Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )

Di Ujung Peluru 4 ( Next Generation )
6. Ribut lagi, gelisah lagi.


__ADS_3

'Ya karena kamu istriku. Aku sedang berusaha menata hati dan perasaan untukmu. Hanya demi kamu.'


"Sudahlah, ini sudah sangat malam. Ayo pulang ke rumah. Besok masih ada waktu untuk kita menikmati hari." Ajak Bang Dewa.


Bian menurut. Ia beranjak dari gubug kecil itu kemudian menyusul langkah istri kecilnya. Bang Dewa menerangi perjalanan mereka menggunakan lampu dari ponsel.


Saat sedang berjalan, Bian melangkah di tempat yang licin sampai tak sengaja terpeleset dan saat itu Bang Dewa sigap menangkapnya.


"Hati-hati dek. Licin..!!" Katanya.


Suara Bang Dewa terdengar lebih lembut di telinga, apalagi sapaan 'dek' juga amat sangat jarang di dengarnya.


:


Setelah mencuci kaki dan membersihkan diri, Bang Dewa dan Bian masuk ke dalam kamar. Model bilik bambu namun lumayan hangat dan bisa mengusir hawa dingin dari luar. Kamar tersebut masih terlihat estetik dan modern.


"Naiklah dulu..!!" Bang Dewa mengarahkan Bian agar mengambil tempat di sudut ranjang, seperti kebanyakan pria yang ingin melindungi pasangannya.


Tanpa banyak bicara Bian segera naik ke atas ranjang. Ia melihat selimut hanya ada satu dan itu berarti mereka harus berbagi kain penghangat tubuh.


"Ki_ta tidur di dalam satu selimut Mas?" Tanya Bian ragu. Ia ingin menaikkan nada suaranya tapi cemas jika seisi rumah mendengar suaranya.


"Iya, mau bagaimana lagi. Kita khan suami istri, apa mau pisah ranjang sampai Ayah Ibu tanya?"


"Nggak Mas, ya sudah kita tidur sama-sama." Jawab Bian pasrah tapi dirinya masih diam terpaku melihat Bang Dewa duduk di atas ranjang lebih dulu.


"Kenapa diam saja?" Tegur Bang Dewa.


"Bian mau ganti pakaian tidur." Jawab Bian.


"Ganti saja..!!" Kata Bang Dewa.


"Enak saja. Nanti Mas Dewo ngintip." Tolak Bian.


"Matikan saja lampunya. Mas nggak akan lihat."


Bian menurut saja dan mematikan lampu kamar, ia berharap Bang Dewa tidak lagi bisa melihatnya melepas pakaian tapi Bian lupa bahwa Bang Dewa adalah seorang tentara. Matanya sudah di latih untuk tajam membidik target sasaran.


Dengan jelas Bang Dewa melihat Bian melepas pakaiannya satu persatu dan mengganti segitiga pengaman tanpa mengenakan lagi penyangga dua buah kelapa hijau kemudian menutupnya dengan daster yang baru. Bang Dewa pun tersenyum nakal penuh arti.


***


Tengah malam, angin berhembus sedikit lebih kencang dari biasanya. Bian menggigil kedinginan padahal istri Lettu Sadewa itu sudah memakai selimut yang lumayan tebal.

__ADS_1


Bang Dewa sampai terbangun karena Bian terus saja menggigil. Ia pun merasa kasihan melihat Bian. Istrinya itu mungkin sangat jarang hidup susah atau mungkin memang tidak pernah merasakan susah sama sekali. Hidup sebagai Sekar Kedaton juga putri dari seorang perwira tinggi pasti membuat hidupnya terjamin.


Bang Dewa memeluk Bian dan menghangatkan tubuhnya. Perlahan Bian mulai tenang di dalam pelukannya. Saat itu tak sengaja tangan Bang Dewa menyentuh sesuatu. Hatinya sempat ragu namun batinnya tak bisa di ajak bekerja sama. Tiba-tiba saja bagian tubuhnya menegang merespon sedikit pergesekan antara tubuhnya dan Bian.


Tak tahan dengan perasaannya sendiri, Bang Dewa pun menyerah kalah. Ia berbisik lirih di telinga Bian. "Dek, Mas Dewo boleh nyangkul sawah nggak?"


"Memangnya Mas Dewo bisa? Sawah yang mana?" Tanya Bian di sela kesadarannya yang belum utuh. Matanya masih tertutup.


"Sawahmu. Menurutlah, Mas bisaa.. Bian tidur saja ya. Biar Mas Dewo yang kerja keras." Jawab Bang Dewo.


