
Bang Dewa masih setengah hati. Tangannya hanya menyentuh batang pohon pepaya dan sesekali memukulnya untuk memastikan bahwa pohon tersebut tidak akan roboh saat ia memanjatnya.
Jelas saja dirinya begitu cemas sebab lingkar pohon pepaya tersebut hanya sebesar betisnya.
"Cepat Mas..!!" Punya Gita.
"Duuuhh Tuhan..!! Kalau nggak di turuti istri ngambek, anak ngileran tapi kalau di turuti mata orang-orang pada mengarah kesini. Wibawaku hilang seketika." Gumam Bang Dewa.
Dengan membulatkan tekad, Bang Dewa memanjat pohon pepaya tersebut tapi ternyata......
kreeeekk...
bruuugghhh..
Pohon pepaya tersebut patah dan tumbang hingga ke akar.
"Maaass..!!" Bian dan Gita menjerit bersamaan melihat pohon tersebut tumbang dan patah hingga membuat Bang Dewa merosot jatuh ke lembah di samping bukit kecil.
"Aaawwhh.. pinggangku..!!"
"Daan..!!" Para anggota berlarian menolong Bang Dewa yang sudah terperosok.
:
Gita masih menangisi Bang Dewa yang tidak sadarkan diri tapi tidak dengan Bian yang paham akal bulus suaminya itu.
"Mbak.. Mas Dewo di bawa ke rumah sakit saja ya. Bagaimana kalau Mas Dewo patah tulang atau salah urat." Kata Gita.
"Urat mana yang salah? Biar Mbak saja yang bangunkan Mas Dewo..!!" Bian sedikit meminta agar Gita beralih posisi.
Memang sudah sekitar tiga puluh menit Kapten Dewo tidak juga sadar dan kecemasan Gita semakin menjadi.
"Om.. tolong ambilkan palu..!! Tadi kaki kiri khan yang sakit.. kalau saya buat kaki kanan ikut sakit pasti Mas Dewo bangun karena sakitnya sudah imbang." Kata Bian.
__ADS_1
"Siap Bu..!!"
Tak lama Bang Dewa belaga mengerjab untuk sadar.
"Saya ada dimana?" Tanya Bang Dewa pura-pura bodoh.
"Masih di unit kesehatan kok Mas, belum sampai kamar satu kali dua." Jawab Bian dengan tatapan geram.
Hanya Gita yang kemudian terisak memeluk Bang Dewa. "Gita nggak jadi minta Maaf Dewo manjat. Nggak jadi minta pepaya juga."
Seluruh mata terlihat menghakimi Bang Dewa. Jika kemarin Gita bisa menahan diri, kali ini Gita sungguh menjadi istri yang melow dan sangat mudah menangis.
"Ngidam itu tidak bisa di kontrol Mas. Kenapa Mas jahat sekali..!! Yang di perut itu anaknya Mas Dewo. Nggak kasihan ya Mas sama Gita??" Ucap Bian mengundang seribu tanya dalam hati para anggota.
Tangan Bang Dewa mengusap rambut Gita dengan sayang. "Mas Dewo minta maaf ya Gita..!!"
Beberapa orang anggota saling pandang namun tak di sangka Wadanyon tiba disana.
"Ada penjelasan apa tentang hal ini... Kapten Sadewa??"
Para perwira, perwakilan anggota Bintara dan Tamtama duduk berkumpul di satu ruangan untuk mendapatkan penjelasan tentang kejadian yang terbongkar secara tidak sengaja.
"Apa kamu tidak menyadari bahwa kamu telah menyakiti hati istrimu Wo? Rumormu ini sudah tidak bisa di toleransi." Tegur Wadanyon m
"Siap salah Wadan."
"Saya yang salah." Gita membuka suara.
Bian sudah bersiap untuk membalas ucapan tersebut tapi Gita melarangnya.
"Saya adik Ibu Bian. Saya hadir di kehidupan Ibu Bian dan Kapten Sadewa hanya untuk menyerahkan anak saya untuk di rawat.. Selebihnya tidak ada yang lain."
"Jika benar begitu, lalu anak siapa yang anda kandung Bu Gita?" Tanya Wadanyon.
__ADS_1
"Anak itu adalah........"
"Anak hasil dari perbuatan saya. Tolong jangan menyudutkan Kapten Sadewa lagi. Beliau hanya membantu saya agar dapat tempat yang layak."
"Bukan begitu Dan. Anak itu adalah anak saya..!!!" Kata Bang Dewa di hadapan semua orang.
"Mas, duduklah yang tenang..!!" Gita meminta Bang Dewa untuk duduk.
"Gita mampu mengatasinya. Sudah cukup.. tenanglah..!!" Gita menatap mata Bang Dewa lalu menghapus air matanya.
"Bu Gita, taukah anda bahwa hal ini bisa menimbulkan prasangka pada Kapten Sadewa. Jika memang begitu adanya. Lebih baik anda tidak berada di asrama apalagi anda sedang hamil lagi tanpa suami." Kata Danyon.
"Ya Allah Bang, harus berapa kali saya bilang.. itu anak saya dengan Gita." Kata Bang Dewa tanpa takut.
Tapi berbeda dengan pandangan orang-orang yang menatap Bian tengah menangis. Kemungkinan besar Bian tengah mengalami tekanan batin dalam hidupnya.
"Tolong naikan saja status Gita menjadi istri dari Kapten Sadewa..!!" Pinta Bian.
"Alasannya apa?"
"Karena Gita telah merelakan anaknya untuk kami."
"Bu Bian.. kami tidak bisa mengabulkan semua itu."
"Biar Gita pergi. Jangan permasalahkan ini lagi." Kata Gita.
"Cukup.. semua masalah ini timbul dari saya..!! Saya akan keluar dari satuan tugas..!!" Ucap tegas Bang Dewa.
.
.
.
__ADS_1
.