas kepala Bang Dewa.
ppllttkkkkk...
"Heeehh Sadewo.. siapa juga yang mau menikah denganmu. Laki-laki galak tak tau aturan. Bicara pada wanita saja tidak bisa lembut. Masih untung Mbak Bian bisa bernafas menikah denganmu." Teriak Gita.
"Jabang bayiii.. Ya Allah Gusti Ayu. Jangan teriak begitu sama Raden Mas..!!" Si mbok sampai cemas takut mendapatkan hukuman di kesultanan karena takut di anggap tidak bisa mendidik Raden Ayu Anggita.
.
.
__ADS_1
.
.