Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
29. Kuncian maut.


__ADS_3

"Tekanan darahnya meningkat." Kata dokter yang memeriksa keadaan Bang Dewa kemudian memberinya obat. Ketiga sahabat Bang Dewa itu tetap memberikan dukungan.


...


Bang Seba melihat Bian sangat menyayangi Angger, ibarat kata.. apapun akan ia berikan untuk putranya itu. Empat tahun menanti dan kini adiknya baru bisa menggendong buah hati yang begitu di inginkan. Perhatian Bian jauh lebih tertuju pada Angger sampai melihat Bang Dewa yang sedang sakit pun tidak.


"Suamimu sakit dek. Siapkan makan dulu..!!" Kata Bang Seba.


"Astagfirullah.. Mas Dewo kenapa?" Bian menidurkan Angger di ranjang baru memperhatikan Bang Dewa.


Bang Dewa tersenyum ringan. "Kebanyakan merokok. Harus di kurangi."


"Ya di kurangi donk Mas. Memang Mas terlalu ngebut merokoknya."


"Iya, nanti Mas kurangi." Jawab Bang Dewa yang entah di laksanakan atau tidak nantinya.


Bian segera memberikan perhatian untuk melayani suaminya karena baby Angger juga sudah kembali tidur.


...


Bang Dewa memeluk Bian yang sedang menata perlengkapan bayinya, secercah rasa rindu bergelayut memenuhi rongga batinnya, sudah satu setengah bulan ini dirinya dan Bian tidak saling berkasih sayang.


"Ngamar yuk sayang..!!" Ajak Bang Dewa.


"Nanti lah Mas, Bian masih sibuk. Mumpung Angger anteng aja nih." Tolak Bian.


"Sebentar saja sayang. Mas sudah lama nggak nyolek. Kangen berat nih." Rengek Bang Dewa sewajarnya seorang suami yang kurang mendapatkan haknya.


Baru saja ingin mengeratkan pelukannya, si kecil Angger menangis. Bian pun menepis tangan Bang Dewa yang melingkar di pinggangnya.


Mau tidak mau Bang Dewa mengalah tapi jelas ada rasa jengkel karena hasratnya tidak terlampiaskan.


ddrrtttt.. ddrrtttt.. ddrrtttt..


Bang Dewa menyambar ponselnya yang bergetar di atas meja. Pantauan info grup memintanya menyelidiki kasus penyerangan dua orang anggotanya di luar kota, penyerangan yang di duga terkait masalah pemberontakan. Ia pun menarik nafas panjang lalu bergegas menata pakaiannya untuk tugas yang di limpahkan padanya.


Dirinya adalah seorang tentara, meskipun lelah tidak akan pernah dirinya mengeluh menjalankan perintah negara. Sebagian kata 'hidup dan mati' nya adalah milik negara.


***


Bian mengantar Bang Dewa hingga di depan rumah bersama baby Angger.


"Hati-hati ya Mas, segera kabari Bian keadaan disana."


"Iya, kamu hati-hati juga jaga anak. Mas sudah meminta beberapa orang anggota untuk membantumu kalau ada yang tidak bisa kamu kerjakan..!!" Kata Bang Dewa.


"Iya Mas."

__ADS_1


Bang Dewa mengecup kening, pipi kanan dan kiri lalu tak lupa meninggalkan satu kecup sayang di bibir Bian.


\=\=\=


Bang Dewa mematikan sambungan telepon usai melakukan panggilan video call bersama Bian. Sama seperti hari-hari sebelumnya, Bian tidak begitu memperhatikan dirinya dan sepanjang video call Bang Dewa lebih banyak berinteraksi dengan Angger yang notabene belum bisa bicara apalagi merespon suaranya.


"Ijin Bang, mengingatkan untuk nanti malam kita mulai pergerakan ke daerah pusat kota. Mereka sedang melaksanakan transaksi dan informan yang membantu kita sudah berada disana."


"Siapa dia?" Tanya Bang Dewa.


"Ijin.. tidak tau Dantim. Mungkin orang baru. Namanya 'ombak pagi'." Jawab Bang Jazwan.


Bang Dewa mengangguk, fokus terbelah saat melihat foto putranya. Senyum itu tersungging manis. Rasa rindunya sudah mulai terasa, dua minggu yang berat berjauhan dari putra yang baru saja terlahir ke dunia.


"Okeee.. sempatkan istirahat dulu sebelum pergerakan nanti malam..!!" Perintah Bang Dewa.


-_-_-_-_-


Cafe di daerah kota bagian pelosok negeri memang tidak seindah cafe di kota besar lainnya. Di sana lebih banyak di dominasi gemerlap lampu LED khusus taman dan kompleks ruko yang di bagian dalamnya telah di sulap menjadi pusat hiburan.


