
"Itu video."
"Apa ada yang bilang ini kartun Doraemon????" Jawab Bian.
Bang Dewa kebingungan melihat ekspresi wajah Bian. Gelisah sudah pasti tapi tatapan Bian terlalu menghujam jantungnya bahkan tatapan mata itu terasa lebih menakutkan dari tatapan seorang panglima yang penuh wibawa.
"Begini dek.. video itu di buat beberapa bulan yang lalu........"
Bian menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. "Bian nggak mau dengar apapun Mas. Video itu sudah menunjukkan seberapa keinginan Mas sama Mbak Melani. Ya mungkin benar apa kata Mbak Melani, kalau Mas melakukannya saat itu mungkin beberapa bulan lagi atau saat ini pasti Mbak Melani sudah hamil."
"Mas nggak melakukan apapun. Sebatas itu saja dan tidak lebih." Jawab Bang Dewa.
"Siapa yang percaya? Mas mabuk."
"Mabuk bukan berarti tidak sadar. Mas ingat semua yang terjadi." Nada suara Bang Dewa semakin keras terdengar.
"Bian nggak mau dengar..!!!! Asal Mas tau.. Bian juga pernah melakukannya sama Bang Hisyam." Pekik Bian tak kalah tinggi.
Bang Dewa menekan emosinya sebab Bian juga sedang berada dalam emosi yang tinggi. Ia pun memahami rasa marah Bian yang meluap. Bang Dewa meraih tangan Bian lalu memeluknya. "Mas tau Mas salah. Mungkin kesalahan Mas tidak bisa di maafkan, jujur dulu Mas berharap Melani yang akan mengisi hari dan hidup Mas tapi siapa sangka takdir Tuhan menjadi seperti ini. Inilah kesalahan manusia penuh kealpaan seperti Mas. Jika saja Mas tau jalannya takdir akan seperti ini, Mas pun juga tidak akan melakukan kebodohan yang sampai membuat mu marah." Bujuk Bang Dewa.
Bang Dewa sungguh merasa kasihan melihat Bian yang terus menerus mendapatkan teror dari Melani. Sakit hati Bian sampai ingin membalas dengan perkataan bahwa Bian juga pernah melakukan hal yang menyakitkan hati seperti dirinya namun Bian tidak pernah menyadari, di lubuk hatinya yang terdalam hanya dirinya yang tau dan benar-benar menyaksikan dengan mata kepala sendiri kalau istri kecilnya itu memang masih original tersegel rapi.
"Terserah, Bian nggak mau dengar alasan apapun lagi...!!!!!" Bian berontak dan ingin lepas tapi Bang Dewa mengecup bibirnya.
Kecupan yang hanya sekilas namun menimbulkan rasa rindu dan rasa tidak ingin saling lepas.
"Tolong percaya, Mas memang bukan orang suci. Tapi Mas nggak mungkin melakukannya. Mas ingat Ibu yang sudah melahirkan Mas ke dunia. Dari rahimnya yang suci Mas terlahir dan Mas Dewo tau dimana harus menitipkan bagian dari diri ini pada rahim yang tepat juga dari wanita terhormat."
Bian lemas mendengar ucapan Bang Dewa. Ingin menahan air matanya namun akhirnya semua tumpah juga. "Bian kesal, Bian marah, Bian nggak suka...!!!!!"
"Iya.. Mas tau.. Sini Om Dewo kasih yang Bian suka..!!" Tanpa menunggu jawaban dari Bian, Bang Dewa menyambar bibir Bian dan mendorongnya pelan hingga masuk ke dalam kamar.
-_-_-_-_-
Bang Seba dan Bang Rawa bertandang ke rumah Bang Dewa. Mereka ingin tau kejadian tadi yang sempat membuat geger ruang Bang Tono, tapi saat melihat Bang Dewa baik-baik saja bersama Bian. Kedua Abang Bian pun menjadi tenang.
__ADS_1
"Setengah mati aku membujuk Bian. Untung saja adik Abang itu bisa di bujuk." Kata Bang Dewa rasanya baru bisa bernafas lega.
"Wajar lah Bian ngamuk. Video itu juga dulu pernah membuatmu tumbling dan di hajar komandan karena Melani nge post di sosial media." Jawab Bang Rawa. "Sebenarnya video itu panjang khan.. hanya karena terpotong jadi siapapun yang melihat akan salah paham. Apalagi sebenarnya disana ada banyak sekali orang juga kita-kita ini bawa pasangan."
"Kalau tau begitu kenapa tidak minta di hapus saja..!!!!" Ucap gemas Bang Seba.
"Sudah Bang. Mana saya tau kalau Melani punya cadangan video."
