Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
28. Stress


__ADS_3

Pagi sekali Bang Dewa mendatang gubug tua dibatas bukit namun saat itu pemandangan yang terlihat hanya kecemasan kedua orang tuanya.


"Ayah.. ibu.. saya mau bertemu dengan Gita, saya mau menjemputnya..!!"


Ibu menoleh melihat Bang Dewa berada disana.


"Darimana kamu tau ayah dan ibu membawa Gita di tempat ini??" Tanya Ibu.


"Kemarin saya melihat ibu membantu Gita pasca persalinan. Sekarang dimana Gita Bu?" Bang Dewa celingukan mencari sosok Gita.


"Gita sudah pergi. Mungkin tadi malam." Jawab Ibu.


Bang Dewa yang tidak percaya segera mencari ke segala penjuru rumah dan benar saja, tidak ada lagi Gita di gubug tua itu.


"Nggak mungkin, pasti Ayah dan Ibu menyembunyikan Gita lagi. Dimana Gita???" Tanya Bang Dewa semakin frustasi.


"Gita benar-benar sudah pergi le, dengan tubuhnya yang masih lemah. Pasti Gita belum jauh. Tidak ada kendaraan dan perkampungan masih dua kilometer dari sini." Ibu pun ikut bersedih melihat keadaan putranya. Bagaimana tidak, keadaan putranya sudah menunjukkan bahwa pria tersebut sedang tertekan oleh keadaan.


Tanpa banyak kata Bang Dewa berlari menuju mobilnya lalu melajukan mobilnya untuk mencari Gita. Pencarian selama ini kembali sia-sia.


***


Bang Jazwan tidak tega melihat keadaan seniornya, Ia mengambil kotak rokok yang entah sudah keberapa kalinya.


"Sudah Bang, kasihan paru-paru Abang..!! Setiap ada singgungan masalah tentang Gita, Abang pasti stress berat. Suatu saat jika bertemu dengan Gita, kenapa tidak Abang katakan saja kalau Abang mencintainya..!!"


Bang Dewa diam tidak menjawabnya tapi ia tetap menghisap batang rokoknya. Melihat seniornya hanya diam saja, Bang Jazwan pun angkat bicara.


"Kalau saya jadi Abang.. saya tidak akan pulang dan akan terus mencari Gita. Status Gita masih istri khan." Kata Bang Jazwan.


"Kamu pikir selama delapan bulan ini apa yang saya lakukan??? Congkelin ubi di kebun?????" Suara Bang Dewa sampai meninggi. "Istri saya itu ada dua Wan. Sampai hampir gila saya mikirnya."


"Siap Bang. Lalu kita harus bagaimana?"


"Tetap cari Gita. Kalau kamu mau kembali ke basecamp nggak apa-apa. Saya tetap mencari, yang penting besok saat apel pagi.. saya ada di tempat." Jawab Bang Dewa.


"Saya temani Abang, saya bujangan Bang, tidak ada yang saya tinggal di rumah."


"Kamu cepatlah menikah, biar ada yang mengurusmu..!!"

__ADS_1


"Kalau pernikahan memang seindah itu sudah sejak lama saya menikah Bang." Bang Jazwan terbawa sampai ke hati karena masalah seniornya.


...


Pagi tiba, pencarian Gita belum juga membuahkan hasil. Kepala Bang Dewa sampai terasa berat, selain karena tidak tidur juga tubuhnya sudah terlalu lelah.


Bian sudah menyiapkan sarapan untuk Bang Dewa. Ia tidak banyak bertanya karena sudah jelas Bang Dewa pasti mencari keberadaan Gita.


"Sabar ya Mas, semoga Gita cepat di temukan dan bisa berkumpul dengan kita lagi." Kata Bian.


Bang Dewa mengangguk kemudian meneguk segelas air putih yang sudah di hidangkan Bian. "Angger masih tidur?"


"Iya Mas, tadi bergadang.. mungkin menunggu papanya juga."


"Nanti ya, Mas mandi dulu. Nggak baik kalau langsung pegang bayi, banyak kuman dari luar." Bang Dewa segera beranjak dan mengambil handuknya.


:


Bang Dewa menyempatkan diri melihat putranya yang sedang tidur. Di sentuhnya pipi lembut baby Angger, badan putranya itu tidak terlalu besar. Mungkin mamanya begitu penuh tekanan saat mengandungnya.


"Abang kangen sama Mama?"


