Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
7. Harap dalam hati.


__ADS_3

Bang Dewa yang memang seorang perokok berat masih setia mengepulkan asap rokok. Sebersit gelisah masih bergelayut memenuhi hatinya.


'Sampai kapan aku terus ribut. Aku ingin pernikahan yang tenang dan damai. Apa Melani juga bahagia disana bersama suaminya.'


"Ini kopinya..!!" Bian mengantarkan kopi hitam pekat yang panas mendidih di hadapan Bang Dewa.


Bang Dewa menerimanya dengan wajah datar. "Duduk disini..!!" Perintah Bang Dewa.


"Nggak, Bian sibuk."


"Sibuk apa? Kerjaan hanya scroll aplikasi tidak jelas saja pakai bilang sibuk segala." Oceh Bang Dewa.


"Itu haknya Bian. Memangnya ada apa. Bian nggak bisa duduk lama." Tolak Bian lagi.


"Kamu bisulan?? Duduk disini..!!!" Pinta Bang Dewa lagi namun dengan nada yang lebih keras.


Mau tidak mau Bian mengambil posisi duduk di samping Bang Dewa.


"Soal anak............."


"Bian mau, tapi tidak sekarang. Bian nggak siap. Bian takut, masih mau kerja, pengen main, pengen sama teman-teman." Cerocos Bian.


"Makanya kalau kamu nggak mau, kita bilang kalau kamu keguguran saja. Sepulangnya dari sini kamu akting habis nyungsep di sawah atau apa lah.." ide Bang Dewa.


"Bian nggak mau, kasihan ayah dan ibu." Tolak Bian.


"Kamu ini maunya apa? Nggak bisa tiba-tiba ke dokter minta bayi tabung sedangkan kita bisa mengusahakan yang alami. Sepuluh anak pun sanggup Mas tanam kalau kamu kuat. Sekarang hanya tinggal keputusanmu, mau atau tidak hamil sekarang??????"


"Nggak." Jawab Bian singkat padat dan jelas.


"Oke.. pergilah dari sini. Mas pusing, capek terus berdebat sama kamu..!!"


"Byee.. Bian juga pusing ribut sama Mas Dewo." Ucap Bian sambil beranjak kemudian melangkah pergi.


"Astagfirullah.. lama-lama kuselesaikan juga. Mau hamil sekalian ya sudah hamil saja." Gerutu Bang Dewa. Pikirannya sudah kusut seperti benang ruwet, hatinya kacau balau. Emosinya naik turun tak tentu arah.


ddrrtt.. ddrrtttt..


"Selamat siang.. ijin arahan Bang..!!" Bang Dewa menjawab panggilan telepon dari Bang Tono.


"Siang Wo, kamu jadi pulang besok?" Tanya Bang Tono.


"Siap.. jadi Bang. Kompi sementara di handle Rega." Jawab Bang Dewa yang sebenarnya sangat malas.


"Monitor bro. Saya sudah sampai di kompi. Padahal saya masih pengen honeymoon. Kamu juga nggak jadi honeymoon ya."


"Ijin.. saya gampang Bang. Disana juga bisa."


Siang itu Bang Dewa membicarakan masalah pekerjaan dengan Bang Tono dan tidak ada perbincangan keluar dari zona aman.

__ADS_1


...


Sore hari Bian sedang berkemas karena Bang Dewa harus kembali ke tempatnya berdinas, di daerah pegunungan distrik M, di pulau P.


"Kamu ikut sama Mas..!!"


"Nggak mau." Seperti biasa Bian menolak ajakan Bang Dewa.


"Deeeek..!!!!!!!"


Kata itu sudah membuat nyali Bian sedikit memudar. "Kuliah Bian bagaimana?? Bian. Gak mau putus sekolah sampai di remehkan orang. Jaman sekarang ada yang namanya emansipasi wanita."


Bang Dewa menunjukan layar ponselnya di depan mata Bian. "Mas sudah pindahkan kuliahmu disana. Kamu melanjutkan kuliahmu disana. Lokasi praktek di rumah sakit tentara."


Bian melirik ke arah Bang Dewa.


"Erika juga pindah kesana. Mengikuti Rawa."


Mendengar hal itu Bian tersenyum, senyumnya menunjukan kebahagiaan karena sahabatnya masih ada bersamanya.


"Terima kasih." Kata Bian dengan nada berat.


"Sama-sama." Kekakuan itu tetap saja terjadi di antara mereka.


...


Ibu menciumi perut datar Bian. Sungguh ada tangis bahagia karena menantikan cucu pertama yang mereka impikan.


