Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
22. Tidak ada perubahan.


__ADS_3

Bang Dewa menyangga kepalanya yang terasa berat. Kedua tangannya mengepal erat. Ia memikirkan kejadian semalam, tak berapa lama ia mengusap dadanya lalu membuang nafas berat.


"Astagfirullah hal adzim Ya Allah.." degup jantungnya berdenyut sangat kencang. Berdebar mengingat raut wajah Gita yang memohon untuk di lepaskan. Rintih kesakitannya semalam membuatnya tidak tahan untuk tidak menanganinya. Suara manja Gita terus terngiang dalam pikiran dan batinnya.


Bang Dewa menghantam meja kerjanya, secara refleks melegakan batinnya. Ia sadar semua tidaklah salah. "Maafin Mas ya Bian. Mas sudah melakukannya." Entah kenapa hatinya sangat marah melihat Gita bersama pria lain dan tidak mau menurut padanya.


Beberapa saat kemudian Bang Dewa teringat kembali dengan Gita yang sedang sakit di rumah karena hasratnya yang tak terkendali semalam. Ia melihat jam tangannya, sudah waktunya untuk jam istirahat siang.


:


Bang Dewa melihat rumah sudah bersih, makanan sudah tersedia di meja makan. Bajunya yang kotor sudah di cuci dan di jemur juga pakaian yang kemarin berserakan sudah tersimpan rapi di dalam lemari. Ia mencari Gita ke seluruh rumah dan ternyata kepik kecilnya itu tengah tidur dengan pulasnya, mungkin merasa sangat lelah.


Setelah melihat keadaan Gita yang terlihat baik-baik saja, ia pun kembali menuju ruang makan dan menikmati makan siangnya.


~


Pepes ikan mas, sayur asem dan sambal di piringnya sudah memuaskan perut Bang Dewa yang tadi sempat kelaparan. Ia tersenyum tipis ternyata Gita pandai memasak di usianya yang masih sangat muda.


Setelah makan Bang Dewa bergegas pergi ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia meninggalkan Gita di rumah.


...


Hari sudah malam saat Bang Dewa pulang kerja. Seperti tadi sudah ada makan malam di atas meja. Makanan tersebut masih hangat, berarti belum terlalu lama juga makanan itu di hidangkan.


Bang Dewa mengintip Gita mengenakan headset seperti sedang melaksanakan zoom dan ia tidak ingin mengganggunya.


Seakan tau Bang Dewa pulang. Gita menoleh, ia berdiri dan langsung menuju dapur untuk membuatkan kopi untuk Bang Dewa setelah itu meletakan di atas meja makan tanpa bicara dan segera kembali ke kamar. Sekilas Bang Dewa melihat Gita masih kurang nyaman saat berjalan.


"Saya mau bicara..!!"


"Tulis di kertas atau kirim pesan singkat, Gita sibuk..!!" Kata Gita kemudian masuk ke dalam kamar.


Bang Dewa pun menikmati makan malamnya sendiri. Jika biasanya dirinya akan menikmati harinya bersama Bian, kali ini Bang Dewa makan seorang diri. Ia mengambil ponselnya kemudian mengirim pesan singkat ke ponsel Gita.


D : Kamu sudah makan?


G : Sudah kenyang.


Bang Dewa tak lagi bertanya pada Gita.


***


Malam semakin larut, hanya rokok dan kopi yang menemaninya malam ini sampai ada video call dari Bian.


"Assalamu'alaikum dek. Sudah sampai?" Tanya Bang Dewa dengan senyumnya.


"Wa'alaikumsalam.. Alhamdulillah sudah Mas. Sudah di hotel juga. Mas belum tidur?" Bian balik bertanya.


"Belum.. kangen kamu."


\=\=\=


Dua Minggu berlalu.

__ADS_1


Hari demi hari berjalan datar saja dan hari ini Bian pulang dari ibadah umroh. Bian celingukan mencari sosok Gita yang tidak ikut menjemputnya.


"Gita dimana Mas?" Tanya Bian.


"Kuliah. Pulangnya selalu malam" jawab bang Dewa menyelipkan rokok di sela bibirnya sembari memutar arah mobilnya.


"Lho.. ini sudah jam sepuluh malam Mas. Mas nggak jemput Gita??" Tanya Bian lagi.


"Dia bisa pulang sendiri. Mana ada yang berani sama perempuan bawel macam Gita." nada suara Bang dewa datar saja.


"Ya Allah Mas, jangan biarkan Gita pulang sendiri. Perempuan pulang sendiri kalau malam juga nggak baik..!!"


Bang Dewa tak menggubris perkataan Bian. Ia tetap fokus mengendarai mobil.


...


Sesampainya di rumah, Bian melihat rumah begitu bersih. Ada makanan yang sudah dingin mungkin masakan Gita tadi pagi. Rumah itu juga tidak meninggalkan pakaian kotor yang berserakan sembarangan.


Bian tau mungkin Bang Dewa belum berubah dan masih terus menekannya tanpa perasaan.


"Hmm Mas dan Gita sudah.........."


"Sudah.." jawab Bang Dewa jujur tanpa ada yang di tutupi lagi. Ia tau arah pertanyaan Bian.