"Sabar ya Bang, nanti Papa akan bicara sama Mama..!!" Janji Bang Dewa sampai akhirnya baby Angger berhenti menggeliat dan tidak jadi menangis.


...


Kunjungan dan penjelasan dari anggota Markas seolah menjadi angin lalu di telinga Bang Dewa, entah suami Bian dan Gita itu mendengar penjelasan atau tidak.


"Kapten Sadewa bisa mendengar penjelasan saya?" Tegur atasannya tersebut.


"Siap.. dengar komandan..!!"


"Tolong jelaskan kembali..!!" Perintah komandan.


"Siap.. Ijin menjelaskan.. strategi penyerangan untuk kawasan sekitar lembah dan perbukitan adalah........."


...


Kali ini Bang Dewa duduk berhadapan dengan Bang Seba, Bang Rawa dan Bang Jazwan. Mereka juga ingin tahu bagaimana perkembangan selanjutnya dari hubungan segitiga yang rumit itu.

__ADS_1


"Beberapa anggota melihat seorang pria mengantar bayiku di samping gerbang kesatrian mengendarai mobil minibus berwarna silver. Lalu aku mencari informasi dan ternyata selama ini ayah ibuku yang menemani Gita hingga melahirkan Angger. Kemarin lusa aku memutuskan untuk pulang dulu karena Angger butuh di tangani tenaga medis, aku sempat mendengar Gita ingin pergi esok harinya namun tidak ada yang mengira kalau Gita pergi di malam hari itu juga, kemungkinan saat ayah dan ibu sedang tidur." Suara Bang Dewa sedikit bergetar menceritakan kronologi hilangnya Gita lagi.


Bang Seba menunduk tak berkata-kata lagi sebab dulu amarah sudah membuat masalah jadi serumit ini.


"Nanti jika Gita sudah di temukan, bawa Gita pulang, duduklah bersama dan bicarakan semua dari hati ke hati."


"Tidak ada dua ratu dalam satu rumah." Jawab Bang Dewa.


"Aku ngerti bro, tapi kamu juga harus jujur dengan hatimu.. kamu sudah nggak kuat dengan semua masalahmu ini. Bijak ya bijak, tapi tidak begini caranya. Bian sakit hati itu wajar, itu pilihannya.. tapi tidak di benarkan juga kalau kamu tidak memperbaiki hubunganmu dengan Gita. Mau kamu patahkan semua kenyataan, tapi benar adanya kalau Gita adalah ibu kandung dari anakmu." Nasihat Bang Rawa untuk litting sekaligus adik iparnya itu.


Bang Seba yang sedari tadi diam, kini mulai angkat suara. "Rawa benar. Kita masih cukup muda untuk sebuah keegoisan. Bagaimana jika kamu sudah tua nanti dan Angger akan bertanya dimana ibu kandungnya? Percayalah biar sepahit apapun kenyataannya, suatu saat nanti dia akan mengerti."


"Masalahnya lebih daripada itu Bang, jika Gita di temukan.. saya yang masih aktif tidak akan bisa membawanya ke lingkungan asrama. Tetap harus ada yang mengalah dan para Abang sudah paham siapa yang harus kalah."


Tidak ada yang berani menatap wajah Bang Dewa lagi. Pria tersebut sedang berada dalam fase terendahnya, sudah sangat terluka dan entah berapa lama menahan rasa sakit separah ini.


Saat ini hanya para pria yang bisa memahami keinginan seorang Sadewa. Ingin yang mungkin tidak akan pernah bisa terwujud. Rindu tanpa bisa menyentuh, dan cinta yang tidak akan pernah bisa tersampaikan.


"Hgghh.. hhfft.." Bang Dewa membuang nafasnya perlahan.


"Ada apa Wo?" Bang Rawa sigap membantu Bang Dewa yang mengerang meremas dadanya.


"Dadaku sakit."


"Banyak pikiran kamu Wo. Lagi kangen ya?" Ledek Bang Rawa.


"Cckk.. kamu ini, situasi seperti ini masih sempat-sempatnya ngarang." Jawab Bang Dewa.


"Lu mah enak Wooo. Kangen ada double gardan. Nah gueee???? Bini ilang.. ya meranaa." Bang Rawa tak hentinya meledek Bang Dewa.


"Eehh.. gue nggak mata keranjang macam lu ya Wa..!!" Sakit di dada Bang Dewa semakin terasa karena jengkel merasakan ulah Bang Rawa. "Aduuhh.."


"Wooo.. minum bensin biar waras..!!" saran tengil Bang Rawa.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2