Bian mengangguk. Rasa kantuk dan tidak pahamnya membuatnya tidak paham maksud dan tujuan suaminya itu.


"Beneran nih dek??" Tanya Bang Dewo lagi.


Bian pun mengangguk lagi. Dengan semangat juang yang tak pernah padam, Bang Dewa melucuti pakaiannya kemudian menurunkan celana pendeknya. Pelan tapi pasti, ia menancapkan pasak menghujam bumi, satu tusuk, dua tusuk membuatnya terbang melayang namun....


"Wooo.. Dewoooo... Ada tikus Wooo.. bantu Ayah...!!!!!!"


Gubraaaakk..


"Dewoooooooo..!!"


Aliran darah di kepala Bang Dewo berhamburan tak tentu arah. Kepalanya pening berputar-putar. Saat itu Bian pun terbangun.


"Maaass, Ayah kenapa tuh????" Pekik Bian.


"Mas Dewo mau apa?? Mau macam-macam sama Bian ya????" Pekik Bian.


Bang Dewa masih berusaha menekan emosi sembari memijat pangkal hidungnya.


"Maaaaass..!!!!!!"


"Diam dulu Biaan, cerewet sekali sih kamu.. kepalaku sakit..!!!" Jawab jujur Bang Dewa.


"Oohh.. jadi Mas Dewo lebih memilih punya istri gagu????"


Ayah dan ibu mendengar perdebatan anak dan menantunya. Keduanya cukup cemas sampai melupakan tikus yang menjadi target mereka.


"Bukan begitu dek." Bang Dewa menyentuh lengan Bian tapi istrinya itu menepisnya. "Maaf, Mas salah."


"Sejak kapan Mas benar?????" Jawab Bian yang tidak sanggup lagi di jawab Bang Dewo.


...

__ADS_1


Bang Dewa merokok sendirian memikirkan keributan semalam. Hatinya masih kesal namun kalah telak dengan kemarahan Bian.


"Bini ngamuk ya?" Ledek Ayah semakin membuat hati Bang Dewa gelisah. "Rayu lah, kamu khan laki-laki."


"Ini bukan saatnya merayu yah. Bian itu sulit di rayu." Kata Bang Dewa.


"Kata siapa? Kau saja yang tidak pintar. Begini ini dulu ayah jadi rebutan para kembang desa." Ucap sang Ayah dengan sombongnya.


"Waahh.. apa sebegitu tampannya ayah?" Tanya Bang Dewa.


"Bukan, mereka berebut dan mati-matian ingin menyingkirkan ayah." Jawab ayah.


Bang Dewa membuang nafas kesal. "Ayaah.. aku nggak mood bercanda."


"Tips merayu wanita adalah.. beri dia bunga, rayu dengan kata-kata cinta, dan jangan lupa.. hujani mereka dengan uang. Itu juga kalau kamu punya sih." Kata ayah namun tetap saja terdengar seperti mengejek.


"Cckk.. aku nggak bisa semua Yah. Pertama.. disini tidak ada bunga, kedua.. aku nggak bisa ngegombal, ketiga.. ayah tau sendiri seberapa gaji tentara." Ucap Bang Dewa.


Ayah tertawa mendengarnya pasalnya ia tau betul apa pekerjaan sang putra. Putra keduanya itu tidak pernah mengumbar harta benda yang di miliki. Tidak ingin juga jatah warisan keluarga yang sebenarnya bisa menjadi miliknya.


"Kalau begitu ada satu cara lagi untuk merayunya."


Kening Bang Dewa berkerut mendengarnya. "Apa yah?"


"Selesaikan dengan kepala dingin. Di ranjang panas."


Seketika Bang Dewa lemas mendengarnya. Saran yang sebenarnya sangat mudah di lakukan pada kenyataannya saat ini amat sangat sulit untuk dilakukan.


"Kenapa?? Jangan bilang kamu nggak mampu ya??" Ayah terus saja berucap yang membuat Bang Dewa begitu jengkel.


'Aahh.. kemarin Bian yang meledekku cuma modal ulat sagu. Sekarang Ayah yang meledekku nggak mampu. Jangan sampai ini ular kebanggaan ngamuk karena terus di ledek.'


"Jadi benar nggak mampu???????"


"Ya Allah Ya Rabb.. Sebenarnya Ayah mau cucu berapa sih??? Kesannya meremehkan sekali." Tantang Bang Dewa.


"Nggak banyak. Setengah lusin aja. Biar rame." Jawab Ayah tanpa rasa bersalah.


"Astaga Yaaahh.. pabriknya bisa jebol. Tekor nih bandar kalau ada perbaikan terus." Gerutu Bang Dewa.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2