"Apa ada ombak pagi?" Tanya Bang Dewa pada seorang pria yang bisa di bilang induk semang.


"Sudah ada janji?" Tanya pria tersebut.


"Sudah." Jawab Bang Dewa ringan. Memang dirinya harus menyamar sebagai pelanggan agar bisa bicara berdua dengan ombak pagi.


~


Bang Dewa membuka kamar 102, ia melihat seorang gadis sedang menatap hamparan kota di bagian bawah bukit melalui jendela kamar.


"Langsung saja, kau punya info apa?" Tanya Bang Dewa. Mendengar suara yang seakan familiar di telinga, gadis itu menoleh.


"Gitaaa??????"


"Mas Dewo???"


"Kamu kerja disini??"


"Kenapa Mas Dewo open B*???"


"Sembarangan kamu..!! Kamu tidak lihat apa yang kita kerjakan sekarang??" Jawab Bang Dewa. "Kenapa masih kerja seperti ini?? Nggak ingat anak?" Tegur Bang Dewo.


"Kapan Gita punya anak?? Gita masih gadis."


"Gadis nggak perawan??" Ledek Bang dewa dengan suara datar saja. Tangannya pun sigap mengunci pintu lalu mengantongi kuncinya. Kakinya melangkah maju mendekati Gita. "Kalau bukan saya yang datang, dengan cara apa kamu mau berunding dengan Om-om itu?" Telunjuk Bang Dewa mengangkat dagu Gita.


Gita tersenyum tipis. "Apa sangat penting menyelidiki tentang cara apa yang Gita pakai. Om Dewo penasaran?" Tanya Gita.

__ADS_1


"Lebih tepatnya Om Dewo kangen." Jawab Bang Dewa jujur.


"Maaf Om, kita ini rekan kerja dan yang akan kita lakukan adalah profesional kerja." Gita menghindari tatapan mata Bang Dewa.


"Benar, kita kerjakan semua secara profesional..!!" Bang Dewa mendekap Gita.


Gita tersentak kaget karena tiba-tiba Bang Dewa mengecup bibirnya dengan brutal, tangannya tidak bisa di kendalikan.


"Maas..!!!!" Gita mendorong dada Bang Dewa sekuat tenaganya tapi percuma saja, tenaga Bang Dewa jauh lebih kuat darinya, dua minggu pasca persalinan membuatnya sedikit berhati-hati mengatur kekuatan. "Maas Dewoooo..!!!!!" Pekik Gita.


"Jangan sentuh Gita lagi..!!"


"Kenapa?? Kita masih suami istri Gita." Jawab Bang Dewo.


"Gita ingin kita pisah saja..!!"


"Nanti kita bicara..!!" Bujuk Bang Dewa melemahkan nada suaranya sambil membujuk Gita lagi.


"Nggak Mas, Gita nggak mau..!!!!"


Emosi Bang Dewa tersulut, bisa-bisanya dua istrinya 'menolaknya'. Rasa rindu, ingin menyelesaikan hasrat secara halal namun keadaan juga yang membuatnya tersiksa. "Kenapa?? Ada pria lain yang lebih menyenangkan hatimu???" Bentak Bang Dewa.


"Iyaa..!!!" Ucap Gita dengan lantang sebab ia memikirkan perasaan Bian.


"Keterlaluan kamu Gita..!! Kamu harus benar-benar merasakan tang_kur buayanya Om Dewo..!!!" Tangan Bang Dewa bergerak lincah, ia menidurkan Gita kemudian menindihnya.


"Aaaaaaaaaaaa...!!!!!!!"


Bang Dewa memejamkan matanya sejenak, ia mengatur nafas dan emosinya. "Mas melakukannya bukan tanpa alasan."


"Apa alasannya Mas???"


Bang Dewa terdiam sejenak, tidak mungkin dirinya mengatakan perasaannya dalam keadaan seperti ini. Saat ini pikiran dan batinnya berperang hebat, ia memikirkan bagaimana caranya agar Gita tidak lagi lari darinya. Mungkin inilah saatnya untuk mengunci wanita yang tidak pernah beralih dari lubuk hatinya.


"Mencari kepuasan. Bersenang-senang denganmu saja." Jawab Bang Dewa.


Sungguh Gita tak menyangka, baginya pria dimana saja selalu sama. Tidak menjujung kata setia. Air mata Gita berlinang deras. Ia menurunkan satu persatu tali bahu yang menempel di tubuhnya. "Anggap saja ini bakti terakhirku padamu Mas."


Hati Bang Dewa sangat sakit mendengarnya tapi ia harus menguatkan hatinya sendiri seakan semua biasa saja. "Senangkan Om Dewo..!!" Perintah Bang Dewa meskipun tidak tega. 'Saya tau ini salah dan sangat salah. Jangan lari lagi... Gita..!!'


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2