Berbeda dengan wanita kebanyakan yang akan marah jika suaminya bersama wanita lain, tapi tidak dengan Bian yang malah tersenyum senang.


"Serius Mas???? Alhamdulillah..!!" Ucapnya girang tapi sejujurnya ekspresi itu membuat hati Bang Dewa sedih karena keadaan yang membuat nasib mereka jadi seperti ini.


Sikap Bang Dewa datar saja menanggapi senangnya hati Bian.


"Wa'alaikumsalam."


"Wa'alaikumsalam.. Gitaaa.. kamu pulang sama siapa dek?" Tanya Bian lalu memeluk Gita dengan sayangnya.


"Amaan Mbak, teman Gita khan banyak." Gita seperti mendapat penolong melihat Bian datang.


Bian mengusap pipi Gita yang lebih tirus, mata Gita juga terlihat lebih cekung. Bian tau Gita pasti sangat tertekan beberapa waktu ini.


"Cepat masuk kamar dan istirahat sama Mas Dewo." Kata Bian.


"Gita ingin sendiri Mbak, boleh ya..!!" Tolak Bian.


Bian ternganga mendengarnya, bukankah biasanya wanita akan senang jika suaminya menemani tapi kenyataannya tidak dengan Gita. Bian menoleh melirik Bang Dewa yang membuang muka mengalihkan perhatian.


:


"Mas nggak mau bilang."


"Iyaaa.. iyaaaa.. Mas tidak pernah tidur di kamar Gita. Menyentuhnya juga hanya sekali, selanjutnya tidak pernah lagi." Kata Bang Dewa.


"Kenapa Mas tega sekali. Gita itu istri Mas.. bukan wanita penghibur.." tegur Bian sangat kecewa. "Ubah sikap Mas, atau Mas akan menyesal nantinya..!!"


\=\=\=

__ADS_1


Bagai angin lalu Bang Dewa tidak menggubris ucapan Bian dan di setiap harinya Bang Dewa tetap tidur di kamar Bian hingga membuat Bian pusing sendiri di buatnya.


Pagi ini Gita memasak seperti biasanya namun kali ini Gita merasa ada yang berbeda, ia merasakan kepalanya pening mencium aroma nasi yang baru matang. Tubuhnya terhuyung melihat bawang putih yang tersimpan pada tempat bumbu.


"Gitaa..!!" Bian yang tidak sengaja melihat Gita sedikit aneh segera menghampiri istri kedua Bang Dewa.


"Mbaak.. Gita pusing bau nasi."


"Maaas.. Mas Dewo.. tolong Gita Mas..!!!" Teriak Bian memanggil Bang Dewo yang baru saja berganti pakaian dinas.


"Kenapa?" Tanya Bang Dewo malas menanggapi segala hal yang berkaitan dengan Gita.


"Tiba-tiba Gita lemas." Jawab Bian.


"Kamu saja bantu. Mas mau berangkat kerja..!!" Ucap Bang Dewa seakan tak memiliki rasa belas kasih pada Gita.


Tak menunggu waktu lama lagi Bian membantu Gita. Ia sampai menangis karena Bang Dewa sama sekali tidak memiliki rasa perhatian, sebagai seorang wanita pastinya ada rasa terluka menghadapi sikap Bang Dewa.


Bang Dewa melihat sekilas keadaan Gita, di rasa tak ada yang mengkhawatirkan.. ia pun berangkat menuju ke Batalyon.


...


Matahari sudah sepenggalah naik, ibu dan ayah datang mengunjungi Bian. Mereka selalu menyempatkan diri untuk menjenguk keadaan menantu kesayangan.


Bian segera menyalami mertuanya begitu pula dengan Gita yang menyambut kedua orang tua dari suaminya. Ayah dan ibu begitu hangat dengan Bian namun tidak dengan Gita.


Gita yang tau posisinya hanya sebagai istri kedua segera mundur teratur, ia memilih menyendiri di dapur dan menyiapkan makanan untuk semuanya.


"Nanti nginap disini ya Bu..!!" Pinta Bian.


"Nggak bisa ndhuk, lain kali saja.. ibu ada urusan di luar kota.". Tolak ibu.


"Ayah.. ibu.. makan dulu ya..!! Gita sudah siapkan makan untuk ayah dan ibu." Gita pun bersikap selayaknya seorang menantu.


"Kenapa wajahmu pucat?" Ibu melihat wajah Gita.


"Nggak apa-apa Bu. Gita baik-baik saja."


Bian ingin mengadukan kelakuan Bang Dewa tapi Gita memegang tangan Bian untuk mencegahnya.


"Kamu belum makan?" Tanya ibu meskipun nadanya masih belum selembut saat menyapa Bian.


"Belum Bu." Bian yang menjawab karena Gita sepertinya sedikit takut dengan ayah dan ibu mertuanya.


"Ndhuk.. Bian.. tolong ambilkan makan, biar ibu suapi Gita." Pinta ibu.


"Bagaimana kamu bisa mengurus suamimu kalau lemas begitu." Tegur ayah sambil memainkan ponselnya.


"Iya Bu. Bian ambilkan..!!" Bian pun segera beranjak.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2