"Kamu kurang kontrol Wo. Itulah kalau kamu bertemu dengan perempuan licik. Lagipula dulu kenapa kamu bisa bertemu dengan Melani dan menjalin hubungan sama dia?" Tanya Bang Seba.
"Dulu........."
Flashback Bang Dewa on..
Pagi hari ini adalah opspek siswa baru. Bang Dewa yang saat itu menjadi ketua OSIS memperhatikan seorang gadis dengan seksama. Gadis dengan pakaian seragam SMP yang sudah sangat pudar, pudarnya melebihi kawan-kawannya yang lain juga ada beberapa tambalan pakaian karena sobek.
"Balik papa nama mu..!!" Perintah Bang Dewa karena gadis tersebut tidak menunjukan namanya.
Bang Dewa melihat nama gadis itu 'Melani'. "Maaf, apa pakaianmu tidak ada yang lebih layak? Hari ini ada pembukaan opspek." Tegur Bang Dewa.
"Kamu ikut saya. Di kesiswaan masih ada pakaian yang layak kamu pakai. Nanti saya yang tanggung jawab. Ayo saya antar..!!"
"Terima kasih kak..!!"
Bang Dewa tidak menjawabnya. Sosoknya sudah kaku sejak di jaman itu. Banyak teman wanita yang menaruh rasa kagum padanya tapi tidak ada satu pun yang ia tanggapi.
\=\=\=
Waktu berlalu, Bang Dewa sempat melihat Melani keluar dari sebuah warung kecil di ujung desa sebelah. Gadis itu mengenakan pakaian yang 'kurang layak', dandanan nya pun menor bak orang dewasa. Gaya Melani sungguh membuat hati Bang Dewa merasa miris dan tidak tega.
\=\=\=
Kedekatan Bang Dewa dan Melani bukan hanya sekedar sahabat. "Tidak seharusnya Abang selalu membantuku. Aku tau Abang juga berjuang keras untuk sekolah dan mendapatkan tambahan uang." Tolak Melani saat Bang Dewa memberinya uang.
"Penghasilan saya sebagai tukang sablon dan pemilik distro memang tidak banyak, tapi saya rasa uang ini halal untuk kamu gunakan."
__ADS_1
"Saya tidak mau berhutang." Tolak Melani lagi.
"Saya tidak minta kamu mengembalikan uang ini. Saya hanya ingin kamu lepas dari dunia malam. Kamu masih muda.. masa depanmu masih panjang. Tidak hanya tubuhmu yang akan rusak tapi berbagai macam penyakit akan mengintaimu." Bang Dewa mencoba memberikan pengertian pada Melani. "Kamu masih kelas sepuluh. Seandainya kamu hamil di saat yang tidak tepat, lalu bagaimana kamu akan bertanggung jawab????"
"Aku menghidupi diriku sendiri dan aku tidak merepotkan orang lain akan hal itu. Segala resiko aku sendiri yang akan menanggungnya." Kata Melani masih keras dengan pendiriannya.
"Itu semua benar Melan.. tapi jika sesuatu yang buruk terjadi padamu hingga kamu melahirkan seorang anak, apa yang akan kamu katakan pada anakmu? Bagaimana dengan statusnya? Apakah kamu sanggup menunjukan siapa dirimu? Nantinya kamu akan menjadi seorang ibu. Buatlah pendidikan dunia dan akhiratnya."
Melani mendengar ucap seorang lelaki kelas dua belas dan akan menghadapi ujian akhir nasional. Lelaki itu tampak dewasa dan mungkin lebih dewasa dari usianya.
"Jika aku berhenti bekerja seperti ini, siapa yang menjamin hidupku?" Tanya Melani.
"Iya, saya yang akan menjamin hidupmu. Nanti.. saya akan mengejar cita-cita dan mencapai kedudukan yang layak agar bisa meninggikan derajatmu juga. Tunggulah saya dengan sabar. Saya tidak akan mengecewakan kamu." Janji Bang Dewa saat itu.
"Baiklah Bang, aku mau. Aku akan meninggalkan semua ini dan aku akan menunggumu..!!" Jawab Melani.
Flashback Bang Dewa off..
"Om Dewooo.." suara Bian terdengar memanggil Bang Dewa dari dalam kamar.
"Aiisshh.. apa-apaan sih ini. Kenapa manja waktu ada Abangnya sih." Bang Dewa mengusap wajahnya dengan sedikit gelisah menyembunyikan rasa malu.
"Laahh.. ada apa nih sama Om Dewo?" ledek Bang Seba.
"Nggak Bang, itu si Bian ngigau." alasan Bang Dewa.
"Oooomm..!!"
"Oom Dewo nggak tuh." imbuh Bang Rawa dengan senyum mengejek.
.
.
.
__ADS_1
.