Ayah yang biasanya garang jadi ikut sedih karena tidak bisa memantau langsung perkembangan kehamilan menantunya. "Kalau kamu tidak perhatian dan tidak sayang sama menantu ayah. Ayah benar-benar akan marah dan menghajarmu. Dimana pun kamu berdinas. Ayah akan datang dan memberimu pelajaran..!!" Ancam ayah.


Hati Bian teriris pedih. Mertuanya begitu sayang padanya tapi kini ia merasa sangat kejam, mungkin yang paling kejam di dunia.


"Bian akan menjaganya Bu. Bian janji..!!"


Ibu memeluk Bian dengan erat sebelum anak dan menantunya kembali ke tempat berdinas.


...


Bang Dewa lega karena barang milik Bian sudah sampai lebih dulu di pulau P menggunakan pesawat militer sedangkan dia menempuh perjalanan menggunakan pesawat sipil.


Bian juga merasa lebih rileks setelah Bang Dewa mengurus segalanya meskipun agaknya sejak pagi tadi ada yang terasa membekas janggal di tubuhnya.


"Ada apa? Kenapa ribet sekali gerak kesana kemari." Tanya Bang Dewa menyimpan senyum usil.


"Jangan mau tau saja urusan orang." Jawab Bian.


"Maaaass..!!" Bang Dewa menirukan suara lirih Bian yang sempat ia dengar semalam. Suara manja yang membuatnya pecah pembuluh darah.


Bian melirik tak paham maksud Bang Dewa karena ia memang tidak merasakan apapun semalam. "Mas berkhayal apa? Jangan mimpi..!!" Ucapnya kesal.

__ADS_1


"Kalau bisa di lakukan kenapa harus berkhayal???" Seruan licik Bang Dewa menimbulkan tanda tanya tapi Bang Dewa yakin kalau Bian tak tau apapun tentang kejadian semalam.


***


Tepat tengah malam mereka berdua sama sampai di lokasi. Anggota yang menjemput lumayan bingung karena Lettu Sadewa datang membawa seorang wanita.


Bang Dewa membuka kaca mobilnya. "Saya sudah lapor Danyon dan Danki. Ini Nyonya Sadewa."


"Siap Danton..!!" Jawab seorang mudi Bang Dewa. "Selamat malam Bu Dewo." Sapa mudi tersebut.


Bian yang sudah terbiasa melihat Mama dan kakak iparnya tak lagi canggung berhadapan dengan para anggota. "Selamat malam Om."


...


Bian masuk ke dalam kamar mess Bang Dewa. Kamar bernuansa gelap, warna kegemaran pria, abu-abu dan hitam. Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sedangkan Bang Dewa sibuk dengan barang bawaan mereka. Barang di luar barang kiriman dari rumah Papa Sanca.


Braaakk..


"Maaaaassss..!!!" Pekik Bian saat tiba-tiba Bang Dewa membuka pintu kamar. Bian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Astagaaa.." Refleks Bang Dewa mengunci pintu karena mudinya sedang membawakan barang ke kamarnya. "Apa-apaan sih dek. Kenapa tidak ganti pakaian di kamar mandi???? Ada laki-laki di luar."


"Mas yang tidak ketuk pintu dulu..!!!" Jawab Bian.


"Kamu ini ngeyel sekali kalau diberi tahu." Sungguh saat ini mata Bang Dewa tidak bisa di kondisikan. Ia berusaha menormalkan diri tapi Bian terlalu santai akan hal itu, Bian kembali memakai pakaiannya seolah tidak ada yang terjadi.


"Lihat apa?? Pengen Maass????" Bian memasang wajah nakal dengan gaya genitnya. "Sini kalau berani..!!!!!!" Tantang Bian.


"Kurang ajar betul kamu ya..!!!!" Bang Dewa melangkah maju.


tok.. tok.. tok..


"Ijin Dan.. barangnya di letakan dimana??"


"Ya Allah.. Aaaaarrhhghh..!!" Bang Dewa mengacak rambut cepaknya.


Bian tersenyum licik kemudian melempar selimut dan bantal. "Mas tidur di sofa. Jauh-jauh dari Bian ya..!!"


"Di atas genteng juga Mas bisa tidur..!!!"


...


Hingga pagi hari mata Bang Dewa terjaga. Agaknya saat ini dirinya mengalami 'tekanan batin' namun pikirannya tidak sepenuhnya tertuju pada Melani lagi.


'Dulu aku selalu terbayang hari pernikahanku dan Melani akan segera tiba lalu kami punya anak bersama. Tapi ada apa denganku?? Sekarang rasanya Melani tak lagi menjadi harapku, tak ingin dia yang 'menyelesaikan' inginku. Aku menginginkan Bian sampai rasanya nyaris gila. Aku begitu ingin mendengar dia mengatakan aku hamil anakmu Mas.'


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2